Jurnal Pelopor — Yayasan Kemanusiaan Gaza atau Gaza Humanitarian Foundation (GHF) yang selama ini didukung oleh Amerika Serikat dan Israel resmi mengumumkan pembubaran. Lembaga tersebut sebelumnya ditugaskan menyalurkan bantuan makanan di Jalur Gaza sejak Mei lalu, namun keberadaannya memicu kontroversi luas di tengah memburuknya krisis kemanusiaan di wilayah tersebut.
Direktur Eksekutif GHF, John Acree, menyatakan bahwa lembaganya dibentuk untuk memenuhi kebutuhan mendesak warga Gaza dan membuktikan bahwa pendekatan baru dapat bekerja lebih efektif dibanding model bantuan sebelumnya. Ia menegaskan pembubaran GHF dilakukan karena misi yang mereka emban dianggap telah “berhasil” dan kini waktunya menyerahkan kendali bantuan kepada komunitas internasional yang lebih luas.
Klaim Keberhasilan yang Bertentangan dengan Kritik Global
Meski demikian, banyak pihak menilai klaim keberhasilan GHF tidak sejalan dengan fakta di lapangan. Pada Agustus lalu, sebanyak 28 pakar Perserikatan Bangsa-Bangsa secara terbuka menyerukan pembubaran lembaga tersebut. Mereka menyebut GHF sebagai contoh memprihatinkan tentang bagaimana bantuan kemanusiaan bisa dieksploitasi untuk agenda militer dan geopolitik terselubung.
Para pakar itu juga menyoroti laporan penembakan tanpa pandang bulu oleh Israel dan kontraktor militer asing terhadap warga yang sedang mencari bantuan di lokasi distribusi GHF. Laporan independen mengungkap bahwa setidaknya 859 warga Palestina tewas di sekitar titik distribusi sejak operasi dimulai pada akhir Mei. Angka tersebut mencerminkan risiko besar yang dihadapi warga Gaza ketika mencoba mengakses bantuan makanan.
Distribusi Bantuan Dinilai Tidak Aman dan Tidak Efisien
Selain korban jiwa, pola distribusi GHF juga dikritik karena memaksa para pengungsi melakukan perjalanan jauh dan berbahaya untuk mencapai lokasi tertentu. Model ini berbeda jauh dari pendekatan PBB, yang menekankan penyaluran bantuan secara langsung ke komunitas terdampak untuk meminimalkan risiko keamanan.
GHF sebelumnya mengklaim sebagai satu-satunya lembaga yang mampu menyediakan makanan gratis dalam skala besar tanpa terjadi pengalihan. Namun berbagai organisasi kemanusiaan menilai klaim tersebut tidak terbukti di lapangan dan justru memperlihatkan adanya celah koordinasi yang memicu bahaya bagi warga sipil.
Arah Baru Bantuan di Gaza Masih Jadi Pertanyaan Besar
Pembubaran GHF terjadi tak lama setelah dibentuknya Pusat Koordinasi Sipil-Militer baru yang didukung AS, yang disebut-sebut akan memegang peran dalam koordinasi bantuan ke Gaza ke depannya. Meski demikian, banyak pihak mempertanyakan apakah pusat koordinasi tersebut dapat bekerja lebih aman dan lebih transparan dibanding model yang dijalankan GGHF.
Dalam situasi di mana kebutuhan bantuan di Gaza masih sangat tinggi dan kondisi keamanan belum stabil, berakhirnya operasi GHF memunculkan babak baru perdebatan tentang mekanisme bantuan yang paling efektif dan aman.
Sumber: CNN Indonesia
Baca Juga:
Wow! Negara Komunis Ini Naikkan Tunjangan Guru Sampai 70%
Tren Baru! Brave Pink Hero Green Ramai Dipakai di Medsos
Saksikan berita lainnya:







