Jurnal Pelopor — Selebgram Fujianti Utami Putri atau Fuji kembali menghadapi ujian berat dalam perjalanan kariernya. Bukan dari sorotan publik atau tekanan dunia hiburan, melainkan dari orang-orang terdekat di lingkungan kerjanya sendiri. Setelah mengalami kerugian finansial hingga miliaran rupiah akibat pengkhianatan rekan kerja, Fuji mengaku kapok dan mulai mengubah total cara ia mengelola pekerjaan dan kepercayaan.
Dikhianati Lebih dari Sekali
Pengalaman pahit ini bukan yang pertama bagi Fuji. Ia mengaku sudah lebih dari sekali menjadi korban kelalaian dan kepercayaan yang disalahgunakan. Dalam kasus terbarunya, uang hasil jerih payahnya diduga digelapkan oleh eks rekan kerja dengan nilai hampir Rp 1 miliar. Sebelumnya, Fuji juga sempat mengalami penipuan oleh mantan manajernya hingga menyebabkan kerugian sekitar Rp 1,3 miliar.
Rentetan kejadian ini membuat Fuji melakukan refleksi mendalam. Ia menyadari bahwa masalah bukan semata pada orang lain, tetapi juga pada caranya sendiri dalam mengelola pekerjaan dan membatasi informasi dari orang-orang terdekatnya.
Terlalu Mandiri, Terlalu Diam
Fuji mengakui selama ini ia memilih menanggung beban sendiri. Kesibukan dan kelelahan membuatnya enggan melibatkan orang tua dalam urusan pekerjaan secara detail. Ia merasa cukup jika orang tua mengetahui hasil akhirnya saja, tanpa perlu ikut masuk ke proses yang rumit.
Namun sikap tersebut justru membuka celah. Kurangnya pengawasan dan diskusi membuat pihak lain leluasa mengambil keuntungan. Ketika masalah muncul, orang tua pun tidak memiliki cukup informasi atau kewenangan untuk ikut melindungi dan mengontrol.
Belajar Terbuka dengan Orang Tua
Dari pengalaman itulah Fuji mengambil keputusan besar. Ia kini berkomitmen untuk lebih transparan kepada kedua orang tuanya, Faisal dan Dewi Zuhriati. Bukan hanya soal hasil, tetapi juga detail pekerjaan, rekan kerja, alur kerja, hingga keuangan.
Baginya, keterbukaan bukan lagi soal ketergantungan, melainkan bentuk kehati-hatian. Fuji menyadari bahwa melibatkan orang tua bukan tanda kelemahan, tetapi justru langkah perlindungan di tengah dunia kerja yang keras dan penuh risiko.
Trauma yang Berubah Jadi Pelajaran
Meski mengaku kecewa dan terluka, Fuji tidak ingin larut dalam rasa marah. Ia memilih menjadikan pengalaman ini sebagai pelajaran mahal. Menurutnya, kepercayaan tetap penting, tetapi harus disertai sistem, transparansi, dan pengawasan yang sehat.
Perubahan sikap ini juga menjadi sinyal kedewasaan Fuji dalam menghadapi realitas industri hiburan, di mana profesionalisme tidak selalu sejalan dengan kedekatan personal.
Pesan untuk Anak Muda dan Pekerja Kreatif
Apa yang dialami Fuji menjadi cermin bagi banyak anak muda, terutama pekerja kreatif dan publik figur yang mulai sukses di usia dini. Kepercayaan, jika tidak dikelola dengan bijak, bisa berubah menjadi bumerang.
Fuji kini melangkah dengan lebih hati-hati. Ia belajar bahwa kerja keras saja tidak cukup, dan keterbukaan dengan keluarga bisa menjadi benteng terakhir ketika kepercayaan dikhianati.
Baca Juga:
Wow! Negara Komunis Ini Naikkan Tunjangan Guru Sampai 70%
Tren Baru! Brave Pink Hero Green Ramai Dipakai di Medsos
Saksikan berita lainnya:







