Jurnal Pelopor — Pemerintah Arab Saudi kembali melontarkan kecaman keras terhadap Iran atas serangan balasan ke negara-negara Teluk serta langkah menutup Selat Hormuz. Riyadh menilai tindakan tersebut mengancam stabilitas kawasan dan pasokan energi global.
Saudi Sebut Serangan Iran sebagai Agresi
Kecaman itu disampaikan oleh perwakilan Arab Saudi di Dewan HAM PBB, Abdulmohsen bin Khothaila. Ia menegaskan bahwa serangan Iran terhadap negara-negara tetangganya tidak dapat dibenarkan.
Menurutnya, Teheran harus bertanggung jawab atas tindakan tersebut. Ia juga memperingatkan bahwa kebijakan agresif Iran tidak akan membawa hasil positif dan justru memperkeruh situasi di kawasan.
Ketegangan Dipicu Konflik Besar
Situasi memanas sejak serangan gabungan yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari 2026.
Serangan tersebut memicu balasan dari Iran berupa rudal dan drone ke berbagai target, termasuk di Israel dan negara-negara Teluk yang menjadi basis militer AS. Arab Saudi sendiri menjadi salah satu target utama, meski sebagian besar serangan berhasil dicegat.
Dampak Korban dan Kerusakan
Rentetan serangan ini menimbulkan korban jiwa dan kerusakan di berbagai wilayah. Dilaporkan, ribuan orang terdampak, termasuk korban tewas dan luka-luka.
Selain itu, puluhan personel militer juga menjadi korban dalam konflik ini. Situasi ini semakin mempertegas eskalasi konflik yang kian meluas di Timur Tengah.
Selat Hormuz Jadi Sorotan Dunia
Penutupan Selat Hormuz oleh Iran menjadi perhatian utama. Jalur ini merupakan salah satu rute pengiriman energi paling vital di dunia.
Sebelum konflik, sekitar 20–30 persen konsumsi minyak global dan sebagian besar LNG dunia melewati selat ini. Gangguan di jalur tersebut langsung berdampak pada lonjakan harga minyak dan biaya logistik global.
Ancaman bagi Ekonomi Global
Langkah Iran membatasi akses kapal dagang memicu kekhawatiran besar di pasar internasional. Banyak negara kini menghadapi risiko terganggunya pasokan energi.
Kondisi ini juga berdampak pada kenaikan harga minyak dunia serta meningkatnya biaya pengiriman. Jika situasi terus berlanjut, bukan tidak mungkin krisis energi global akan semakin memburuk.
Kini, dunia menanti langkah selanjutnya dari para pihak terkait. Akankah ketegangan ini mereda, atau justru semakin meluas dan berdampak lebih besar bagi ekonomi global?
Baca Juga:
Wow! Negara Komunis Ini Naikkan Tunjangan Guru Sampai 70%
Tren Baru! Brave Pink Hero Green Ramai Dipakai di Medsos
Saksikan berita lainnya:






