Jurnal Pelopor — Malaysia resmi memangkas kuota BBM subsidi jenis RON 95. Mulai 1 April 2026, batas konsumsi turun dari 300 liter menjadi 200 liter per bulan.
Meski kuota dipangkas, harga tetap tidak berubah. Pemerintah mempertahankan harga di RM 1,99 per liter atau sekitar Rp 8.400. Artinya, masyarakat masih menikmati BBM murah, tetapi dengan batas penggunaan yang lebih ketat.
Strategi Tekan Beban Subsidi
Langkah ini diambil di tengah lonjakan harga minyak global akibat konflik di Timur Tengah. Beban subsidi energi diperkirakan bisa menembus RM 24 miliar tahun ini, sehingga pemerintah perlu mengendalikan pengeluaran.
Menurut ekonom, pemangkasan kuota menjadi cara yang lebih “halus” dibanding langsung menaikkan harga. Dengan begitu, pemerintah tetap bisa menjaga stabilitas sosial sekaligus mengontrol anggaran negara.
Mayoritas Warga Tetap Aman
Menariknya, sekitar 90% konsumen disebut menggunakan BBM di bawah 200 liter per bulan. Artinya, sebagian besar masyarakat tidak akan terdampak langsung oleh kebijakan ini.
Namun, bagi pengguna dengan konsumsi tinggi, mereka harus membayar harga pasar jika melewati batas. Di sinilah pemerintah berharap terjadi perubahan perilaku konsumsi energi.
Sinyal Krisis Energi Global
Kebijakan Malaysia ini juga menjadi sinyal bahwa tekanan global semakin terasa. Banyak negara mulai menyesuaikan kebijakan energi untuk menghadapi ketidakpastian pasokan dan harga minyak.
Pada akhirnya, langkah ini bukan hanya soal penghematan, tetapi juga strategi bertahan di tengah gejolak geopolitik. Menurutmu, kebijakan seperti ini lebih adil dibanding menaikkan harga BBM secara langsung?
Baca Juga:
Wow! Negara Komunis Ini Naikkan Tunjangan Guru Sampai 70%
Tren Baru! Brave Pink Hero Green Ramai Dipakai di Medsos
Saksikan berita lainnya:







