Jurnal Pelopor – Bojonegoro bersiap menjadi pusat perhatian pecinta budaya dan batik pada pertengahan Juni ini. Pemerintah Kabupaten Bojonegoro resmi mengalokasikan dana sekitar Rp 3 miliar untuk menyukseskan gelaran akbar Wastra Batik Festival 2025, yang akan diadakan selama empat hari, mulai 18 hingga 21 Juni 2025, di kawasan Alun-Alun Bojonegoro.
Festival yang mengangkat warisan budaya lokal ini tidak hanya berisi pameran batik, melainkan juga dirancang lebih semarak dengan menggabungkan dua agenda besar lainnya: Pemilihan Kange Yune Bojonegoro 2025 dan lomba desain batik bagi desainer muda. Ini menjadi bentuk efisiensi anggaran sekaligus memperkaya isi kegiatan. Semua agenda dipusatkan dalam satu panggung besar untuk mendorong efektivitas pelaksanaan sekaligus dampak yang lebih luas.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bojonegoro, Welly Fitrama, menyebut acara ini merupakan kelanjutan dari penyelenggaraan perdana tahun sebelumnya. Namun, untuk edisi 2025 ini, formatnya diperluas.
“Kami ingin batik Bojonegoro semakin dikenal, tidak hanya di lingkup lokal, tapi juga menjadi bagian referensi batik nasional. Maka, skala acara ditingkatkan dengan melibatkan lebih banyak daerah dan pelaku seni,” kata Welly.
Ia menjelaskan bahwa anggaran Rp 3 miliar tersebut mencakup berbagai kebutuhan, seperti dekorasi dan stan pameran, pelaksanaan lomba desain batik, hingga panggung pemilihan duta wisata Kange Yune. Sebelumnya, jika dilaksanakan terpisah, kebutuhan dananya bahkan mencapai total lebih dari Rp 4,7 miliar. Namun, dengan strategi efisiensi, seluruh kegiatan berhasil dirangkum menjadi satu paket kegiatan seni dan budaya.
Kolaborasi Regional dan Harapan Ekonomi
Yang menarik, festival ini akan menghadirkan partisipasi dari 38 kabupaten/kota se-Jawa Timur, serta menjalin kolaborasi lintas daerah dengan pelaku seni batik dari Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Kerja sama ini terwujud melalui dukungan dari Dekranasda (Dewan Kerajinan Nasional Daerah) sebagai mitra utama pelaksanaan.
“Tujuan utama kami bukan hanya memamerkan batik Bojonegoro, tetapi juga membuka ruang dialog budaya antar-daerah, memperkuat jejaring perajin, dan mempertemukan pembeli potensial dengan pembuat karya batik langsung,” imbuh Welly.
Tak hanya aspek budaya, dampak ekonomi dari festival ini juga menjadi perhatian utama pemerintah daerah. Dengan ribuan pengunjung yang diperkirakan hadir, berbagai sektor ekonomi lokal seperti pedagang kaki lima, pengusaha kuliner, penginapan, hotel, dan transportasi lokal diharapkan mengalami peningkatan omzet. Welly menegaskan,
“Kami ingin agar masyarakat sekitar alun-alun hingga pelaku usaha kecil bisa merasakan manfaat langsung dari perputaran uang selama festival berlangsung.”
Ruang Kreatif untuk Generasi Muda
Wastra Batik Festival 2025 juga menjadi panggung bagi generasi muda menampilkan kreativitasnya dalam merancang motif dan desain busana berbasis batik. Lewat lomba desainer muda, pemerintah memberi ruang ekspresi sekaligus mendorong regenerasi dalam dunia industri batik.
Desain-desain terbaik akan ditampilkan dalam peragaan busana yang menjadi salah satu agenda utama festival. Bahkan, beberapa karya terpilih berpotensi dikembangkan lebih lanjut untuk pasar komersial maupun koleksi daerah.
Dengan perpaduan antara warisan budaya, semangat muda, dan penguatan ekonomi lokal, Wastra Batik Festival 2025 diharapkan tidak hanya menjadi acara tahunan biasa, melainkan juga ikon kebudayaan Bojonegoro yang dapat mendunia.
Sumber: Kabar Bojonegoro
Baca Juga:
Singonoyo Cup Meledak! Legenda Persibo Turun Gunung
DPP BKPRMI Dorong Pemerintah Lebih Perhatikan Kesejahteraan Guru Ngaji
DPP BKPRMI Dorong Pemerintah Lebih Perhatikan Kesejahteraan Guru Ngaji
Saksikan berita lainnya:
Demo Besar Tolak Revisi UU TNI: Apa Dampaknya bagi Demokrasi Indonesia?







