Jurnal Pelopor – Di sela-sela deretan ruko komersial Jalan Lautze, Sawah Besar, Jakarta Pusat, berdiri sebuah bangunan yang menantang stereotip arsitektur rumah ibadah pada umumnya. Tanpa kubah bulat atau menara menjulang, Masjid Lautze hadir dengan estetika Tionghoa yang kental, didominasi warna merah dan kuning yang menyala—sebuah potret nyata betapa Islam dan budaya Tionghoa dapat berpadu secara menawan.
Keunikan ini memikat Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, yang berkunjung dalam agenda Safari Ramadhan 1447 H pada Sabtu (21/2/2026). Rano mengaku terkesan dengan bangunan empat lantai ini yang menurutnya lebih mirip kelenteng, namun menyimpan ruh keislaman yang kuat.
Jejak Sejarah dan Tokoh Besar
Masjid Lautze bukan sekadar bangunan baru. Berdirinya masjid ini memiliki akar sejarah yang dalam dengan tokoh-tokoh bangsa:
-
Pengelola: Dikelola oleh Yayasan Haji Karim Oei, sosok yang mendedikasikan hidupnya untuk syiar Islam di kalangan keturunan Tionghoa.
-
Peresmian: Didirikan pada 1991 dan diresmikan langsung oleh Presiden ke-3 RI, BJ Habibie, pada 4 Februari 1994.
-
Asal Nama: Nama “Lautze” merujuk pada tokoh Muslim Tionghoa yang berikrar syahadat pada era 1930-an.
Oase Ramadhan bagi Mualaf dan Warga
Memasuki bulan suci Ramadhan 2026, Masjid Lautze menjadi pusat kegiatan sosial yang inklusif. Tidak hanya menjadi tempat ibadah bagi etnis Tionghoa, masjid ini adalah rumah bagi siapa saja.
Beberapa program unggulan yang dijalankan meliputi:
-
Buka Puasa Bersama: Mengundang mualaf dan warga sekitar untuk memupuk persaudaraan.
-
Program “6 Jam Bisa Ngaji”: Metode inovatif belajar membaca Al-Qur’an secara kilat hasil kerja sama dengan lembaga zakat.
-
Layanan Kesehatan: Penyediaan pengobatan gratis bagi masyarakat yang membutuhkan.
“Masjid Lautze memiliki keunikan tersendiri. Ini adalah jembatan keberagaman melalui jalur religi dan budaya di Jakarta,” ujar Rano Karno di sela kunjungannya.
Sekilas Profil Masjid Lautze
| Komponen | Keterangan |
| Lokasi | Jalan Lautze No. 87-89, Sawah Besar, Jakarta Pusat |
| Arsitektur | Khas Tionghoa (Warna Merah & Kuning, Tanpa Kubah) |
| Pendiri/Pengelola | Yayasan Haji Karim Oei |
| Tahun Diresmikan | 1994 (Oleh BJ Habibie) |
| Fungsi Khusus | Pusat informasi dan pembinaan Mualaf Tionghoa |
Masjid Lautze membuktikan bahwa Islam di Indonesia tumbuh dengan cara merangkul kebudayaan lokal, bukan menghapusnya. Kehadiran Wagub Rano Karno di masjid ini juga menegaskan pengakuan pemerintah terhadap kontribusi komunitas Muslim Tionghoa dalam memperkaya khazanah keberagaman Jakarta. Di tengah modernitas Sawah Besar, Masjid Lautze tetap menjadi simbol yang mengingatkan kita bahwa perbedaan tampilan fisik hanyalah hiasan bagi substansi ibadah yang sama.
Baca Juga:
Wow! Negara Komunis Ini Naikkan Tunjangan Guru Sampai 70%
Tren Baru! Brave Pink Hero Green Ramai Dipakai di Medsos
Saksikan berita lainnya:




