Jurnal Pelopor – Tragedi memilukan kembali melanda perairan Yunani. Sebuah kapal yang membawa puluhan migran tenggelam di selatan Pulau Kreta pada Selasa (11/11/2025) waktu setempat. Dalam insiden itu, tiga orang dilaporkan tewas, sementara 56 penumpang lainnya berhasil diselamatkan oleh otoritas setempat.
“Sebanyak 56 orang berhasil diselamatkan, namun tiga jenazah ditemukan di lokasi kejadian,” kata juru bicara penjaga pantai Yunani kepada AFP, Rabu (12/11/2025).
Kapal tersebut karam di sekitar pulau kecil Gavdos, sebuah titik rawan yang kerap menjadi jalur migrasi ilegal dari Libya menuju Eropa. Saat insiden terjadi, cuaca dilaporkan buruk dengan angin kencang dan ombak tinggi yang memperburuk situasi.
Operasi Penyelamatan di Tengah Cuaca Buruk
Otoritas Yunani langsung mengerahkan kapal penjaga pantai, helikopter, dan armada Frontex, lembaga penjaga perbatasan Uni Eropa, untuk melakukan pencarian korban yang masih hilang.
Meski kondisi laut tidak bersahabat, tim SAR tetap berjuang menyisir perairan Kreta selatan untuk menemukan korban lain yang kemungkinan masih terapung.
Hingga kini, pihak berwenang belum memastikan jumlah pasti penumpang dalam kapal nahas itu. Namun, laporan awal menyebut kapal tersebut mengangkut lebih dari 60 orang yang berusaha menyeberang ke Eropa untuk mencari kehidupan yang lebih baik.
Gavdos, Jalur Maut Menuju Eropa
Pulau kecil Gavdos dikenal sebagai “gerbang maut” bagi para migran yang menempuh jalur penyelundupan dari Afrika Utara. Jalur ini sangat berbahaya karena kondisi cuaca ekstrem dan kapal-kapal kecil yang digunakan biasanya tidak layak laut.
Ironisnya, hanya sehari sebelum kejadian, otoritas Yunani juga telah mencegat kapal lain berisi 28 migran di wilayah yang sama. Hal ini menegaskan bahwa arus migrasi ilegal melalui Laut Mediterania terus meningkat meskipun risikonya sangat tinggi.
Data Kemanusiaan yang Mengguncang
Menurut data Badan Pengungsi PBB (UNHCR), lebih dari 1.700 migran telah tewas atau hilang di jalur Mediterania dan Afrika Barat-Atlantik sepanjang tahun 2025. Angka tersebut mencerminkan betapa mematikannya perjalanan para pencari suaka menuju Eropa.
Bagi banyak migran, risiko tenggelam di laut bukan lagi halangan, melainkan satu-satunya pilihan untuk keluar dari kemiskinan, perang, atau penindasan di negara asal mereka.
Refleksi: Antara Harapan dan Keputusasaan
Tragedi di Laut Kreta kembali membuka mata dunia bahwa krisis kemanusiaan di jalur migrasi Eropa belum berakhir. Di tengah ombak dan badai, mereka mempertaruhkan nyawa demi secercah harapan di benua yang dianggap menjanjikan masa depan.
Sumber: CNBC Indonesia
Baca Juga:
Wow! Negara Komunis Ini Naikkan Tunjangan Guru Sampai 70%
Tren Baru! Brave Pink Hero Green Ramai Dipakai di Medsos
Saksikan berita lainnya:







