Jurnal Pelopor – Dua bocah Palestina tewas setelah ditembak pasukan Israel di Kota Beit Ummar, Hebron Utara, Tepi Barat. Menurut laporan Al Jazeera, anak-anak itu ditembaki ketika berada di bagian selatan kota. Setelah itu, tentara Israel membawa jasad mereka dan menutup area tersebut sebagai zona militer tertutup.
Aktivis lokal Mohammed Awad menyebut pasukan Israel semakin sering melakukan penggerebekan serta mengusir para petani Palestina, terutama setelah permukiman ilegal Karmei Tzur mengklaim adanya gangguan. Warga juga menghadapi pemukulan, penangkapan, hingga serangan pemukim yang disebut bertujuan menekan mereka agar meninggalkan tanah sendiri.
Masjid Hajja Hamida Dibakar Pemukim Israel
Situasi makin memanas ketika pemukim Israel membakar Masjid Hajja Hamida di dekat Deir Istiya. Foto-foto AFP menunjukkan dinding masjid menghitam, mushaf Al-Qur’an hangus, dan grafiti memenuhi tembok.
Kementerian Luar Negeri Palestina mengecam keras penodaan tempat ibadah tersebut, menyebut aksi itu sebagai wujud rasisme yang dibiarkan oleh pemerintah Israel. Serangan pemukim Yahudi di Tepi Barat memang meningkat beberapa bulan terakhir, hingga mendapat kecaman internasional.
Sekjen PBB Antonio Guterres turut mengecam aksi itu. Lewat juru bicaranya, ia menyebut penyerangan rumah ibadah sebagai tindakan yang tak dapat diterima dan bagian dari pola kekerasan ekstremis yang “harus segera dihentikan.”
Kerusakan Gaza Terus Meningkat Meski Ada Gencatan Senjata
Di Gaza, lebih dari 1.500 bangunan hancur sejak gencatan senjata diberlakukan bulan lalu. Citra satelit BBC Verify menunjukkan kawasan di luar “garis kuning” hancur total setelah 10 Oktober. Kerusakan parah terlihat di Rafah, Jabalia, dan Kota Gaza.
Kantor Media Pemerintah di Gaza mencatat 282 pelanggaran gencatan senjata oleh Israel, termasuk serangan ke pemukiman dan puluhan operasi pengeboman. Akibatnya, 242 warga Palestina tewas, lebih dari 620 luka-luka.
Kesepakatan gencatan senjata yang berlaku sejak 10 Oktober merupakan bagian dari proposal 20 poin Presiden AS Donald Trump, termasuk pertukaran sandera dan tahanan serta mekanisme pemerintahan Gaza yang tidak melibatkan Hamas.
Sejak perang dimulai Oktober 2023, tentara Israel telah menewaskan lebih dari 69.000 warga Palestina, sebagian besar perempuan dan anak-anak, serta melukai lebih dari 170.000 orang, menjadikan Gaza nyaris tak layak huni.
Sumber: CNN Indonesia
Baca Juga:
Wow! Negara Komunis Ini Naikkan Tunjangan Guru Sampai 70%
Tren Baru! Brave Pink Hero Green Ramai Dipakai di Medsos
Saksikan berita lainnya:







