Jurnal Pelopor — Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) mengungkap temuan serius terkait dugaan penyembunyian omzet bernilai fantastis di sektor perdagangan tekstil. Dalam hasil analisis terbarunya, PPATK menemukan aliran dana hingga Rp12,49 triliun yang diduga berasal dari aktivitas penjualan ilegal dan disamarkan melalui rekening karyawan maupun rekening pribadi. Temuan ini menambah daftar panjang praktik kejahatan keuangan yang memanfaatkan celah sistem dan relasi kerja untuk mengaburkan jejak transaksi.
Modus Rekening Karyawan: Praktik Lama dengan Skala Baru
Dalam praktiknya, modus yang digunakan terbilang klasik, namun dijalankan dengan skala yang jauh lebih besar. Pihak tertentu diduga memanfaatkan rekening karyawan aktif untuk menerima pembayaran hasil penjualan. Cara ini membuat transaksi tampak seperti aktivitas keuangan perorangan biasa, sehingga luput dari pantauan awal sistem perbankan.
Rekening karyawan digunakan secara masif dan terstruktur. Akibatnya, omzet perusahaan tidak tercatat secara resmi dan berpotensi menghindari kewajiban pajak. Bagi karyawan, posisi mereka sangat rentan. Banyak yang tidak memahami sepenuhnya risiko hukum yang mengintai ketika rekening pribadi dipakai untuk transaksi bisnis ilegal.
Dampak terhadap Negara dan Sistem Keuangan
Penyembunyian omzet dengan nilai triliunan rupiah jelas berdampak luas. Negara berpotensi kehilangan penerimaan pajak dalam jumlah besar. Lebih dari itu, praktik semacam ini merusak integritas sistem keuangan nasional, karena dana ilegal bercampur dengan transaksi legal sehari-hari.
PPATK menilai, pola ini tidak hanya terjadi di satu sektor. Namun, kasus di perdagangan tekstil menjadi contoh nyata bagaimana sektor riil dapat disusupi praktik keuangan ilegal jika pengawasan internal dan eksternal lemah.
Peran PPATK dan Kolaborasi Antar Lembaga
Sebagai lembaga intelijen keuangan nasional, PPATK terus memperkuat kerja sama lintas institusi. Kolaborasi dengan Direktorat Jenderal Pajak menjadi salah satu kunci dalam menelusuri aliran dana dan mengamankan potensi penerimaan negara. Dalam periode 2020 hingga Oktober 2025, kerja sama ini berhasil mengamankan penerimaan negara senilai puluhan triliun rupiah.
Sepanjang 2025 saja, ratusan hasil analisis dan pemeriksaan telah dihasilkan. Nilai transaksi yang dianalisis mencapai ratusan triliun rupiah, mencerminkan kompleksitas dan besarnya tantangan kejahatan keuangan di Indonesia.
Sisi Lain: Penurunan Judi Online
Di tengah temuan besar tersebut, ada sisi positif yang patut dicatat. Untuk pertama kalinya, transaksi keuangan terkait perjudian online mengalami penurunan signifikan. Sepanjang 2025, nilai perputaran dana judi online tercatat menurun sekitar 20 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Penurunan ini menunjukkan bahwa upaya bersama pemerintah, otoritas, dan sektor swasta mulai membuahkan hasil. Selain berdampak pada stabilitas keuangan, langkah ini juga penting untuk melindungi masyarakat dari dampak sosial ekonomi judi online.
Tantangan Pelaporan Transaksi Mencurigakan
Meski demikian, PPATK menyoroti masih adanya ketimpangan dalam pelaporan transaksi keuangan mencurigakan. Banyak laporan justru berasal dari transaksi berisiko rendah, sementara transaksi berisiko tinggi belum seluruhnya terdeteksi. Kondisi ini menuntut perbaikan kualitas pelaporan, bukan sekadar peningkatan jumlah laporan.
Sinergi yang lebih kuat dan berkelanjutan antara PPATK, pihak pelapor, asosiasi, serta lembaga pengawas menjadi kebutuhan mendesak agar sistem pencegahan kejahatan keuangan berjalan lebih efektif.
Pelajaran bagi Dunia Usaha dan Pekerja
Kasus rekening karyawan ini menjadi peringatan keras bagi dunia usaha dan para pekerja. Transparansi, kepatuhan, dan literasi keuangan menjadi benteng utama agar tidak terjerumus dalam praktik ilegal. Bagi karyawan, memahami risiko penggunaan rekening pribadi adalah bentuk perlindungan diri.
Di sisi lain, bagi negara, pengungkapan ini menjadi momentum untuk memperkuat pengawasan dan menutup celah yang selama ini dimanfaatkan. Pertanyaannya kini, apakah temuan ini akan menjadi titik balik dalam membersihkan praktik keuangan ilegal, atau justru hanya puncak gunung es dari masalah yang lebih besar?
Baca Juga:
Wow! Negara Komunis Ini Naikkan Tunjangan Guru Sampai 70%
Tren Baru! Brave Pink Hero Green Ramai Dipakai di Medsos
Saksikan berita lainnya:







