Jurnal Pelopor – Kekalahan telak 0-7 yang diderita Timnas Indonesia U-17 saat menjamu China U-17 dalam laga uji coba di Indomilk Arena, Minggu (8/2/2026), memicu kritik tajam. Raja Isa bin Raja Akram Shah, pengamat sepak bola asal Malaysia yang lama berkarier di Indonesia, menyebut hasil memilukan ini sebagai cerminan buruknya kualitas teknik dasar pemain muda di tanah air.
Menurut Raja Isa, masalah utama Garuda Muda bukan terletak pada strategi, melainkan pada hal fundamental: passing dan kontrol bola.
Penyakit Umum di Asia Tenggara
Raja Isa menjelaskan bahwa kelemahan teknik dasar sebenarnya merupakan masalah kolektif di kawasan ASEAN. Namun, ia mencatat beberapa negara tetangga sudah mulai menunjukkan kemajuan karena fokus pada pembinaan akar rumput (grassroots).
-
Thailand & Vietnam: Fokus pada sistem ball mastery dan small sided game.
-
Filipina: Mulai menerapkan pengembangan pemuda yang lebih terstruktur.
-
Kamboja: Mulai berkiblat pada budaya sepak bola Jepang yang disiplin secara teknik.
“Kalau untuk teknik dasar passing dan kontrol bola itu bukan Indonesia saja yang kualitasnya buruk. Beberapa negara ASEAN punya masalah sama. Indonesia harus fokus bagaimana membina pemain usia dini,” tegas mantan pelatih PSM Makassar tersebut.
Bahaya Fase Transisi Usia 17 Tahun
Raja Isa menyoroti bahwa usia 17 tahun adalah masa kritis transisi dari remaja ke dewasa. Ia memperingatkan PSSI dan para pemangku kepentingan agar tidak “lepas kontrol” seperti yang terjadi pada generasi emas era Evan Dimas, di mana banyak pemain berbakat yang meredup saat memasuki level senior.
Faktor kegagalan pemain muda Indonesia bertahan hingga puncak karier menurutnya disebabkan oleh:
-
Kurangnya Bimbingan: Perubahan jiwa menuju dewasa butuh arahan kuat dari lingkungan dan pelatih.
-
Atmosfer Sepak Bola: Lingkungan pergaulan yang sering kali menjauhkan pemain dari disiplin atlet profesional.
-
Ketidakkonsistenan Stakeholder: Program pembinaan yang sering terputus di tengah jalan.
Rekomendasi: Standarisasi SSB di Seluruh Indonesia
Sebagai solusi, Raja Isa menyarankan agar PSSI memberlakukan kontrol ketat terhadap Sekolah Sepak Bola (SSB) di seluruh daerah. Ia mengusulkan adanya metode latihan yang seragam yang fokus sepenuhnya pada penguatan teknik dasar sebelum berlanjut ke pemahaman taktik.
“SSB wajib dikontrol untuk memastikan semua menjalankan program latihan yang sama. Fokus dulu pada teknik dasar. Sepak bola harus diurus orang yang punya passion kuat. Boleh komersial, tapi programnya harus benar-benar bagus,” pungkasnya.
Kekalahan 0-7 ini menjadi alarm keras bagi tim kepelatihan yang kini mulai beralih dari Nova Arianto ke Kurniawan Dwi Yulianto untuk menghadapi tantangan Piala AFF U-17 dan Piala Asia U-17 2026 mendatang.
Sumber: Bola.com
Baca Juga:
Wow! Negara Komunis Ini Naikkan Tunjangan Guru Sampai 70%
Tren Baru! Brave Pink Hero Green Ramai Dipakai di Medsos
Saksikan berita lainnya:







