Jurnal Pelopor – Media sosial kembali dihebohkan oleh kemunculan grup Facebook berisi konten penyimpangan seksual. Setelah grup “Fantasi Sedarah” resmi diblokir dan para pengelolanya ditangkap polisi, kini publik dibuat geger dengan keberadaan grup baru bernama “G*y Tuban Lamongan Bojonegoro”.
Grup g*y ini bukan sembarangan, anggotanya sudah tembus 10 ribu orang. Parahnya, grup tersebut berisi ajakan dan pencarian pasangan sesama jenis secara terang-terangan, lengkap dengan fitur anonim yang memungkinkan anggotanya memposting tanpa identitas. Fenomena ini pertama kali diungkap akun Instagram @dhemit_is_back01, yang lantas viral karena memuat cuplikan isi grup tersebut.
Warganet Bereaksi Keras: “Bukan Lagi Soal Toleransi, Ini Penyimpangan!”
Respons publik tak butuh waktu lama untuk meledak. Komentar demi komentar bermunculan, mulai dari ekspresi kecewa, geram, hingga doa agar para pelaku diberi hidayah. Banyak netizen menganggap ini sudah melampaui batas.
“Perbedaan masih bisa kami toleransi, tapi tidak dengan penyimpangan,” tulis seorang pengguna.
“Naudzubillah, semoga segeda dapat hidayah,” kata yang lain.
“Umat yang dirindukan pedang Umar bin Khattab,” ujar lainnya dengan nada tegas.
Banyak yang mendesak agar pihak berwenang, terutama Kominfo dan aparat kepolisian, segera bertindak sebelum grup serupa menjamur dan meracuni generasi muda lewat platform digital.
Ancaman Serius di Balik Layar: Normalisasi Konten Menyimpang
Fenomena grup-grup seperti ini bukan sekadar soal selera atau kebebasan berekspresi. Ini sudah menyentuh ranah potensi pelanggaran hukum, penyebaran konten tak senonoh, bahkan eksploitasi seksual terselubung. Sebelumnya, kasus “Fantasi Sedarah” berhasil dibongkar oleh Bareskrim Polri. Enam orang ditangkap dari berbagai wilayah seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, Lampung, dan Bengkulu karena terlibat dalam penyebaran konten inses dan pelecehan seksual.
Kini, publik bertanya-tanya: Sampai kapan ruang digital dibiarkan menjadi ladang konten menyimpang tanpa kontrol yang tegas?
Grup-grup ini bisa jadi hanya permukaan dari gunung es. Lantas, apakah Facebook dan otoritas terkait akan kembali bertindak tegas sebelum masyarakat semakin kehilangan arah?
Sumber: Ayo Bandung
Baca Juga:
Tanpa Target Juara, Sukorejo FC Bikin Kejutan di Bali 7’s 2025!
Hari Bumi 2025: BKPRMI Galang Aksi Tanam 1 Juta Pohon
Saksikan berita lainnya:
Demo Besar Tolak Revisi UU TNI: Apa Dampaknya bagi Demokrasi Indonesia?







