Jurnal Pelopor – Puluhan warga Rusia menggelar aksi demonstrasi di Kota Tomsk, Siberia, menyusul pemblokiran platform gim populer Roblox. Di tengah suhu dingin dan salju tebal, para demonstran menyuarakan penolakan terhadap kebijakan pemerintah yang dinilai berlebihan.
Aksi berlangsung di Taman Vladimir Vysotsky. Sekitar 25 orang terlihat membawa poster buatan tangan dengan pesan bernada kritik, seperti “Jangan Sentuh Roblox” dan “Roblox adalah Korban Tirai Besi Digital.”
Alasan Pemerintah Rusia Memblokir Roblox
Badan pengawas komunikasi Rusia, Roskomnadzor, menyatakan bahwa Roblox diblokir karena dinilai memuat konten tidak pantas. Pemerintah menilai platform tersebut berpotensi berdampak buruk terhadap perkembangan moral dan spiritual anak-anak.
Menurut otoritas Rusia, Roblox memungkinkan interaksi bebas antar pengguna yang bisa membuka celah penyalahgunaan, termasuk paparan konten seksual dan komunikasi dengan orang dewasa yang tidak dikenal.
Roblox Masuk Daftar Panjang Platform Diblokir
Roblox bukan satu-satunya platform asal Barat yang dibatasi di Rusia. Sebelumnya, pemerintah Moskow telah memblokir atau membatasi akses ke Facebook, Instagram, Snapchat, WhatsApp, hingga YouTube.
Langkah ini sejalan dengan strategi Rusia yang memperketat ruang digital domestik, sembari memperkuat narasi negara melalui media dan platform lokal.
Perdebatan Sensor dan Keamanan Anak
Pemblokiran Roblox memicu perdebatan luas di masyarakat Rusia. Di satu sisi, sebagian orang tua dan guru mendukung langkah pemerintah demi melindungi anak-anak dari potensi bahaya dunia digital.
Namun di sisi lain, banyak warga mempertanyakan efektivitas kebijakan tersebut. Mereka menilai sensor digital sulit diterapkan secara mutlak, terutama ketika teknologi memungkinkan pembatasan dilewati dengan mudah.
VPN Jadi Celah yang Sulit Ditutup
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa banyak warga Rusia dapat mengakses Roblox menggunakan VPN (Virtual Private Network). Hal ini menimbulkan pertanyaan besar soal relevansi larangan, terutama di kalangan generasi muda.
Sebagian remaja Rusia bahkan mempertanyakan logika pemblokiran jika negara tidak mampu menutup celah teknologi yang ada.
Minim Alternatif Lokal Jadi Sorotan
Isu lain yang mencuat adalah minimnya alternatif aplikasi buatan Rusia. Sejumlah warga mempertanyakan mengapa pemerintah membatasi platform asing tanpa menyediakan pengganti lokal yang sepadan, terutama untuk hiburan dan edukasi anak.
Kondisi ini membuat ketergantungan terhadap platform asing sulit dihindari, meski kebijakan sensor terus diperketat.
Roblox dan Larangan di Negara Lain
Roblox sendiri bukan pertama kali menghadapi larangan. Platform yang berbasis di San Mateo, California, ini juga sempat diblokir di negara lain seperti Irak dan Turki, dengan alasan serupa terkait perlindungan anak dari predator daring.
Roblox menegaskan komitmennya terhadap keamanan pengguna dan mengklaim telah menyediakan sistem perlindungan bawaan yang ketat, meski perusahaan belum memberikan komentar resmi atas larangan terbaru di Rusia.
Sensor Digital dan Ideologi Negara
Pejabat Rusia menyatakan bahwa kebijakan sensor diperlukan untuk menghadapi apa yang mereka sebut sebagai “perang informasi” dari Barat. Pemerintah juga menilai budaya Barat dapat merusak nilai-nilai tradisional Rusia jika tidak dibatasi.
Pemblokiran Roblox pun menjadi simbol pertarungan yang lebih besar antara kebebasan digital, keamanan anak, dan kontrol negara.
Sumber: CNBC Indonesia
Baca Juga:
Wow! Negara Komunis Ini Naikkan Tunjangan Guru Sampai 70%
Tren Baru! Brave Pink Hero Green Ramai Dipakai di Medsos
Saksikan berita lainnya:







