Jurnal Pelopor — Papua Nugini dan Australia resmi menyepakati rancangan pakta pertahanan baru yang akan memperkuat kerja sama militer kedua negara. Kesepakatan ini dinilai sebagai langkah strategis untuk merespons dinamika keamanan di kawasan Pasifik yang semakin dipengaruhi oleh kehadiran China.
Perjanjian tersebut mencakup komitmen saling membantu bila terjadi serangan bersenjata, sekaligus membuka jalan bagi peningkatan latihan bersama, berbagi intelijen, hingga peningkatan kapasitas pertahanan Papua Nugini. Canberra menegaskan bahwa kerja sama ini bukan ditujukan untuk menyingkirkan pihak lain, melainkan untuk menjaga stabilitas kawasan.
China Beri Peringatan Keras
Meski demikian, Beijing menunjukkan sikap waspada. Melalui Kedutaan Besar China di Port Moresby, pemerintah China mengingatkan agar kesepakatan Papua Nugini-Australia tidak bersifat eksklusif ataupun menargetkan pihak ketiga.
“Kesepakatan itu seharusnya tidak merusak hak dan kepentingan sah pihak lain, termasuk China,” ujar juru bicara Kedutaan Besar China, Jumat (19/9/2025).
China juga mendesak agar Papua Nugini tetap menjunjung tinggi kemerdekaan dan kemandirian, serta melanjutkan kerja sama ekonomi yang telah terjalin. Selama satu dekade terakhir, Beijing telah menggelontorkan miliaran dolar untuk membangun infrastruktur di kawasan Pasifik, mulai dari rumah sakit, stadion olahraga, jalan raya, hingga fasilitas publik lain.
Australia Kian Agresif di Pasifik
Australia, yang selama ini menjadi mitra utama Papua Nugini, meningkatkan keterlibatannya di kawasan untuk meredam dominasi Beijing. Perjanjian ini dipandang sebagai upaya mempererat kembali hubungan dengan negara bekas koloninya yang strategis di Melanesia.
Kedua pemerintah menyebut, dokumen final akan ditandatangani setelah proses kabinet di masing-masing negara rampung. Dalam naskah kesepakatan, tertulis bahwa setiap kerja sama dengan pihak ketiga tidak boleh menghambat implementasi perjanjian, sebuah sinyal jelas kepada China.
Perdana Menteri Papua Nugini, James Marape, bahkan menyatakan akan mengirim Menteri Pertahanan Billy Joseph ke Beijing guna menjelaskan isi pakta tersebut, sekaligus meredakan ketegangan.
Papua Nugini dalam Pusaran Rivalitas Besar
Sebagai negara terbesar dan terpadat di Melanesia, Papua Nugini kini berada di garis depan rivalitas strategis Australia dan China. Sementara dukungan ekonomi Beijing menarik simpati beberapa negara Pasifik seperti Kepulauan Solomon, Kiribati, dan Nauru yang beralih mengakui China ketimbang Taiwan, Papua Nugini tampak memilih menjaga keseimbangan.
Pakta dengan Australia memberi Port Moresby jaminan keamanan, tetapi hubungan ekonomi dengan China tetap dianggap vital. Situasi ini membuat Papua Nugini memainkan peran ganda: memperkuat ikatan militer dengan Australia sambil menjaga kedekatan finansial dengan Beijing.
Kesimpulan
Kesepakatan pertahanan Papua Nugini-Australia membuka babak baru persaingan pengaruh di Pasifik. Di satu sisi, Canberra berusaha mempertahankan posisinya sebagai mitra utama kawasan. Di sisi lain, China mengingatkan agar langkah itu tidak menjadi alat untuk membatasi kepentingannya.
Pertanyaan besarnya kini: mampukah Papua Nugini menjaga keseimbangan antara dua kekuatan besar dunia, atau justru terseret lebih jauh dalam pusaran geopolitik yang semakin panas?
Sumber: Detik.com
Baca Juga:
Wow! Negara Komunis Ini Naikkan Tunjangan Guru Sampai 70%
Tren Baru! Brave Pink Hero Green Ramai Dipakai di Medsos
Saksikan berita lainnya:







