• About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact
Jurnal Pelopor | Pelopor Berita Terdepan dan Terpercaya
Advertisement
  • Beranda
  • Nasional
  • Lokal Daerah
  • Redaksi
  • Olahraga
  • Opini
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Nasional
  • Lokal Daerah
  • Redaksi
  • Olahraga
  • Opini
No Result
View All Result
Jurnal Pelopor | Pelopor Berita Terdepan dan Terpercaya
No Result
View All Result
Home News World

Rusia Uji Diplomasi dengan Serangan Besar

Di tengah perundingan damai di UEA, Rusia lancarkan serangan besar ke Kyiv dan Kharkiv, paradoks diplomasi dan realitas perang

musa by musa
25/01/2026
in Jurnal
0
rusia
0
SHARES
0
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Jurnal Pelopor — Upaya diplomasi internasional untuk meredakan perang Rusia-Ukraina kembali diuji. Di tengah berlangsungnya pembicaraan damai tripartit antara Rusia, Ukraina, dan Amerika Serikat di Uni Emirat Arab, Moskow justru melancarkan serangan drone dan rudal berskala besar ke dua kota utama Ukraina, Kyiv dan Kharkiv, pada Sabtu pagi waktu setempat. Serangan ini mempertegas paradoks antara meja perundingan dan realitas perang di lapangan.

Serangan tersebut terjadi pada hari kedua pertemuan delegasi di Abu Dhabi yang bertujuan mendorong proses perdamaian. Namun bagi Ukraina, upaya diplomasi itu terasa kontras dengan rentetan ledakan yang kembali menghantam infrastruktur vital dan kawasan permukiman sipil.

“Malam Teror” di Tengah Diplomasi

Menteri Luar Negeri Ukraina, Andrii Sybiha, menyebut serangan terbaru Rusia sebagai “malam teror” yang kembali dialami rakyat Ukraina. Ia menegaskan bahwa meskipun jalur diplomasi tengah dibuka, tindakan Rusia menunjukkan pesan berbeda di medan perang.

“Upaya perdamaian? Pertemuan trilateral di UEA? Diplomasi? Bagi Ukraina, ini adalah malam teror Rusia yang lain,” ujar Sybiha.

Dalam pernyataan keras di media sosial X, ia bahkan menyebut bahwa serangan tersebut mempertanyakan keseriusan Moskow dalam mengejar perdamaian.

Sybiha juga menilai, tindakan ini semakin menjauhkan Rusia dari legitimasi moral di forum internasional yang berbicara soal penghentian kekerasan.

Serangan Besar, Dampak Luas bagi Warga Sipil

Menurut angkatan udara Ukraina, Rusia meluncurkan sekitar 396 drone dan rudal dalam gelombang serangan tersebut. Target utama adalah infrastruktur energi dan fasilitas penting, yang menyebabkan pemadaman listrik, air, dan pemanas di berbagai wilayah.

Di Kyiv saja, sekitar 800.000 warga terdampak pemadaman listrik, sementara secara nasional jumlahnya mencapai 1,2 juta konsumen. Lebih dari 6.000 blok apartemen di ibu kota kehilangan pemanas, meningkat tajam dibanding hari sebelumnya.

Situasi ini semakin genting mengingat suhu malam hari turun hingga minus 13 derajat Celsius. Seorang warga dilaporkan tewas dan sedikitnya 15 orang lainnya mengalami luka-luka akibat serangan tersebut.

Upaya Pemulihan di Tengah Krisis

Para insinyur dan pekerja darurat di Kyiv bekerja tanpa henti untuk mengembalikan pasokan energi ke permukiman warga. Namun tantangan besar menghadang, mengingat serangan sebelumnya juga telah merusak sistem kelistrikan dan pemanas kota.

Wali Kota Kyiv, Vitali Klitschko, mengungkapkan hampir 2.000 bangunan tempat tinggal kehilangan pemanas. Ia memperingatkan bahwa kondisi ini mungkin belum mencapai titik terburuk, mengingat pola serangan Rusia yang terus berulang.

Bahkan, sekitar 600.000 penduduk dilaporkan sempat meninggalkan Kyiv sementara waktu selama krisis listrik pada Januari lalu.

Negosiasi Berlanjut, Keraguan Tetap Ada

Meski serangan terjadi, pembicaraan damai di Abu Dhabi tetap dilanjutkan. Namun, banyak pihak meragukan komitmen Rusia, terutama karena Moskow masih bersikukuh menuntut kontrol atas wilayah Donbas timur.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menekankan pentingnya implementasi penuh kesepakatan pertahanan udara yang baru dibahas bersama Presiden AS Donald Trump di Davos. Meski begitu, belum ada penjelasan rinci terkait hasil konkret pertemuan tersebut.

Serangan ini menjadi pengingat pahit bahwa jalan menuju perdamaian masih panjang dan rapuh. Di tengah negosiasi, rakyat Ukraina kembali menjadi pihak yang menanggung harga tertinggi dari perang yang belum menunjukkan tanda akan segera berakhir.

Baca Juga:

Wow! Negara Komunis Ini Naikkan Tunjangan Guru Sampai 70%

Tren Baru! Brave Pink Hero Green Ramai Dipakai di Medsos

Tren Baru! Brave Pink Hero Green Ramai Dipakai di Medsos

 

Saksikan berita lainnya:

Reformasi atau Langkah Mundur? Pengesahan RUU TNI 2025

5 Skandal Hakim Terbesar di Indonesia! Bisakah Prabowo Bersihkan Peradilan?

Tags: #RusiaUkraina #PerangUkraina #SeranganRusia #Kyiv #Kharkiv #DiplomasiInternasional #IsuGlobal
Previous Post

Noe Letto: Kritik Rakyat Itu Data, Bukan Ancaman

Next Post

Bangun Patung di Wilayah Sengketa, Thailand Disorot

musa

musa

Related Posts

bnpb
Nasional

BNPB Keluhkan Dana Cegah BencanaTak Sampai Rp20 Miliar

04/02/2026
uea
World

UEA Disebut Ambil Kendali Kelola Gaza, Didukung Israel

04/02/2026
mui
Nasional

Berubah Pikiran! MUI Dukung Langkah RI soal Gaza

04/02/2026
board of peace
Nasional

Prabowo Kumpulkan Tokoh Islam Bahas Board of Peace

04/02/2026
syauqi
Olahraga

Luka Lama! Syauqi Saud Siap Balas Dendam ke Jepang

04/02/2026
havertz
Nasional

Gol Telat Havertz Hantarkan Arsenal ke Final Carabao Cup

04/02/2026
Next Post
thailand

Bangun Patung di Wilayah Sengketa, Thailand Disorot

Jurnal Pelopor | Pelopor Berita Terdepan dan Terpercaya

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

Navigate Site

  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact

Follow Us

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Nasional
  • Lokal Daerah
  • Redaksi
  • Olahraga
  • Opini

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.