Jurnal Pelopor – Pemerintah Presiden Prabowo Subianto mendapat pujian dari kalangan akademisi, khususnya dari Universitas Indonesia, atas langkah pemberian subsidi diskon tarif listrik dan tiket pesawat yang dinilai tepat sasaran. Program ini dipandang sebagai upaya menjaga daya beli dan mencegah “kemerosotan” kelompok kelas menengah ke jurang kemiskinan.
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI, Prof. Telisa Aulia Falianty, menyampaikan dalam forum CNBC Indonesia Economic Update 2025 bahwa program-program tersebut mampu menjadi “bantalan ekonomi” di tengah ancaman ketidakpastian global.
“Sekarang banyak stimulus untuk menjaga kelas menengah. Diskon listrik, diskon tiket, bantuan subsidi upah itu semua contoh bagaimana negara melindungi konsumsi dari kelompok penting ini,” ujar Telisa di Hotel Borobudur, Jakarta (18/6/2025).
Ia menegaskan bahwa kelas menengah adalah segmen vital dalam struktur ekonomi Indonesia. Ketika daya beli kelompok ini turun, maka konsumsi nasional yang menyumbang lebih dari 50 persen PDB Indonesia akan ikut goyah. Oleh sebab itu, strategi pemerintah memberikan subsidi ke segmen ini dinilai sebagai langkah antisipatif yang adaptif terhadap dinamika ekonomi.
Kelas Menengah Mulai Tertekan
Data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan penurunan signifikan dalam jumlah penduduk kelas menengah. Pada 2019, jumlah kelas menengah mencapai 21,45% dari populasi, namun merosot menjadi 17,44% atau 47,85 juta jiwa pada 2024. Sebaliknya, jumlah kelompok rentan miskin meningkat drastis dari 54,97 juta menjadi 67,69 juta orang dalam periode yang sama.
Kondisi ini menandakan adanya tekanan nyata yang dialami masyarakat menengah akibat inflasi, fluktuasi harga pangan dan energi, serta efek domino dari perlambatan ekonomi global.
APBN Jadi Perisai: Counter-Cyclical & Adaptive Learning
Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF), Febrio Kacaribu, turut menyampaikan bahwa strategi fiskal Indonesia berfungsi sebagai penahan guncangan (shock absorber). Pemerintah tetap menjaga belanja negara tinggi, terutama di bidang sosial dan infrastruktur dasar, meski penerimaan pajak melemah akibat perlambatan ekonomi.
“Global memang cukup menantang. Tapi APBN kita siapkan agar tetap kuat dan bisa membantu rakyat agar tidak terdampak signifikan dari ketidakpastian tersebut,” ujarnya.
Febrio menyebut dua pilar utama ketahanan nasional saat ini adalah ketahanan pangan dan energi, yang juga menjadi prioritas dalam alokasi anggaran.
Harapan Kelas Menengah Naik Lagi
Pemerintah juga disebut sedang mengkaji perluasan batas bantuan subsidi upah, yang sebelumnya hanya menyasar pekerja bergaji maksimal Rp3,5 juta. Ada harapan bahwa bantuan ini akan menjangkau segmen dengan gaji hingga Rp5 juta atau lebih seiring waktu dan kebutuhan.
Telisa menekankan, pemerintah sudah mulai menunjukkan “adaptive learning” yakni proses belajar dari krisis-krisis sebelumnya, seperti pandemi, agar tidak mengulangi kesalahan dan bisa menyesuaikan diri dengan cepat dalam mengelola ekonomi.
Kesimpulan:
Langkah pemerintah memberikan subsidi langsung seperti diskon listrik dan tiket pesawat dinilai bukan populisme semata, melainkan strategi bertahan agar kelompok kelas menengah tidak jatuh miskin. Di tengah ekonomi dunia yang gonjang-ganjing, mitigasi dan subsidi bertarget adalah kunci menjaga keseimbangan domestik.
Sumber: CNBC Indonesia
Baca Juga:
Singonoyo Cup Meledak! Legenda Persibo Turun Gunung
Takut Ekonomi Ambruk? Ini Aset Aman Selain Emas
Saksikan berita lainnya:







