Jurnal Pelopor – Program Internet Rakyat yang baru diluncurkan pemerintah langsung menarik perhatian publik. Sayangnya, tingginya minat masyarakat justru dimanfaatkan pihak tak bertanggung jawab untuk menyebarkan berbagai informasi hoaks di media sosial. Sejumlah unggahan menyesatkan beredar luas, terutama melalui Facebook, dengan klaim pendaftaran internet gratis dan kuota besar tanpa biaya.
Hoaks-hoaks tersebut umumnya menyasar masyarakat yang belum memahami mekanisme resmi program Internet Rakyat. Akibatnya, banyak warganet tergiur mengklik tautan palsu yang berpotensi membahayakan data pribadi.
Modus Hoaks Berkedok Internet Gratis
Salah satu hoaks paling ramai beredar mengklaim adanya link pendaftaran Internet Rakyat gratis hingga 25 GB. Unggahan tersebut dilengkapi poster digital bertuliskan kecepatan 100 Mbps dan janji kuota gratis selama tiga bulan. Narasinya dibuat meyakinkan dengan kalimat ajakan seperti “Tetap Online Tanpa Beban Biaya”.
Namun, setelah ditelusuri, tautan tersebut justru mengarah ke situs tidak resmi. Di halaman tersebut, pengguna diminta mengisi formulir digital yang meminta data pribadi, mulai dari nama lengkap hingga nomor Telegram. Praktik ini patut diwaspadai karena berpotensi menjadi upaya pencurian data.
Klaim Gratis Tiga Bulan untuk Pendaftar Baru
Selain kuota 25 GB, hoaks lain juga menyebut Internet Rakyat gratis selama tiga bulan khusus pendaftar baru. Unggahan ini menyebar dengan format hampir serupa, lengkap dengan poster “Pra-Registrasi Internet Rakyat” dan menu daftar yang tampak profesional.
Faktanya, link yang dicantumkan kembali mengarahkan pengguna ke situs yang tidak memiliki afiliasi resmi dengan program pemerintah. Situs tersebut kembali meminta informasi pribadi yang sensitif. Tidak ada keterangan resmi dari pemerintah yang menyebut pendaftaran Internet Rakyat dilakukan melalui tautan semacam itu.
Janji Modem Gratis dan Layanan Langsung Aktif
Hoaks berikutnya mengklaim Internet Rakyat menyediakan modem gratis, layanan langsung aktif, serta bebas biaya selama tiga bulan. Unggahan ini menargetkan keluarga Indonesia dengan narasi seolah-olah program tersebut sudah siap dipasang di rumah.
Setelah diverifikasi, klaim ini juga tidak benar. Pola yang digunakan tetap sama, yakni mengarahkan korban ke formulir digital palsu. Permintaan data pribadi menjadi tanda kuat bahwa informasi tersebut merupakan hoaks.
Ciri Umum Hoaks Internet Rakyat
Dari sejumlah temuan, terdapat beberapa ciri utama hoaks seputar Internet Rakyat. Pertama, penggunaan kata “gratis” secara berlebihan. Kedua, tautan menggunakan domain mencurigakan dan bukan situs resmi pemerintah. Ketiga, adanya permintaan data pribadi yang tidak lazim, seperti nomor Telegram.
Masyarakat diimbau untuk selalu mengecek informasi melalui kanal resmi pemerintah dan tidak mudah tergiur janji layanan gratis.
Pentingnya Literasi Digital Masyarakat
Maraknya hoaks Internet Rakyat menunjukkan pentingnya literasi digital di tengah masyarakat. Program pemerintah yang bertujuan baik justru bisa disalahgunakan jika publik kurang waspada. Oleh karena itu, masyarakat diharapkan lebih kritis sebelum membagikan atau mengklik informasi yang belum terverifikasi.
Sumber: Liputan6
Baca Juga:
Wow! Negara Komunis Ini Naikkan Tunjangan Guru Sampai 70%
Tren Baru! Brave Pink Hero Green Ramai Dipakai di Medsos
Saksikan berita lainnya:







