Jurnal Pelopor – Presiden Prabowo Subianto kembali menyoroti pergerakan harga saham yang sempat menjadi perhatian publik. Dalam sambutannya saat menghadiri program tanam raya di Ogan Ilir, Sumatera Selatan pada Rabu (23/4/2025), Prabowo mengatakan masyarakat tidak perlu cemas meskipun harga saham naik turun. Menurutnya, yang paling penting adalah Indonesia mampu memproduksi pangan sendiri untuk mencukupi kebutuhan rakyatnya.
“Enggak usah takut saham naik atau turun. Bapak punya saham? Enggak? Ya udah enggak usah takut,” ujar Prabowo sambil bercanda.
Ia menyebut bahwa fluktuasi saham bukan masalah besar selama ketahanan pangan nasional terjaga.
“Selama kita bisa produksi pangan, negara kita aman. Negara kita kuat, negara kita kaya,” tegasnya.
Apresiasi untuk Petani dan Pejabat yang Turun ke Lapangan
Dalam pidatonya, Prabowo juga memberi penghargaan kepada seluruh pihak yang mendukung produksi pangan, mulai dari Menteri Pertanian Amran Sulaiman, para kepala daerah, hingga kelompok tani. Ia bahkan sempat melontarkan candaan soal penampilan Menteri Pertanian.
“Kalau Menteri Pertanian tidak hitam (karena matahari), saya curiga. Harusnya memang di lapangan terus,” ucapnya sambil tertawa.
Saham Anjlok, Presiden Santai, Menteri Stres
Sebelumnya, Prabowo juga sempat menyinggung kondisi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang anjlok hingga menyebabkan penghentian sementara perdagangan (trading halt) pada 18 Maret 2025. Dalam Sidang Kabinet Paripurna, Prabowo menyebut beberapa menteri terlihat stres akibat kondisi pasar tersebut, seperti Sakti Wahyu Trenggono dan Maruarar Sirait. Namun, ia juga menyoroti ada menteri yang tetap tenang karena tak punya saham.
“Kalau Budiman (Kepala Badan Pengentasan Kemiskinan) tenang aja, karena enggak punya saham,” kelakarnya.
Pengamat Kritik Pemerintah soal Ketidakpastian Ekonomi
Di sisi lain, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menilai gejolak pasar menunjukkan menurunnya kepercayaan publik terhadap kebijakan pemerintah. Bhima menyebut salah satu faktor penyebabnya adalah meningkatnya peran militer dalam program-program non-keamanan, seperti Food Estate dan Makan Bergizi Gratis.
“Trust kita terhadap kebijakan publik bisa dikatakan minus saat ini,” kata Bhima.
Ia mengingatkan agar pemerintah lebih transparan dan tidak mengaburkan fokus kebijakan ekonomi di tengah peran militer yang kian meluas.
Fokus pada Ketahanan Pangan Jadi Kunci Stabilitas
Meski begitu, Prabowo tetap meyakini bahwa kekayaan alam Indonesia akan menjadi modal utama dalam menjaga stabilitas negara. Ia mengajak semua pihak agar fokus pada produksi pangan sebagai pondasi utama kekuatan nasional. “Saham boleh naik turun, tapi kalau perut rakyat kenyang, negara ini tetap berdiri tegak,” tutupnya.
Sumber: Tempo.com
Baca Juga:
Tanpa Target Juara, Sukorejo FC Bikin Kejutan di Bali 7’s 2025!
Hari Bumi 2025: BKPRMI Galang Aksi Tanam 1 Juta Pohon
Saksikan berita lainnya:







