Jurnal Pelopor – Ledakan hebat yang terjadi saat pemusnahan amunisi di Desa Sagara, Kecamatan Cibalong, Kabupaten Garut, Jawa Barat, memicu sorotan tajam dari DPR RI. Insiden tragis itu terjadi pada Minggu (11/5/2025) dan menewaskan 13 orang, termasuk empat prajurit TNI. Pemusnahan dilakukan oleh pihak TNI AD terhadap amunisi kedaluwarsa dari Gudang Pusat Amunisi (Gupusmu) III, Pusat Peralatan TNI AD (Puspalad).
Menanggapi kejadian tersebut, Anggota Komisi III DPR RI Lola Nelria Oktavia mendesak agar TNI dan Polri bersikap transparan dalam proses investigasi. Ia menilai, kegiatan seperti ini bukan yang pertama kali dilakukan, sehingga seharusnya ada perencanaan yang matang, terutama dalam hal pengamanan dan keselamatan petugas serta masyarakat sekitar.
“TNI dan Polri diharapkan dapat memberikan transparansi dalam penanganan kasus ini, sekaligus memperbaiki sistem keamanan dalam pengelolaan amunisi. Jangan sampai kejadian serupa terulang atau terjadi di tempat lain,” tegas Lola dalam pernyataannya di Jakarta, Senin (12/5/2025).
Sebagai wakil rakyat dari daerah pemilihan Jawa Barat XI, yang mencakup Garut, Tasikmalaya, dan Kota Tasikmalaya, Lola mengaku telah berkoordinasi dengan jajaran kepolisian setempat. Ia menyoroti fakta bahwa lokasi ledakan berjarak sekitar tiga jam dari Polres, sehingga semua tindakan dan antisipasi seharusnya telah diperhitungkan dengan cermat.
Meski tragedi ini menyisakan luka mendalam, Lola mengimbau semua pihak agar tidak berspekulasi sebelum hasil investigasi resmi keluar.
“Mari kita tunggu hasil investigasi resmi untuk memastikan keadilan bagi para korban. Tidak perlu ada spekulasi yang terlalu dini atas peristiwa ini,” tambahnya.
Lola juga menyampaikan belasungkawa mendalam kepada keluarga para korban, baik prajurit TNI maupun warga sipil yang turut menjadi korban.
“Turut berduka atas kejadian ledakan saat pemusnahan amunisi di Garut. Tragedi ini menyisakan luka mendalam, baik bagi keluarga korban maupun masyarakat luas. Semoga korban yang meninggal husnul khotimah dan yang terluka mendapat perawatan terbaik.”
Hingga kini, proses evakuasi telah dilakukan. Seluruh korban meninggal dunia telah dibawa ke RSUD Pameungpeuk untuk proses autopsi dan pemulasaraan jenazah. Tim Identifikasi Korban Bencana (DVI) Polri juga diturunkan untuk membantu proses identifikasi.
TNI sendiri masih terus melakukan sterilisasi lokasi untuk memastikan keamanan sisa bahan peledak yang mungkin masih ada. Pemeriksaan menyeluruh terhadap prosedur pemusnahan amunisi pun kini menjadi sorotan publik dan legislatif.
Sumber: Liputan6
Baca Juga:
Tanpa Target Juara, Sukorejo FC Bikin Kejutan di Bali 7’s 2025!
Hari Bumi 2025: BKPRMI Galang Aksi Tanam 1 Juta Pohon
Saksikan berita lainnya:
Demo Besar Tolak Revisi UU TNI: Apa Dampaknya bagi Demokrasi Indonesia?







