Jurnal Pelopor – Konflik bersenjata antara Iran dan Israel kembali memanas setelah Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) meluncurkan rudal balistik generasi ketiga Kheibar Shekan dalam gelombang ke-20 Operasi True Promise III, Minggu dini hari, 23 Juni 2025. Ini adalah pertama kalinya rudal tersebut digunakan dalam pertempuran nyata sejak dikembangkan oleh Pasukan Dirgantara IRGC.
Dalam pernyataan resminya, IRGC menyebut peluncuran ini sebagai respons terhadap serangan udara Amerika Serikat yang menghantam tiga situs nuklir penting Iran—Fordow, Natanz, dan Isfahan beberapa jam sebelumnya. Peluncuran rudal ini menjadi bukti bahwa Iran kini mengandalkan teknologi pertahanan mutakhir dalam menghadapi agresi dari Israel dan sekutunya.
Spesifikasi dan Daya Hancur Rudal Kheibar Shekan
Rudal Kheibar Shekan termasuk dalam kategori rudal balistik multihulu ledak berbahan bakar padat. Rudal ini mampu meluncur dengan kecepatan tinggi dan memiliki kemampuan bermanuver saat fase terminal, menjadikannya sulit dilacak dan dicegat oleh sistem pertahanan seperti Iron Dome.
IRGC menyebutkan bahwa dalam satu gelombang serangan ini, Iran meluncurkan 40 rudal, baik berbahan bakar padat maupun cair, ke berbagai target strategis di wilayah pendudukan Israel. Target utama meliputi Bandara Ben Gurion di Tel Aviv, pusat penelitian biologi, dan lokasi komando militer.
Efek Langsung: Kepanikan dan Pengungsian Massal
Serangan ini menyebabkan kepanikan luas di wilayah Israel. Sirene peringatan berbunyi setelah rudal mengenai target, yang menandakan bahwa sistem pertahanan Israel tertinggal dalam mendeteksi serangan. Menurut laporan Times of Israel, sekitar 9.000 warga Israel telah dievakuasi sejak konflik meningkat pada pertengahan Juni.
Mereka ditampung di hotel-hotel di luar zona bahaya atau tinggal sementara bersama kerabat dan relawan. Banyak dari mereka adalah warga sipil yang tinggal di kawasan pemukiman dekat Tel Aviv, Ashdod, dan Haifa, wilayah yang paling rentan terkena dampak serangan balistik.
Iran Kirim Pesan Kuat: Ini Baru Permulaan
IRGC menegaskan bahwa peluncuran rudal Kheibar Shekan ini belum mewakili kekuatan militer penuh Iran. Dalam pernyataan yang dikutip dari Press TV, Iran menyatakan bahwa kemampuan inti militer mereka belum diaktifkan sepenuhnya. Artinya, lebih banyak tahapan Operasi True Promise III masih mungkin terjadi, tergantung pada eskalasi dari pihak lawan.
Pemerintah Iran menyebut serangan ini sebagai balasan terhadap agresi Israel yang telah menewaskan lebih dari 400 warga Iran sejak 13 Juni lalu, termasuk komandan militer, ilmuwan, siswa sekolah, atlet, hingga profesor universitas.
Situasi Regional Semakin Memburuk
Serangan balasan Iran juga memperburuk stabilitas kawasan Timur Tengah. Ketegangan meningkat setelah laporan serangan Amerika terhadap fasilitas nuklir Iran. Pengamat khawatir situasi bisa berkembang menjadi konflik berskala lebih besar yang melibatkan negara-negara seperti Lebanon, Suriah, dan bahkan Rusia—yang disebut-sebut siap menemui Iran dalam waktu dekat.
Sementara itu, sejumlah maskapai penerbangan internasional mengalihkan rute dari wilayah udara Iran dan Israel. Di sisi lain, sejumlah negara di kawasan juga mulai mengevakuasi warganya dari zona konflik.
Penutup: Dunia dalam Titik Genting
Debut rudal Kheibar Shekan menjadi penanda bahwa Iran tidak lagi menahan diri dalam menghadapi serangan dari Israel dan AS. Keberhasilan serangan ini membuka babak baru dalam konflik Timur Tengah, yang berpotensi memicu keterlibatan kekuatan besar lainnya jika tidak segera diredam.
Pertanyaannya kini bukan lagi siapa menyerang siapa, tapi berapa lama dunia bisa bertahan sebelum konflik ini menjalar menjadi perang global berskala penuh.
Sumber: SindoNews
Baca Juga:
Singonoyo Cup Meledak! Legenda Persibo Turun Gunung
Takut Ekonomi Ambruk? Ini Aset Aman Selain Emas
Saksikan berita lainnya:







