Jurnal Pelopor – Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah kelompok Hizbullah menanggapi peringatan keras dari Amerika Serikat (AS) terkait konflik yang sedang berlangsung antara Iran dan Israel. Dalam pernyataannya, Wakil Pemimpin Hizbullah Naim Qassem menegaskan bahwa organisasinya tidak akan tunduk pada tekanan Washington, dan tetap mendukung Iran jika situasi berkembang menjadi konfrontasi terbuka.
Peringatan tersebut disampaikan langsung oleh utusan khusus Presiden AS Donald Trump, Thomas Barrack, dalam kunjungannya ke Lebanon baru-baru ini. Barrack bertemu dengan jajaran pejabat tinggi Lebanon, termasuk Ketua Parlemen Nabih Berri, politikus senior Syiah yang dikenal sebagai sekutu dekat Hizbullah. Seusai pertemuan, Barrack menegaskan,
“Atas nama Presiden Trump, saya sampaikan bahwa akan menjadi keputusan yang sangat, sangat buruk jika Hizbullah memutuskan terlibat dalam konflik Iran-Israel.”
Reaksi Pemerintah Lebanon
Sementara itu, Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam berupaya menenangkan situasi. Ia menyatakan bahwa pemerintah Lebanon tetap memegang teguh prinsip keamanan dan stabilitas nasional. Nawaf menegaskan bahwa negaranya menolak terseret dalam konflik regional mana pun.
“Komitmen kami jelas: Lebanon tidak akan menjadi medan perang bagi pihak mana pun,” ujarnya usai pertemuan dengan Barrack.
Posisi Tegas Hizbullah
Meski mengalami kerugian besar dalam perang sebelumnya melawan Israel, Hizbullah tetap bersikap tegas. Naim Qassem menolak anggapan bahwa kelompoknya bisa ditekan untuk bersikap netral.
“Kami tidak bisa diam ketika sekutu kami, Iran, berada dalam ancaman. Jika diperlukan, kami tahu posisi kami,” ujarnya dalam wawancara dengan media lokal.
Menurut pengamat politik Timur Tengah, sikap Hizbullah ini bisa memicu eskalasi konflik, terutama jika Israel kembali melakukan serangan lintas batas seperti yang terjadi tahun lalu sebelum gencatan senjata pada November 2024. Israel selama ini menuding Hizbullah sebagai kepanjangan tangan Iran di Lebanon dan telah beberapa kali melancarkan operasi militer di wilayah perbatasan.
Ketegangan Kawasan Memuncak
Situasi di kawasan saat ini sangat sensitif. Iran dan Israel terlibat dalam perang tidak langsung melalui serangan udara, siber, dan dukungan kepada kelompok-kelompok milisi di Suriah, Irak, Yaman, dan Lebanon. Keterlibatan Hizbullah dalam konflik terbuka berpotensi memperluas cakupan perang menjadi lebih regional, bahkan global, apalagi dengan kehadiran militer AS di kawasan seperti Teluk Persia dan Mediterania Timur.
Kesimpulan
Hizbullah menegaskan tidak akan tunduk pada tekanan AS dan tetap berkomitmen untuk mendukung Iran jika konflik dengan Israel semakin memanas. Di sisi lain, pemerintah Lebanon berusaha menjaga posisi netral demi stabilitas nasional. Dunia kini menanti langkah selanjutnya dari kelompok bersenjata itu di tengah konflik yang bisa berubah menjadi krisis skala penuh kapan saja.
Sumber: Liputan6
Baca Juga:
Singonoyo Cup Meledak! Legenda Persibo Turun Gunung
Takut Ekonomi Ambruk? Ini Aset Aman Selain Emas
Saksikan berita lainnya:







