Jurnal Pelopor – Kasus pembunuhan ibu kandung oleh anak perempuan berusia 12 tahun di Kota Medan, Sumatera Utara, terus menyita perhatian publik. Peristiwa berdarah yang menewaskan Faizah Soraya (42) itu terjadi di kediaman korban di Jalan Dwikora, Kecamatan Medan Sunggal, pada Rabu, 10 Desember 2025.
Polrestabes Medan menetapkan putri kandung korban, berinisial A, sebagai pelaku utama. Penetapan status Anak Berkonflik dengan Hukum (ABH) terhadap A dilakukan setelah penyelidikan mendalam dan serangkaian pemeriksaan, termasuk asesmen psikologis.
Fakta bahwa pelaku masih duduk di bangku kelas 6 SD membuat kasus ini semakin mengguncang. Namun, temuan psikolog justru membuka sisi lain yang tidak kalah mengejutkan.
Hasil Pemeriksaan Psikologis: Kecerdasan Superior
Psikolog profesional Irna Minauli, yang mendampingi A dalam proses pemeriksaan, mengungkapkan hasil asesmen yang dilakukan dalam empat kali pertemuan. Berdasarkan pemeriksaan tersebut, A diketahui memiliki tingkat kecerdasan yang tergolong superior.
Menurut Irna, A mampu mempelajari musik dan seni secara otodidak. Prestasi akademik dan non-akademiknya selama ini juga dinilai sangat baik dan menonjol dibandingkan anak seusianya.
Temuan ini mematahkan anggapan awal bahwa tindakan brutal tersebut dilakukan akibat gangguan kecerdasan atau keterbatasan intelektual.
Tidak Ditemukan Gangguan Mental Berat
Lebih lanjut, Irna menegaskan bahwa A tidak menunjukkan gejala gangguan mental berat. Pemeriksaan tidak menemukan tanda-tanda skizofrenia, depresi berat, halusinasi, maupun delusi.
Dalam istilah psikologi forensik, pembunuhan ibu kandung atau matricide sering dikaitkan dengan gangguan kejiwaan serius. Namun, dalam kasus A, faktor tersebut dinyatakan tidak ditemukan.
Hal ini justru menimbulkan pertanyaan besar mengenai apa yang sebenarnya memicu ledakan emosi anak tersebut hingga berujung pada tindakan fatal.
Bom Waktu Emosional dan Rendahnya Empati
Irna menjelaskan bahwa terdapat beberapa faktor psikologis krusial yang saling berkelindan. A disebut memiliki agresivitas tinggi serta emosi yang mudah meluap dan sulit dikendalikan.
Selain itu, tingkat empati A dinilai belum berkembang dengan baik. Kondisi tersebut diperparah oleh minimnya interaksi sosial yang sehat, sehingga kemampuan mengelola emosi negatif tidak terbentuk secara optimal.
Yang paling mengkhawatirkan, A cenderung memendam kemarahan dalam waktu lama. Akumulasi emosi ini akhirnya berubah menjadi “bom waktu emosional” yang meledak dalam bentuk kekerasan ekstrem.
Pengaruh Lingkungan dan Konten Eksternal
Selain faktor internal, Irna juga menyoroti pengaruh eksternal. A diduga pernah mengalami atau menyaksikan kekerasan dalam lingkungan terdekatnya. Pengalaman tersebut meninggalkan jejak psikologis yang dalam.
Tak hanya itu, paparan konten tontonan tertentu juga dinilai berkontribusi. Meski tidak menjadi penyebab tunggal, konten tersebut berpotensi memperkuat fantasi kekerasan pada anak yang belum matang secara emosional.
Cerdas, Namun Tak Memahami Konsekuensi
Ironisnya, kecerdasan tinggi A tidak sejalan dengan pemahaman terhadap konsekuensi moral dan hukum. Secara kognitif, ia mampu berpikir kompleks, namun belum memiliki kematangan emosional untuk memahami dampak perbuatannya.
“Secara intelektual sangat cerdas, tetapi ia tidak memahami konsekuensi dari tindakannya. Karena itu, ia membutuhkan pendampingan khusus dalam proses hukum,” tegas Irna.
Perhatian Serius bagi Perlindungan Anak
Kasus ini menjadi pengingat keras bagi semua pihak tentang pentingnya kesehatan mental anak. Aparat penegak hukum, psikolog, serta lembaga perlindungan anak kini dihadapkan pada tantangan besar dalam menangani kasus pidana berat yang melibatkan anak di bawah umur.
Pendekatan hukum yang humanis, rehabilitatif, dan berorientasi pemulihan menjadi kunci agar tragedi serupa tidak terulang di masa depan. Menurut Anda, sejauh mana lingkungan dan pola asuh berperan dalam mencegah tragedi seperti ini?
Sumber: Liputan6
Baca Juga:
Wow! Negara Komunis Ini Naikkan Tunjangan Guru Sampai 70%
Tren Baru! Brave Pink Hero Green Ramai Dipakai di Medsos
Saksikan berita lainnya:







