Jurnal Pelopor — Perbedaan kondisi ekonomi sering kali dilihat semata dari jumlah aset atau saldo rekening. Padahal, para psikolog dan ekonom perilaku menilai jurang ekonomi juga dipengaruhi oleh cara berpikir, merespons tekanan hidup, serta memaknai sumber daya yang dimiliki. Pola pikir inilah yang membedakan cara orang miskin, kelas menengah, dan orang kaya mengambil keputusan, merencanakan masa depan, serta menempatkan diri dalam struktur sosial.
Sejumlah studi menunjukkan bahwa status ekonomi tidak hanya dibentuk oleh faktor eksternal, melainkan juga oleh kebiasaan mental yang berkembang dari pengalaman hidup sehari-hari. Cara seseorang memandang waktu, risiko, pendidikan, kendali atas hidup, hingga relasi sosial ikut menentukan arah perjalanan finansialnya.
1. Cara Memandang Waktu: Bertahan, Menjaga Stabilitas, hingga Membangun Warisan
Perbedaan paling mendasar terlihat dari cara setiap kelompok ekonomi memandang waktu. Orang yang hidup dalam kemiskinan cenderung memiliki orientasi jangka pendek. Tekanan hidup dan kelangkaan sumber daya memaksa mereka fokus pada kebutuhan hari ini atau minggu ini. Dalam situasi ketika makan dan tempat tinggal belum sepenuhnya aman, perencanaan jangka panjang menjadi kemewahan yang sulit dijangkau.
Kelas menengah umumnya berpikir dalam kerangka waktu yang lebih terstruktur, seperti bulanan atau tahunan. Fokus mereka tertuju pada stabilitas: karier yang meningkat, cicilan yang terbayar, tabungan, dan persiapan pensiun. Hidup dijalani mengikuti target yang relatif bisa diprediksi.
Berbeda dengan itu, orang kaya memandang waktu sebagai aset strategis. Horizon berpikir mereka bisa melampaui usia hidup sendiri, mencakup generasi berikutnya. Fokusnya adalah membangun sistem, investasi, dan warisan yang nilainya bertumbuh seiring waktu.
2. Hubungan dengan Risiko: Ancaman, Sesuatu yang Dihindari, hingga Peluang
Tingkat keamanan finansial sangat memengaruhi cara seseorang memandang risiko. Bagi kelompok miskin, risiko adalah ancaman langsung terhadap kelangsungan hidup. Kegagalan kecil bisa berdampak besar, sehingga kehati-hatian ekstrem menjadi respons yang wajar.
Kelas menengah cenderung memilih risiko yang terukur. Mereka bersedia mengambil peluang selama ada jaring pengaman, seperti tabungan atau asuransi. Risiko dipandang sebagai sesuatu yang bisa dikelola, bukan dihindari sepenuhnya.
Sementara itu, orang kaya melihat risiko sebagai bagian tak terpisahkan dari peluang. Dengan modal dan cadangan yang kuat, kegagalan tidak selalu berarti kehancuran, melainkan pembelajaran.
3. Pendidikan: Jalan Keluar, Alat Mobilitas, atau Investasi Strategis
Bagi masyarakat miskin, pendidikan sering dilihat sebagai jalan keluar dari keterbatasan, meski aksesnya tidak selalu mudah. Tekanan ekonomi kerap membuat pendidikan harus bersaing dengan kebutuhan mendesak lainnya.
Kelas menengah memandang pendidikan sebagai alat mobilitas sosial. Gelar dan sertifikasi dianggap penting untuk memperoleh pekerjaan yang lebih baik dan stabil.
Di sisi lain, orang kaya melihat pendidikan sebagai investasi jangka panjang. Fokusnya bukan sekadar gelar, tetapi kemampuan berpikir kritis, jejaring, dan pembelajaran sepanjang hayat.
4. Kendali atas Hidup: Nasib, Usaha Pribadi, hingga Desain Sistem
Orang miskin sering merasa hidupnya ditentukan oleh faktor eksternal, seperti keadaan ekonomi dan kebijakan. Kelas menengah mulai melihat hubungan antara usaha dan hasil. Sementara orang kaya cenderung percaya bahwa hidup dapat “dirancang” melalui sistem, strategi, dan keputusan sadar.
5. Relasi Sosial: Bertahan, Jaringan Profesional, hingga Akses Kekuasaan
Relasi bagi kelompok miskin berfungsi sebagai penopang bertahan hidup. Kelas menengah membangun jaringan untuk karier dan peluang. Bagi orang kaya, relasi menjadi sumber akses, pengaruh, dan penguatan kekuasaan ekonomi.
Perbedaan pola pikir ini menunjukkan bahwa kesenjangan ekonomi bukan hanya soal uang, melainkan juga soal cara memaknai hidup. Memahami pola ini membantu melihat bahwa perubahan ekonomi sering dimulai dari perubahan cara berpikir meski realitas struktural tetap memainkan peran besar.
Baca Juga:
Wow! Negara Komunis Ini Naikkan Tunjangan Guru Sampai 70%
Tren Baru! Brave Pink Hero Green Ramai Dipakai di Medsos
Saksikan berita lainnya:







