Jurnal Pelopor — Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali mengguncang dunia teknologi dengan pernyataannya bahwa Washington dan Beijing hampir mencapai kesepakatan penting terkait divestasi TikTok. Menurut Trump, kedua negara hanya tinggal selangkah lagi menyelesaikan negosiasi yang memungkinkan platform populer asal China itu beralih kepemilikan mayoritas ke tangan investor Amerika.
Klaim Trump dan Sikap Xi Jinping
Dalam pernyataan resminya, Trump mengaku optimistis bahwa divestasi TikTok akan segera rampung. “Semua sedang dibahas. Kita akan memiliki kendali yang sangat baik,” ujarnya ketika ditanya soal kendali atas algoritma TikTok.
Trump menegaskan bahwa konsorsium investor AS, yang terdiri dari nama-nama besar di dunia venture capital dan private equity, akan memegang mayoritas saham. Meski begitu, ia enggan mengonfirmasi apakah AS akan benar-benar mendapatkan kontrol penuh atas algoritma aplikasi tersebut, yang selama ini dianggap sebagai jantung dari kesuksesan TikTok.
Sementara itu, Presiden China Xi Jinping menegaskan bahwa Beijing menghormati keputusan bisnis dan mendukung negosiasi yang sesuai aturan pasar serta hukum nasional. Xi berpesan agar kesepakatan tidak hanya menguntungkan secara ekonomi, tetapi juga selaras dengan regulasi yang berlaku di China.
ByteDance Angkat Bicara
ByteDance, perusahaan induk TikTok, ikut memberikan pernyataan resmi. “Kami berterima kasih kepada Presiden Xi Jinping dan Presiden Donald Trump atas upaya mereka mempertahankan TikTok di AS,” kata juru bicara ByteDance. Perusahaan menambahkan bahwa mereka akan mematuhi seluruh regulasi untuk memastikan TikTok tetap bisa diakses oleh ratusan juta pengguna di Amerika.
Investor Baru dan Struktur Kepemilikan
Mengutip laporan media internasional, beberapa nama besar diperkirakan akan terlibat dalam konsorsium baru, antara lain Oracle, Andreessen Horowitz, dan Silver Lake. Investor AS akan memegang sekitar 80 persen saham, sementara 20 persen sisanya tetap dipegang oleh pihak China.
Konsorsium ini nantinya akan dikendalikan oleh dewan direksi mayoritas warga AS, termasuk satu kursi khusus yang ditunjuk langsung oleh pemerintahan Trump. Skema ini disebut-sebut akan menjadi kompromi agar TikTok tetap beroperasi di Negeri Paman Sam tanpa menyalahi regulasi keamanan nasional.
Polemik Algoritma TikTok
Meski kesepakatan hampir final, titik paling krusial justru ada pada algoritma TikTok. Washington menilai algoritma tersebut bisa menjadi alat manipulasi opini publik atau bahkan sarana spionase. Itulah sebabnya AS mendesak agar algoritma sepenuhnya berada di bawah kendali pihak Amerika.
Namun, China menolak keras menyerahkan kendali algoritma. Pasalnya, algoritma dianggap sebagai “harta intelektual” paling berharga yang dimiliki ByteDance, sekaligus kunci di balik popularitas TikTok secara global. Perbedaan pandangan inilah yang membuat perundingan semakin rumit.
Pertemuan APEC Jadi Penentu
Trump dan Xi dijadwalkan bertemu langsung dalam KTT APEC di Korea Selatan bulan depan. Banyak pihak memprediksi, detail teknis terkait divestasi TikTok akan diumumkan seusai pertemuan tersebut. Bahkan, Trump dikabarkan akan melakukan kunjungan resmi ke China pada awal tahun depan, dengan TikTok sebagai salah satu agenda utama pembicaraan bilateral.
Taruhan Besar bagi AS-China
Kasus TikTok bukan hanya soal kepemilikan perusahaan, melainkan juga simbol perang teknologi dan persaingan geopolitik antara dua raksasa dunia. Bagi Trump, keberhasilan mengamankan TikTok dari kendali China akan menjadi “kartu politik” penting menjelang pemilu. Sedangkan bagi Beijing, mempertahankan kendali atas algoritma adalah bentuk menjaga kedaulatan teknologi.
Satu hal yang pasti, hingga kesepakatan benar-benar ditandatangani, nasib TikTok di AS masih berada di ujung tanduk. Apakah platform hiburan favorit generasi muda itu akan benar-benar menjadi “milik Amerika”? Publik global kini menanti hasil final dari drama bisnis dan politik terbesar tahun ini.
Sumber: CNN Indonesia
Baca Juga:
Wow! Negara Komunis Ini Naikkan Tunjangan Guru Sampai 70%
Tren Baru! Brave Pink Hero Green Ramai Dipakai di Medsos
Saksikan berita lainnya:







