Jurnal Pelopor – Tottenham Hotspur akhirnya menuntaskan dahaga panjang mereka dengan meraih trofi pertama sejak 2008 usai menumbangkan Manchester United (MU) 1-0 di final Liga Europa, Kamis (22/5) dini hari WIB. Laga yang digelar di San Mamés Stadium, Bilbao, ini berlangsung ketat dan minim peluang, namun Spurs mampu tampil lebih efektif.
Gol tunggal kemenangan dicetak oleh Brennan Johnson di menit ke-42. Meski sempat dianggap sebagai gol bunuh diri Luke Shaw, UEFA kemudian mengonfirmasi gol tersebut sebagai milik Johnson. Gol yang tercipta dari kemelut di depan gawang MU itu menjadi penentu sejarah baru bagi Tottenham.
Kemenangan ini juga memastikan Spurs lolos ke Liga Champions musim depan, sementara Manchester United harus menerima kenyataan pahit: untuk pertama kalinya sejak musim 2013/14 mereka absen dari kompetisi Eropa.
Postecoglou Tepati Janji, Tapi Masih Dibayangi Masa Depan Suram
Manajer Ange Postecoglou membuktikan ucapannya. Ia pernah menyatakan bahwa dirinya selalu mempersembahkan gelar di musim kedua bersama klub, dan kali ini ia menepatinya di Tottenham. Sebelumnya, Postecoglou berhasil membawa Celtic meraih treble di Skotlandia, serta gelar di Yokohama F. Marinos, Brisbane Roar, dan Timnas Australia.
Namun, masa depannya masih menjadi tanda tanya besar. Meskipun sukses di Eropa, performa buruk Spurs di Liga Inggrismhanya finis di peringkat 16, menjadi bahan evaluasi serius manajemen klub. Apakah gelar ini cukup untuk menyelamatkan posisinya? Jawabannya mungkin baru akan terlihat setelah bursa transfer musim panas.
MU Gagal Total: Tanpa Gelar, Tanpa Eropa
Bagi Manchester United, kekalahan ini adalah pukulan telak. Musim 2024/25 bisa dibilang menjadi salah satu yang terburuk dalam sejarah klub modern. Dengan hanya enam kemenangan sejak November dan finis di posisi 17 Premier League, nasib manajer Ruben Amorim kini berada di ujung tanduk.
Gagal meraih trofi juga berarti kehilangan pemasukan besar dari kompetisi Eropa. United kini harus merombak skuad, namun tanpa daya tarik Liga Champions atau Liga Europa, mendatangkan pemain top akan jadi lebih sulit.
Pahlawan Baru: Brennan Johnson Tulis Namanya di Buku Sejarah Spurs
Johnson kini menjadi nama yang akan diingat selamanya oleh fans Tottenham. Pemain berusia 23 tahun itu mencetak gol kemenangan yang mengakhiri penantian panjang klub. Ironisnya, ia sempat dihujat fans usai tampil buruk dalam derby melawan Arsenal pada September lalu, hingga menutup akun media sosialnya.
Namun, di Bilbao, ia membalas semua kritik dengan aksi penentu. Dari pemain yang diragukan, kini Johnson menjadi simbol kebangkitan dan harapan baru bagi klub London Utara tersebut.
Son Heung-Min Akhirnya Angkat Trofi Bersama Spurs
Salah satu momen emosional terjadi saat peluit akhir berbunyi: Son Heung-Min menari dengan bendera Korea Selatan di pundaknya. Pemain 32 tahun ini akhirnya meraih trofi pertamanya bersama Spurs setelah satu dekade membela klub. Meski hanya bermain 23 menit sebagai pemain pengganti, Son tetap menjadi simbol dedikasi dan loyalitas yang terbayar tuntas.
Tottenham Siap Bangun Ulang, MU Butuh Revolusi
Dengan tambahan dana hingga £100 juta dari gelar dan tiket Liga Champions, Tottenham punya modal kuat untuk membenahi skuad musim depan. Sebaliknya, Manchester United kini menghadapi ketidakpastian besar. Rasmus Højlund yang kembali tampil mengecewakan bahkan disebut-sebut akan dipinjamkan musim depan untuk menyelamatkan kariernya.
Dengan tekanan publik dan performa yang buruk, Ruben Amorim harus membawa perubahan besar sejak awal musim depan atau bersiap mengalami nasib seperti Erik ten Hag.
Spurs juara, MU terpuruk. Apakah ini awal dari era baru di London Utara, atau hanya satu momen emas di tengah kekacauan musim?
Sumber: espn.com
Baca Juga:
Tanpa Target Juara, Sukorejo FC Bikin Kejutan di Bali 7’s 2025!
Hari Bumi 2025: BKPRMI Galang Aksi Tanam 1 Juta Pohon
Saksikan berita lainnya:
Demo Besar Tolak Revisi UU TNI: Apa Dampaknya bagi Demokrasi Indonesia?






