Jurnal Pelopor — Pernahkah Anda bertanya-tanya bagaimana seekor kasuari atau ikan kerapu raksasa bisa tetap terlihat segar meski telah dipamerkan selama puluhan, bahkan ratusan tahun? Rahasianya terletak pada teknik konservasi unik yang memadukan prinsip ilmiah dengan ketelitian tinggi.
Di balik etalase kaca Museum Zoologi Bogor (Museum Zoologicum Bogoriense) yang dibuka sejak 1894, tersembunyi metode pelestarian spesimen yang sangat cermat. Hasan, seorang pemandu senior di museum tersebut, mengungkapkan bahwa merawat koleksi satwa yang diawetkan ternyata memiliki kemiripan dengan merawat barang berbahan kulit.
Menurut Hasan, debu merupakan ancaman terbesar bagi spesimen asli (nonreplika) sehingga pembersihan rutin sangat diperlukan. “Debu-debunya dibersihkan, kemudian diberi semir kulit agar tetap terjaga. Jika muncul jamur, terutama saat musim hujan, kami membersihkannya menggunakan kuas dan alkohol pada bagian yang terdampak saja,” ujar Hasan kepada detikTravel, Selasa (13/5/2026).
Untuk kerangka paus yang menjadi ikon museum, proses pembersihan dilakukan menggunakan penyedot debu, lalu dilanjutkan dengan pemolesan untuk menjaga kilaunya. Beruntung, paus memiliki lapisan alami yang mencegah debu masuk ke pori-pori tulang sehingga mempermudah perawatan.
Teknik Pengisian Tubuh dan Mata Replika
Salah satu detail menarik dalam proses taksidermi atau pengawetan hewan adalah pengisian rongga tubuh. Untuk mencegah pembusukan, seluruh daging dan organ dalam hewan harus diangkat terlebih dahulu. “Sebagai pengganti daging, kami menggunakan sabut kelapa atau kapas di dalamnya,” kata Hasan.
Selain itu, bagian mata yang tampak berkilau tajam sebenarnya merupakan replika yang terbuat dari resin atau kelereng, bergantung pada ukuran hewan tersebut. Namun, bagian asli seperti paruh, sayap, dan bulu tetap dipertahankan untuk menjaga keaslian fisik satwa.
Prosedur Khusus untuk Serangga
Berbeda dengan mamalia besar, serangga seperti kumbang dan kupu-kupu menjalani prosedur yang lebih sederhana namun sangat mendetail. Alih-alih mengeluarkan organ dalam, tim konservasi menyuntikkan alkohol 70 persen ke dalam bagian perut atau abdomen serangga.
Proses ini membutuhkan kehati-hatian ekstra agar warna sayap tidak pudar atau rusak. Tim menggunakan pinset untuk merentangkan sayap di atas papan perentang, lalu menjepitnya dengan kertas wajik sebelum menusukkan jarum khusus serangga yang antikarat. Jarum ini mampu bertahan hingga puluhan tahun tanpa mengalami korupsi logam.
Sejarah Singkat dan Informasi Kunjungan
Museum Zoologi Bogor berdiri di atas lahan seluas 1.500 meter persegi. Tempat ini didirikan pada tahun 1894 oleh Dr. J.C. Koningsberger, seorang ilmuwan asal Jerman. Awalnya, bangunan ini berfungsi sebagai laboratorium hama sebelum akhirnya berkembang menjadi salah satu museum zoologi terlengkap di Asia Tenggara.
Bagi masyarakat yang ingin berkunjung, berikut adalah informasi operasional Museum Zoologi Bogor:
-
Lokasi: Area Kebun Raya Bogor, Jawa Barat.
-
Jam Operasional:
-
Senin–Jumat: 08.00–16.00 WIB.
-
Sabtu, Minggu, dan Libur Nasional: 07.00–16.00 WIB.
-
-
Harga Tiket:
-
Senin–Jumat: Rp15.000 per orang.
-
Sabtu, Minggu, dan Libur Nasional: Rp25.000 per orang.
-
Baca Juga:
Wow! Negara Komunis Ini Naikkan Tunjangan Guru Sampai 70%
Tren Baru! Brave Pink Hero Green Ramai Dipakai di Medsos
Saksikan berita lainnya:
https://youtu.be/Jg8rOFS8ahc?si=X_ER38dgG4saCX_v







