Jurnal Pelopor – Fase liga Liga Champions musim 2025/2026 resmi berakhir dengan kejutan besar. Sejumlah raksasa Eropa harus menelan pil pahit, termasuk Paris Saint-Germain dan Real Madrid, yang gagal menembus delapan besar klasemen akhir. Sebaliknya, Arsenal tampil nyaris tanpa cela dan mengunci posisi puncak dengan performa sempurna, menegaskan status mereka sebagai salah satu kandidat terkuat juara musim ini.
Arsenal Tak Terbendung di Puncak
Arsenal menutup fase liga dengan catatan luar biasa. Delapan pertandingan dilalui dengan delapan kemenangan, menghasilkan total 24 poin sempurna. Kemenangan 3-2 atas Kairat Almaty di laga terakhir menjadi simbol konsistensi The Gunners sepanjang fase liga.
Bukan hanya produktif, Arsenal juga sangat solid. Mereka mencetak 23 gol dan hanya kebobolan empat kali. Kombinasi ketajaman lini depan dan disiplin pertahanan membuat tim asal London Utara ini tak pernah benar-benar berada dalam tekanan serius sepanjang fase liga.
Performa ini memberi pesan jelas kepada para pesaing: Arsenal datang ke Liga Champions bukan sekadar untuk bersaing, tetapi untuk menantang sejarah.
Delapan Besar yang Lolos Langsung
Di bawah Arsenal, Bayern Munich finis di posisi kedua dengan 21 poin. Liverpool dan Tottenham Hotspur menyusul di peringkat tiga dan empat, menandai dominasi kuat klub-klub Inggris di papan atas.
Empat slot terakhir delapan besar diisi oleh Barcelona, Chelsea, Sporting, dan Manchester City. Persaingan menuju posisi ini berlangsung dramatis hingga laga terakhir, dengan beberapa tim harus bertukar posisi di menit-menit akhir fase liga.
Kedelapan tim ini berhak melaju langsung ke babak 16 besar tanpa harus melewati jalur play-off. Keuntungan besar ini memberi mereka waktu istirahat lebih panjang sekaligus persiapan yang lebih matang menuju fase gugur.
Real Madrid: Kekalahan yang Terlalu Mahal
Sorotan utama tertuju pada Real Madrid. Klub dengan koleksi gelar Liga Champions terbanyak itu justru tergelincir di laga terakhir. Kekalahan 2-4 dari Benfica membuat Madrid terlempar ke posisi sembilan klasemen akhir.
Dengan raihan 15 poin, Los Blancos sebenarnya masih kompetitif. Namun, hasil buruk di momen krusial membuat mereka harus menempuh jalur play-off. Bagi Madrid, ini bukan hanya soal posisi, tetapi juga pukulan psikologis yang cukup keras mengingat reputasi mereka di kompetisi ini.
PSG Terjebak Hasil Imbang
Nasib serupa dialami Paris Saint-Germain. Harapan untuk finis di delapan besar pupus setelah mereka bermain imbang 1-1 melawan Newcastle United di matchday terakhir. Hasil tersebut justru saling menjatuhkan, karena kedua tim sama-sama gagal mengamankan posisi aman.
PSG menutup fase liga dengan 14 poin, satu angka di bawah batas delapan besar. Meski masih memiliki peluang di babak play-off, kegagalan ini menjadi pengingat bahwa konsistensi tetap menjadi masalah klasik bagi klub asal Prancis tersebut.
Peta Persaingan Makin Panas
Dengan berakhirnya fase liga, peta kekuatan Liga Champions kini semakin menarik. Klub-klub mapan masih berpeluang bangkit lewat play-off, sementara tim yang lolos langsung ke 16 besar memiliki keuntungan strategis yang signifikan.
Liga Champions musim ini kembali membuktikan satu hal: nama besar tidak selalu menjamin jalan mulus. Di level tertinggi Eropa, satu kesalahan kecil bisa berdampak besar. Pertanyaannya kini, siapa yang mampu bangkit dari jalur terjal, dan siapa yang benar-benar siap melaju hingga akhir?
Baca Juga:
Wow! Negara Komunis Ini Naikkan Tunjangan Guru Sampai 70%
Tren Baru! Brave Pink Hero Green Ramai Dipakai di Medsos
Saksikan berita lainnya:







