• About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact
Jurnal Pelopor | Pelopor Berita Terdepan dan Terpercaya
Advertisement
  • Beranda
  • Nasional
  • Lokal Daerah
  • Redaksi
  • Olahraga
  • Opini
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Nasional
  • Lokal Daerah
  • Redaksi
  • Olahraga
  • Opini
No Result
View All Result
Jurnal Pelopor | Pelopor Berita Terdepan dan Terpercaya
No Result
View All Result
Home News World

Laporkan Pelecehan, Pegawai Google Malah Dipecat

Karyawan Google klaim dipecat usai laporkan pelecehan seksual manajer, kasus disidangkan di pengadilan ketenagakerjaan London.

musa by musa
12/01/2026
in World
0
google
0
SHARES
0
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Jurnal Pelopor  —  Kasus dugaan pelecehan seksual di lingkungan kerja kembali menyeret nama perusahaan teknologi raksasa dunia. Seorang karyawan senior Google mengklaim dirinya justru diberhentikan setelah melaporkan tindakan kekerasan seksual yang dilakukan seorang manajer kepada klien dan rekan kerja. Klaim tersebut kini menjadi pokok perkara dalam sidang pengadilan ketenagakerjaan di London dan memicu sorotan luas terhadap komitmen perlindungan whistleblower di industri teknologi global.

Pengakuan Whistleblower di Pengadilan

Karyawan tersebut, Victoria Woodall, menyampaikan kesaksiannya di hadapan London Central Employment Tribunal. Ia mengaku menjadi korban pembalasan setelah melaporkan dugaan pelecehan seksual yang dilakukan seorang manajer Google UK. Menurut Woodall, laporan tersebut berujung pada pemecatan sang manajer, namun secara bersamaan justru memperburuk posisinya di perusahaan.

Melansir laporan BBC, Woodall menegaskan bahwa sejak melakukan pelaporan, ia mengalami serangkaian tindakan yang melemahkan peran dan kariernya. Google, di sisi lain, membantah tudingan pembalasan dan menyebut klaim Woodall sebagai bentuk kesalahpahaman serta interpretasi berlebihan terhadap dinamika bisnis internal.

Hasil Investigasi Internal Google

Dokumen pengadilan mengungkap bahwa investigasi internal Google UK menemukan bukti perilaku tidak pantas sang manajer. Ia dinyatakan telah menyentuh dua rekan kerja perempuan tanpa persetujuan, sebuah tindakan yang dikategorikan sebagai pelecehan seksual dan pelanggaran berat kebijakan perusahaan.

Selain itu, investigasi juga mencatat adanya komentar seksual eksplisit kepada klien perempuan selama acara bisnis. Klien tersebut menggambarkan perilaku sang manajer sebagai “menjijikkan” dan tidak pantas dilakukan dalam konteks profesional.

Tuduhan Budaya “Boys’ Club”

Dalam gugatannya, Woodall juga menuding adanya budaya kerja “boys’ club” di Google. Ia menyebut perusahaan pernah mendanai acara makan siang eksklusif pria hingga Desember 2022. Meski demikian, Google membantah keberadaan budaya tersebut dan menegaskan bahwa acara tersebut dihentikan karena tidak lagi sejalan dengan kebijakan internal perusahaan.

Google menyatakan tidak menemukan bukti sistemik yang mendukung klaim budaya diskriminatif berbasis gender dalam organisasi mereka.

Dugaan Pembalasan dan Pelemahan Posisi

Woodall mengklaim bahwa setelah melapor, ia dipaksa menukar akun klien yang sebelumnya sukses dengan akun bermasalah. Langkah itu ia sebut sebagai “poisoned chalice” karena membuatnya rentan terhadap kebijakan redundansi. Selain itu, ia juga mengaku diturunkan perannya dalam proyek internal besar serta mengalami penurunan penilaian kinerja.

Menurut Woodall, seluruh tindakan tersebut merupakan bagian dari upaya sistematis untuk menyingkirkannya dari perusahaan. Tuduhan ini dibantah oleh atasannya, Matt Bush, yang menyatakan bahwa rotasi akun klien merupakan praktik standar dan bukan bentuk hukuman.

Google Bantah Pemecatan Terkait Laporan

Google menegaskan bahwa Woodall tidak diberhentikan karena laporannya. Perusahaan menyebut posisinya termasuk salah satu dari 26 jabatan yang dihapus dalam proses reorganisasi. Google juga menyatakan bahwa manajemen justru mendukung pengungkapan kasus tersebut dan mengakui laporan Woodall sebagai tindakan whistleblowing yang sah.

Saat ini, Woodall masih tercatat sebagai karyawan dan menerima pembayaran sakit jangka panjang akibat stres kerja. Putusan pengadilan atas perkara ini dijadwalkan keluar dalam beberapa pekan ke depan.

Kasus ini pun menjadi ujian serius bagi perusahaan teknologi global dalam membuktikan komitmen terhadap perlindungan pelapor pelanggaran. Pertanyaannya, sejauh mana korporasi besar benar-benar melindungi mereka yang berani bersuara?

Sumber:  CNBC Indonesia

Baca Juga:

Wow! Negara Komunis Ini Naikkan Tunjangan Guru Sampai 70%

Tren Baru! Brave Pink Hero Green Ramai Dipakai di Medsos

Tren Baru! Brave Pink Hero Green Ramai Dipakai di Medsos

 

Saksikan berita lainnya:

Reformasi atau Langkah Mundur? Pengesahan RUU TNI 2025

5 Skandal Hakim Terbesar di Indonesia! Bisakah Prabowo Bersihkan Peradilan?

Tags: #Google #PelecehanSeksual #Whistleblower #HakPekerja #Pengadilan #Teknologi #BeritaInternasional
Previous Post

KPK Umumkan OTT Pajak Tanpa Hadirkan Tersangka

Next Post

Semeru Erupsi 30 Kali dalam 6 Jam, Status Tetap Siaga

musa

musa

Related Posts

greenland
World

Momen Krusial Greenland, Pernyataan Tegas PM Denmark

13/01/2026
ekspor
World

Maduro Dibui, Ekspor Minyak Venezuela ke AS Mulai Dibahas

07/01/2026
kolombia
World

Demi Kedaulatan, Presiden Kolombia Tantang AS dengan Senjata

07/01/2026
lahan
World

Lahan Strategis 500 Meter dari Masjidil Haram Dimenangkan RI

07/01/2026
venezuela
World

Berubah Sikap, Pemimpin Sementara Venezuela Siap Gandeng AS

06/01/2026
nicolas
World

Nicolas Maduro Buka Pengakuan di Sidang Perdana AS

06/01/2026
Next Post
erupsi

Semeru Erupsi 30 Kali dalam 6 Jam, Status Tetap Siaga

Jurnal Pelopor | Pelopor Berita Terdepan dan Terpercaya

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

Navigate Site

  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact

Follow Us

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Nasional
  • Lokal Daerah
  • Redaksi
  • Olahraga
  • Opini

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.