Jurnal Pelopor – Konflik bersenjata di Myanmar terus memasuki babak paling kelam. Pada Minggu (17/8/2025), junta militer meluncurkan serangan udara mematikan ke sebuah desa yang menjadi pusat pasar rakyat di Kota Mawchi, Negara Bagian Karenni (Kayah). Sedikitnya 32 warga sipil tewas, termasuk anak-anak dan perempuan.
Serangan ini terjadi di tengah semakin brutalnya perang saudara yang berlangsung sejak kudeta militer pada Februari 2021. Kota Mawchi, yang terkenal sejak era kolonial karena tambang timah dan tungsten, saat ini dikuasai oleh pasukan perlawanan lokal.
“Mawchi punya tambang, jadi banyak orang datang ke sini untuk berdagang. Junta berusaha menghancurkan kehidupan sosial ekonomi kota ini dan meneror rakyat,” ujar U Banyar, Sekretaris Kedua Dewan Eksekutif Sementara Negara Bagian Karenni (IEC), dikutip dari The Irrawaddy, Rabu (20/8/2025).
Korban Didominasi Warga Sipil
Serangan udara junta menghantam saat warga tengah beraktivitas di pasar. Berdasarkan laporan IEC, korban jiwa terdiri dari:
- 8 perempuan (termasuk 2 anak-anak)
- 18 laki-laki
- 6 jenazah yang kondisinya rusak parah hingga tidak dapat diidentifikasi
Selain korban tewas, terdapat 5 orang luka-luka, termasuk seorang perempuan dan empat laki-laki. Serangan ini disebut sebagai yang paling mematikan di wilayah Karenni sejak pecahnya konflik.
Serangan Berlanjut di Hari Berikutnya
Tidak berhenti pada Minggu, jet tempur junta juga melanjutkan pemboman pada Selasa pagi (19/8/2025). Namun, hingga kini jumlah korban dari serangan susulan tersebut belum dapat dikonfirmasi.
“Ini adalah pola teror sistematis yang dilakukan junta terhadap warga sipil,” tegas U Banyar.
Menurut catatan IEC, sebelum pembantaian ini, telah terjadi 14 serangan udara di Mawchi sepanjang 2025, dengan tiga serangan pada bulan lalu saja yang menewaskan 11 warga sipil.
Desakan Terhadap ASEAN dan PBB
IEC mendesak masyarakat internasional, termasuk ASEAN dan PBB, untuk segera bertindak terhadap kekejaman junta Myanmar. Mereka menuntut diakhirinya kejahatan terhadap warga sipil dan penyelidikan atas dugaan kejahatan perang.
Myanmar dalam Kekacauan Pasca-Kudeta
Myanmar telah berada dalam kekacauan politik sejak militer menggulingkan pemerintahan sipil terpilih yang dipimpin Aung San Suu Kyi pada Februari 2021. Sejak itu, militer menghadapi perlawanan sengit dari berbagai kelompok, termasuk:
- Kelompok Etnis Bersenjata, seperti:
- Tentara Arakan (AA)
- Tentara Aliansi Demokrasi Nasional Myanmar (MNDAA)
- Tentara Pembebasan Nasional Ta’ang (TNLA)
- Pasukan Pertahanan Rakyat (PDF), sayap militer pro-demokrasi yang muncul sebagai bentuk perlawanan rakyat terhadap kudeta.
Kelompok-kelompok ini membentuk Aliansi Tiga Persaudaraan dan secara longgar bekerja sama untuk menentang kekuasaan militer pusat dan memperjuangkan otonomi yang lebih luas.
Krisis Kemanusiaan Semakin Dalam
Serangan terbaru ini menambah panjang daftar pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan junta Myanmar. Ribuan warga sipil telah tewas sejak kudeta, dan jutaan lainnya mengungsi, baik di dalam negeri maupun ke negara tetangga, termasuk ke wilayah perbatasan Indonesia di ASEAN.
Sumber: CNBC Indonesia
Baca Juga:
Singonoyo Cup Meledak! Legenda Persibo Turun Gunung
Takut Ekonomi Ambruk? Ini Aset Aman Selain Emas
Saksikan berita lainnya:







