Jurnal Pelopor – Ketegangan politik dan kekhawatiran soal privasi membuat banyak warga Eropa mulai meninggalkan produk-produk teknologi asal Amerika Serikat seperti Gmail, Starlink, hingga Instagram. Fenomena ini dipicu oleh kedekatan para CEO perusahaan teknologi AS dengan pemerintahan Presiden Donald Trump yang kembali berkuasa.
Dampaknya, sejumlah platform digital asal Eropa mengalami lonjakan pengguna secara drastis. Menurut laporan Reuters, pencarian terhadap alternatif email, aplikasi pesan instan, dan mesin pencari lokal meningkat tajam.
Ecosia & ProtonMail Kebanjiran Pengguna Baru
Salah satu yang meraup untung dari perubahan tren ini adalah Ecosia, mesin pencari berbasis di Jerman. Jumlah pertanyaan di platform ini melonjak hingga 27 persen. Ecosia kini berhasil meraih 1 persen pangsa pasar pencarian di Jerman.
Meski demikian, perbandingan angka masih timpang. Ecosia mencatat 122 juta kunjungan dari 27 negara Uni Eropa, jauh di bawah dominasi Google yang meraih 10,3 miliar kunjungan di kawasan yang sama.
Hal serupa juga terjadi pada ProtonMail, layanan email asal Swiss. Platform ini mencatat peningkatan pengguna sebesar 11,7 persen, sementara Gmail milik Alphabet mengalami penurunan pangsa pasar menjadi 70 persen, turun 1,9 persen.
Warga Eropa Kini Sadar Risiko Digital
Perubahan ini bukan hanya karena isu privasi, tetapi juga didorong oleh kesadaran politik.
“Sebelumnya hanya orang yang melek data pribadi yang mencari alternatif. Kini, warga yang sadar politik juga mulai beralih,” ujar Michael Wirths, pendiri Topio, sebuah perusahaan teknologi yang membantu warga Eropa menggunakan Android bebas layanan Google.
Ahli internet asal Inggris, Maria Farrell, bahkan menyebut bahwa masyarakat biasa mulai memikirkan alternatif.
“Penata rambut saya saja bertanya, bisa ganti ke mana,” ujarnya.
Regulasi Uni Eropa dan Respons Industri AS
Situasi ini juga dipicu oleh perbedaan pendekatan regulasi antara AS dan Uni Eropa. Digital Services Act (DSA) yang diterapkan di Eropa mewajibkan platform digital bertanggung jawab atas konten ilegal dan memerangi dominasi pasar.
Sebaliknya, regulasi di AS seperti yang disoroti oleh Greg Nojeim dari Center for Democracy and Technology justru memberikan kewenangan luas bagi pemerintah untuk mengakses data digital milik siapa pun, termasuk warga asing.
“Undang-undang di AS memungkinkan pemerintah menyita data digital bahkan yang dikirim lewat platform AS oleh warga Uni Eropa,” jelas Nojeim.
Jerman Pilih Teknologi Lokal, Tolak Starlink
Sebagai respon, pemerintah Jerman mulai mengurangi ketergantungan terhadap teknologi AS. Salah satu langkahnya adalah menggunakan software open-source untuk seluruh sistem IT di pemerintahan Schleswig-Holstein.
Jerman juga memilih layanan internet satelit Eutelsat milik Prancis ketimbang Starlink milik Elon Musk yang semakin dikritik karena kedekatannya dengan pemerintahan Trump.
Penutup: Digital Sovereignty Jadi Isu Panas
Fenomena ini memperkuat narasi “kedaulatan digital” yang semakin kencang di Eropa. Ketakutan akan penyadapan, manipulasi data, dan dominasi perusahaan asing mendorong warga dan pemerintah di Eropa untuk lebih memprioritaskan produk lokal, open-source, dan independen dari pengaruh politik Amerika Serikat.
“Semakin buruk hubungan politik, justru semakin baik bagi kami,” kata Christian Kroll, pendiri Ecosia, menggambarkan momentum peralihan digital di benua biru.
Sumber: CNBC Indonesia
Baca Juga:
Singonoyo Cup Meledak! Legenda Persibo Turun Gunung
Takut Ekonomi Ambruk? Ini Aset Aman Selain Emas
Saksikan berita lainnya:







