Jurnal Pelopor – Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, mengakui bahwa Indonesia masih tertinggal dari sejumlah negara Asia seperti Vietnam dan Jepang dalam industri kelautan dan perikanan. Padahal, potensi sumber daya laut Indonesia sangat besar.
Dalam Sarasehan 100 Ekonom Indonesia di Menara Bank Mega, Jakarta, Selasa (28/10/2025), Trenggono menjelaskan bahwa produksi perikanan nasional mencapai sekitar 13 juta ton per tahun gabungan dari hasil tangkapan laut sebanyak 7,5 juta ton dan hasil budidaya sekitar 5,5 juta ton. Ditambah lagi, Indonesia mampu memproduksi hingga 10 juta ton rumput laut setiap tahun.
Namun, angka besar tersebut belum mampu mengangkat kontribusi sektor perikanan terhadap ekonomi nasional. Saat ini, sektor kelautan dan perikanan baru menyumbang 2,59% terhadap PDB, dengan nilai ekspor sekitar US$ 5,5 miliar per tahun.
“Angka itu memang belum maksimal. Ekspor kita masih didominasi udang, rumput laut, tuna, sotong, dan gurita. Tapi dibandingkan negara lain, kita masih tertinggal,” ujar Trenggono.
Kalah dari Norwegia, Jepang, hingga Vietnam
Trenggono menyebut bahwa pasar global seafood saat ini bernilai hingga US$ 414 miliar, dan Indonesia belum mampu bersaing secara optimal di dalamnya. Negara seperti Norwegia berhasil menjadi pemimpin dunia lewat produk salmon, sementara Thailand bahkan punya perusahaan perikanan dengan valuasi mencapai US$ 5 miliar.
“Saya pernah ketemu pengusaha perikanan terbesar di Brazil. Di Indonesia belum ada satu pun perusahaan perikanan yang valuasinya tembus US$ 1 miliar,” ungkapnya.
Lebih jauh, ia menyoroti bahwa Vietnam menjadi contoh sukses negara dengan strategi budidaya yang terencana.
“Vietnam itu budidaya 25 juta ton, tangkapan lautnya cuma 3 juta. Tapi ekspornya mendominasi Timur Tengah. Sementara Indonesia, nol,” katanya dengan nada tegas.
Belajar dari Norwegia dan Jepang
Trenggono menuturkan, saat kunjungannya ke Norwegia, ia melihat kunci sukses industri perikanan di sana adalah penguasaan teknologi budidaya dan riset ikan sejak dini. Negara tersebut mampu mengidentifikasi kualitas ikan dari kecil hingga siap konsumsi, termasuk menjaga kadar nutrisi dan keamanan pangan lautnya.
Hal ini juga menjadi keunggulan Jepang dan Vietnam, yang sukses mengintegrasikan riset, teknologi, dan industri.
“Padahal kita lautnya jauh lebih luas. Tapi Jepang masih unggul dalam teknologi dan sistem,” ucapnya.
Janji KKP untuk Berbenah
Meski mengakui ketertinggalan itu, Trenggono menegaskan bahwa Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus berkomitmen memperkuat budidaya laut, pesisir, dan darat secara berkelanjutan.
Menurutnya, jika Indonesia mampu mengembangkan sistem budidaya modern dalam 10–15 tahun mendatang, maka potensi ekonomi biru bisa menjadi sumber kekuatan ekonomi nasional.
“Kalau kita bisa perkuat budidaya, itu akan jadi kompetensi inti kita untuk bersaing dengan negara lain,” tegasnya.
Menuju Ekonomi Biru yang Kompetitif
Trenggono menutup paparannya dengan optimisme. Ia yakin Indonesia mampu bangkit jika semua pihak bersinergi dalam membangun industri perikanan berbasis teknologi dan efisiensi.
“Laut kita luas, sumber daya kita besar. Tapi tanpa pembenahan dan inovasi, kita akan terus tertinggal. Saatnya Indonesia jadi pemain utama di ekonomi biru,” pungkasnya.
Sumber: CNBC Indonesia
Baca Juga:
Wow! Negara Komunis Ini Naikkan Tunjangan Guru Sampai 70%
Tren Baru! Brave Pink Hero Green Ramai Dipakai di Medsos
Saksikan berita lainnya:







