Jurnal Pelopor — Semakin banyak anak muda dari generasi Z yang mulai menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk membantu mereka berkomunikasi dengan orang lain. Teknologi ini bahkan digunakan untuk menyusun pesan percakapan dengan teman, rekan kerja, hingga orang yang mereka sukai.
Fenomena ini muncul karena sebagian anak muda merasa kesulitan menyusun kata-kata yang tepat saat berinteraksi secara sosial. Dengan bantuan AI, mereka dapat meminta saran bagaimana membalas pesan, memulai percakapan, atau merespons situasi tertentu.
Namun para ahli memperingatkan bahwa kebiasaan tersebut berpotensi memengaruhi perkembangan kemampuan sosial dan emosional seseorang.
Fenomena “Social Offloading”
Michael Robb, kepala riset di organisasi nirlaba Common Sense Media, menyebut fenomena ini sebagai social offloading.
Istilah tersebut merujuk pada kondisi ketika seseorang mengandalkan teknologi untuk membantu menghadapi situasi interpersonal, termasuk percakapan sehari-hari dengan orang lain.
Menurut Robb, tren ini tidak hanya terjadi pada Generasi Z, tetapi juga mulai terlihat pada Generasi Alpha serta sebagian generasi milenial.
Survei yang dilakukan oleh Common Sense Media pada 2025 menunjukkan bahwa sekitar sepertiga remaja lebih memilih berbicara dengan pendamping berbasis AI dibandingkan manusia ketika membahas percakapan yang serius.
Hal ini menunjukkan bahwa teknologi AI mulai mengambil peran yang sebelumnya hanya dimiliki oleh interaksi manusia.
Risiko Mengganggu Perkembangan Sosial
Para ahli menilai penggunaan AI untuk menyusun percakapan memiliki sejumlah dampak yang perlu diperhatikan.
Salah satunya adalah munculnya ketidaksesuaian ekspektasi dalam hubungan sosial. Ketika seseorang menggunakan AI untuk menulis pesan, orang yang menerima pesan sebenarnya merespons versi yang telah “dipoles” oleh teknologi, bukan kepribadian asli pengirimnya.
Selain itu, kebiasaan ini juga berpotensi menurunkan kepercayaan diri seseorang terhadap kemampuan komunikasi mereka sendiri.
Jika seseorang terlalu sering mengandalkan AI, mereka bisa merasa bahwa kata-kata atau insting mereka tidak cukup baik untuk digunakan dalam percakapan nyata.
Menghambat Pertumbuhan Emosional
Dr. Michelle DiBlasi, psikiater sekaligus asisten profesor di Fakultas Kedokteran Universitas Tufts, mengatakan bahwa ia semakin sering melihat anak muda menggunakan AI untuk membantu bersosialisasi.
Menurutnya, sebagian anak muda memanfaatkan AI karena mereka merasa tidak yakin bagaimana cara berinteraksi dengan orang lain.
DiBlasi menjelaskan bahwa ketergantungan terhadap AI dalam komunikasi dapat menghambat pertumbuhan emosional seseorang.
Selain itu, kebiasaan tersebut juga dapat memperkuat perasaan kesepian dan isolasi sosial.
Jika terlalu sering menggunakan AI untuk menavigasi percakapan, seseorang bisa kehilangan kesempatan untuk belajar membaca isyarat sosial, memahami emosi orang lain, serta memperbaiki hubungan interpersonal secara alami.
Karena itu, para ahli menyarankan agar teknologi AI digunakan secara bijak sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti interaksi manusia yang sebenarnya.
Baca Juga:
Wow! Negara Komunis Ini Naikkan Tunjangan Guru Sampai 70%
Tren Baru! Brave Pink Hero Green Ramai Dipakai di Medsos
Saksikan berita lainnya:







