Jurnal Pelopor – Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) membantah keras anggapan bahwa kenaikan harga telur ayam ras disebabkan oleh tingginya permintaan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia menegaskan, hingga saat ini harga telur masih berada dalam kondisi stabil dan terkendali.
Pernyataan itu disampaikan Zulhas saat meninjau kondisi pasar di Pasar Kramat Jati, Jakarta Timur, pada Senin (29/12/2025). Menurutnya, tidak ada lonjakan permintaan telur yang signifikan akibat pelaksanaan program MBG.
“(Harga telur) stabil, harganya sama saja. Kan diatur,” ujar Zulhas di hadapan awak media.
Skema MBG Diatur Bergiliran
Zulhas menjelaskan, kebutuhan bahan pangan dalam program Makan Bergizi Gratis tidak hanya bertumpu pada satu komoditas. Pemerintah menerapkan skema pengaturan menu secara bergiliran, sehingga permintaan tidak menumpuk pada satu jenis pangan dalam waktu bersamaan.
Dalam praktiknya, menu MBG disusun dengan variasi sumber protein. Telur, ikan, ayam, hingga daging digunakan secara bergantian. Pola ini bertujuan menjaga keseimbangan antara pasokan dan permintaan di pasar.
“Telur hari ini, besok ikan, besok ayam, besok lagi daging,” jelas Zulhas.
Dengan sistem tersebut, pemerintah memastikan tidak ada komoditas yang mengalami lonjakan permintaan mendadak. Langkah ini juga dinilai efektif untuk mencegah gejolak harga di tingkat konsumen.
Pemerintah Pantau Harga Pangan Strategis
Lebih lanjut, Zulhas menegaskan bahwa pemerintah terus melakukan pemantauan terhadap harga pangan strategis. Telur ayam ras termasuk salah satu komoditas yang diawasi secara ketat karena perannya sebagai sumber protein utama masyarakat.
Menurutnya, stabilitas harga pangan menjadi prioritas, terutama menjelang pergantian tahun yang biasanya diiringi peningkatan konsumsi. Pemerintah ingin memastikan program bantuan pangan tetap berjalan tanpa menimbulkan efek samping berupa kenaikan harga di pasar.
Ia juga menegaskan bahwa distribusi pangan nasional sejauh ini berjalan lancar. Stok tersedia dengan cukup dan tidak ada hambatan signifikan dalam rantai pasok.
Data Kebutuhan Telur Nasional
Berdasarkan data Badan Pangan, kebutuhan konsumsi telur ayam ras di Indonesia dalam satu tahun diperkirakan mencapai 6,487 juta ton. Dari jumlah tersebut, kebutuhan untuk program MBG hanya sekitar 1,96 persen atau setara 127,3 ribu ton.
Angka itu menunjukkan bahwa kontribusi MBG terhadap total konsumsi telur nasional relatif kecil. Dengan porsi tersebut, pemerintah menilai kecil kemungkinan program MBG menjadi pemicu utama kenaikan harga telur.
Sementara itu, hingga 24 Desember 2025, rata-rata harga telur ayam ras tercatat berada di kisaran Rp31.595 per kilogram. Pemerintah menilai harga tersebut masih berada dalam rentang wajar dan stabil.
Komitmen Jaga Stabilitas Harga
Zulhas menegaskan, pemerintah berkomitmen menjaga keseimbangan antara pelaksanaan program sosial dan stabilitas ekonomi. Program Makan Bergizi Gratis tetap menjadi prioritas nasional, namun pelaksanaannya dirancang agar tidak mengganggu mekanisme pasar.
Dengan pengaturan menu yang fleksibel, pemantauan harga yang ketat, serta distribusi pangan yang terjaga, pemerintah optimistis kebutuhan gizi masyarakat dapat terpenuhi tanpa membebani konsumen.
“Yang terpenting, masyarakat tetap bisa membeli bahan pangan dengan harga terjangkau,” tutup Zulhas.
Sumber: CNN Indonesia
Baca Juga:
Wow! Negara Komunis Ini Naikkan Tunjangan Guru Sampai 70%
Tren Baru! Brave Pink Hero Green Ramai Dipakai di Medsos
Saksikan berita lainnya:







