Jurnal Pelopor – Indonesia tercatat masih menjadi importir bahan bakar minyak (BBM) terbesar dari beberapa negara. Data Badan Statistik Indonesia (BSI) menunjukkan impor BBM dari Singapura paling dominan, mencapai 15,07 juta ton atau setara 15.072.544.366 kg sepanjang Januari-Desember 2024 dengan nilai mencapai US$ 11,4 miliar.
Pemasok BBM Terbesar ke Indonesia
Setelah Singapura, Malaysia menjadi negara pemasok BBM terbesar kedua bagi Indonesia. Sepanjang 2024, impor BBM dari Malaysia tercatat sebanyak 6,14 juta ton (6.142.308.425 kg) dengan nilai US$ 4,52 miliar.
Berikut daftar impor BBM Indonesia dari berbagai negara sepanjang 2024:
| Negara | Volume Impor (kg) | Nilai (USD) |
|---|---|---|
| Singapura | 15.072.544.366 | 11.404.019.938 |
| Malaysia | 6.142.308.425 | 4.524.901.336 |
| Arab Saudi | 3.428.428.989 | 2.053.001.047 |
| Korea Selatan | 893.212.589 | 720.869.788 |
| Uni Emirat Arab | 964.597.344 | 691.168.929 |
| Taiwan | 318.918.331 | 255.343.478 |
| Rusia | 359.685.057 | 210.106.607 |
| Qatar | 124.598.178 | 124.066.257 |
| Bahrain | 162.426.720 | 91.956.364 |
| Yunani | 103.920.109 | 67.299.014 |
| Malta | 79.358.413 | 45.417.308 |
| Brunei Darussalam | 59.531.620 | 40.856.271 |
| Irak | 48.106.000 | 19.675.383 |
Penyebab Tingginya Impor BBM: Produksi Minyak RI Terus Turun
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, secara tegas mengungkap bahwa Indonesia sengaja dibuat ketergantungan pada impor minyak dan BBM. Hal ini disebabkan oleh turunnya produksi minyak (lifting) dalam negeri yang drastis dalam beberapa dekade terakhir.
- Pada 1996-1997, produksi minyak Indonesia bisa mencapai 1,5-1,6 juta barel per hari (bph).
- Konsumsi BBM waktu itu sekitar 500.000 bph, sehingga Indonesia masih mampu mengekspor sekitar 1 juta bph.
- Kini, produksi minyak turun drastis menjadi sekitar 580.000 bph, sementara kebutuhan BBM meningkat menjadi 1,6 juta bph.
- Akibatnya, Indonesia harus mengimpor sekitar 1 juta bph untuk memenuhi kebutuhan domestik.
Pernyataan Tegas Menteri ESDM Bahlil Lahadalia
Dalam acara 2025 Energy & Mineral Forum di Kempinski Jakarta, Senin (2/6/2025), Bahlil menegaskan:
“Pertanyaan berikut adalah apakah penurunan lifting karena berkurangnya sumber daya alam, atau sengaja diturunkan agar impor terus berlangsung? Saya katakan demi Allah, menurut saya ini ada unsur kesengajaan by design.”
Bahlil menyatakan kesiapannya untuk menghadapi tantangan tersebut demi kepentingan negara:
“Saya tidak mundur sedikit pun menghadapi orang-orang seperti ini.”
Dia juga menambahkan bahwa Indonesia memiliki hampir 40.000 sumur migas, namun hanya kurang dari 20.000 sumur yang produktif, sisanya tidak berfungsi maksimal.
Langkah Pemerintah ke Depan
Bahlil menyinggung rencana pemerintah untuk mengalihkan sumber impor BBM dari Singapura ke Amerika Serikat dan Timur Tengah sebagai upaya diversifikasi sumber impor agar lebih strategis dan mengurangi ketergantungan.
Kesimpulan
Indonesia saat ini masih sangat bergantung pada impor BBM, terutama dari Singapura dan Malaysia, akibat turunnya produksi minyak nasional. Pemerintah melalui Menteri ESDM berupaya mengatasi kondisi ini dengan strategi diversifikasi impor dan meningkatkan produksi dalam negeri. Namun, isu “by design” dalam penurunan lifting minyak masih menjadi perdebatan yang memerlukan perhatian serius.
Sumber: CNBC Indonesia
Baca Juga:
Tanpa Target Juara, Sukorejo FC Bikin Kejutan di Bali 7’s 2025!
Hari Bumi 2025: BKPRMI Galang Aksi Tanam 1 Juta Pohon
Saksikan berita lainnya:
Demo Besar Tolak Revisi UU TNI: Apa Dampaknya bagi Demokrasi Indonesia?







