Jurnal Pelopor — Kekalahan Persija Jakarta dari Persib Bandung dalam laga panas BRI Super League 2025/2026 menyisakan kekecewaan mendalam bagi pelatih Macan Kemayoran, Mauricio Souza. Usai laga yang berakhir dengan skor 0-1 di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Souza secara terbuka meluapkan unek-uneknya, terutama soal jalannya pertandingan yang dinilainya terlalu sering terhenti serta keputusan wasit yang dianggap merugikan timnya.
Persija Tumbang di Derbi Klasik
Persija harus mengakui keunggulan tuan rumah Persib dalam duel bertajuk derbi klasik Indonesia tersebut. Gol cepat Beckham Putra Nugraha pada menit keempat menjadi pembeda sekaligus memastikan Maung Bandung mengunci kemenangan penting di pekan ke-17.
Situasi semakin berat bagi Persija setelah harus bermain dengan sepuluh pemain sejak menit ke-53. Bruno Tubarao diganjar kartu merah langsung oleh wasit Ko Hyung-jin usai melakukan pelanggaran keras. Kondisi ini membuat Persija kesulitan mengembangkan permainan hingga peluit akhir dibunyikan.
Mauricio Souza Keluhkan Intensitas Laga
Dalam konferensi pers seusai pertandingan, Mauricio Souza menyoroti jalannya laga yang menurutnya kehilangan intensitas akibat terlalu banyak interupsi. Ia menilai pertandingan dengan tensi tinggi seperti Persib vs Persija seharusnya berjalan lebih mengalir dan minim gangguan.
“Saya ingin melihat pertandingan di Indonesia lebih intens. Intensitas di dalam lapangan harusnya dijaga, tapi pertandingan ini terlalu sering berhenti,” ujar Souza.
Ia menambahkan, banyaknya bola mati dan interaksi panjang antara wasit dan pemain membuat ritme permainan terus terputus. Hal itu, menurutnya, merugikan kualitas pertandingan secara keseluruhan.
Sorotan Tajam untuk Wasit
Souza secara khusus mengkritisi kepemimpinan wasit Ko Hyung-jin. Pelatih asal Brasil itu menilai sang pengadil lapangan terlalu banyak berbicara dengan pemain saat terjadi pelanggaran, alih-alih langsung mengambil keputusan.
“Setiap free kick, wasit datang, bicara lama dengan pemain. Kalau memang pelanggaran, ya putuskan saja. Kalau penalti, kasih penalti. Jangan membuat pertandingan berhenti terus,” tegasnya.
Puncak kekecewaan Souza tertuju pada keputusan wasit yang hanya memberikan tambahan waktu empat menit di akhir pertandingan, meski laga dinilai banyak terhenti.
Waktu Efektif Jadi Masalah Lama
Souza bahkan menyebut waktu efektif pertandingan jauh dari ideal. Menurut perhitungannya, bola aktif di babak pertama hanya sekitar 23 menit, sementara di babak kedua sekitar 22 menit.
“Penonton membeli tiket untuk 90 menit pertandingan. Tapi yang mereka tonton efektifnya hanya sekitar 45 sampai 47 menit,” ungkapnya.
Ia menilai persoalan ini bukan kali pertama terjadi dan sudah menjadi masalah klasik dalam kompetisi sepak bola nasional, terutama akibat terlalu banyak bola mati dan waktu terbuang.
Persaingan Ketat Musim Ini
Meski kecewa dengan hasil dan kepemimpinan wasit, Souza mengakui persaingan musim ini sangat ketat. Kekalahan dari Persib menjadi pukulan bagi Persija, sementara bagi Maung Bandung, kemenangan ini mengokohkan posisi mereka di papan atas klasemen.
Laga Persib vs Persija kembali membuktikan bahwa derbi klasik Indonesia bukan hanya soal hasil, tetapi juga menyisakan perdebatan panjang soal kualitas kompetisi. Pertanyaannya kini, apakah keluhan Mauricio Souza akan menjadi pemicu perbaikan serius terhadap waktu efektif dan standar kepemimpinan wasit di BRI Super League?
Sumber: Bola.com
Baca Juga:
Wow! Negara Komunis Ini Naikkan Tunjangan Guru Sampai 70%
Tren Baru! Brave Pink Hero Green Ramai Dipakai di Medsos
Saksikan berita lainnya:







