Jurnal Pelopor – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mengambil langkah berani dengan mengajukan pinjaman daerah sebesar Rp2 triliun kepada Bank BJB. Langkah ini diambil untuk menyelamatkan sejumlah proyek infrastruktur strategis di tengah kondisi keuangan provinsi yang sedang tertekan hebat.
Berikut adalah poin-poin utama terkait kebijakan fiskal Jawa Barat per Februari 2026:
1. Alasan Utama: “Kehilangan Fiskal” Rp3 Triliun
Keputusan meminjam uang ini bukan tanpa alasan. Dedi mengungkapkan bahwa Pemerintah Provinsi Jawa Barat sedang menghadapi tantangan anggaran yang serius:
-
Pemotongan Dana Pusat: Dana transfer dari pemerintah pusat ke daerah berkurang drastis sebesar Rp2,458 triliun.
-
Defisit Fiskal: Secara total, Pemprov Jabar mengalami kehilangan kemampuan belanja (fiskal) mencapai hampir Rp3 triliun.
2. Fokus Infrastruktur: Solusi Kemacetan Cimahi & Padalarang
Dana pinjaman tersebut akan dialokasikan khusus untuk proyek-proyek besar yang dianggap mendesak bagi mobilitas warga, antara lain:
-
Underpass di Kota Cimahi: Ditargetkan untuk mengurai kemacetan kronis di wilayah tersebut.
-
Pembangunan Jembatan Layang (Flyover): Melanjutkan proyek-proyek penghubung antarwilayah.
-
Jalan Baru Padalarang: Pemprov akan memulai pembebasan lahan pada April 2026 untuk jalur penghubung Terminal Whoosh (Kereta Cepat) melingkar ke Kota Baru Parahyangan hingga Cipatat.
3. Komitmen Pelunasan: “Tidak Wariskan Utang”
Salah satu poin penting dalam pengajuan pinjaman ini adalah batasan waktu pelunasannya. Dedi Mulyadi menegaskan prinsip akuntabilitas agar tidak membebani gubernur periode berikutnya:
-
Target Lunas 2030: Seluruh cicilan ditargetkan selesai maksimal pada tahun 2030.
-
Masa Jabatan: Pinjaman hanya berlaku selama ia memimpin. “Tidak boleh lebih,” tegas Dedi di Gedung Sate (26/2/2026).
Ringkasan Rencana Pinjaman & Proyek Jabar 2026
| Komponen | Detail Informasi |
| Nilai Pinjaman | Rp2 Triliun |
| Sumber Dana | PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk (Bank BJB) |
| Penyebab Utama | Penurunan dana transfer pusat sebesar Rp2,458 Triliun |
| Proyek Utama | Underpass Cimahi, Flyover, dan Akses Terminal Whoosh |
| Target Pelunasan | Tahun 2030 |
Langkah Dedi Mulyadi ini merupakan strategi counter-cyclical untuk menjaga pertumbuhan ekonomi daerah melalui pembangunan fisik di saat pendapatan daerah menurun. Dengan mengunci masa pelunasan di tahun 2030, ia berupaya menunjukkan etika politik agar pembangunan infrastruktur tidak meninggalkan beban finansial berkepanjangan bagi penerusnya.
Baca Juga:
Wow! Negara Komunis Ini Naikkan Tunjangan Guru Sampai 70%
Tren Baru! Brave Pink Hero Green Ramai Dipakai di Medsos
Saksikan berita lainnya:







