Jurnal Pelopor – Konflik di perbatasan Thailand–Kamboja kembali pecah pada Senin (8/12), menewaskan tiga tentara Thailand serta tujuh warga sipil Kamboja. Bentrokan tersebut memaksa puluhan ribu warga dari kedua negara mengungsi ke lokasi penampungan. Situasi ini makin memanas setelah Kamboja menuding Thailand melanggar hukum internasional dengan melakukan serangan udara di wilayah sengketa.
Kamboja: “Thailand Pilih Senjata daripada Diplomasi”
Kepala Komite Urusan Luar Negeri Majelis Nasional Kamboja, Suos Yara, menyebut Thailand tidak menghormati kepercayaan internasional. Ia menilai Bangkok lebih memilih operasi militer daripada membuka pintu dialog. “Mereka memilih senjata daripada diplomasi,” kata Yara, menegaskan bahwa Kamboja hanya menginginkan penghentian kekerasan secepat mungkin.
Akar Konflik Seratus Tahun
Pertikaian kedua negara bukan hal baru. Masalah ini berakar pada perselisihan peta tahun 1907, yang dibuat ketika Kamboja masih di bawah kekuasaan Prancis. Thailand menilai peta itu tidak akurat. Ketegangan meningkat sejak putusan Mahkamah Internasional tahun 1962 yang menetapkan wilayah sengketa jatuh ke tangan Kamboja, memicu kemarahan di Thailand dan memperpanjang konflik hingga sekarang.
Bentrok Meluas di Perbatasan 817 Kilometer
Pertempuran terbaru terjadi di titik-titik baru sepanjang perbatasan dua negara yang membentang 817 kilometer. Kondisi ini memperlihatkan eskalasi yang tak hanya terfokus pada satu lokasi, melainkan menjalar ke desa-desa di sekitar area sengketa, membuat situasi kemanusiaan kian memburuk.
PM Thailand Tolak Berhenti: “Kami Punya Misi”
Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul menolak perundingan. Ia menegaskan militer Thailand memiliki misi yang harus diselesaikan.
“Kita tidak bisa berhenti sekarang. Kami sudah berkomitmen kepada angkatan bersenjata untuk menjalankan operasi,” ujarnya.
Pernyataan itu makin menutup kemungkinan gencatan senjata dalam waktu dekat.
Kamboja Mendesak Gencatan Senjata
Di sisi lain, Suos Yara kembali mendesak agar konflik dihentikan segera. Ia menegaskan bahwa setiap menit pertempuran berlangsung, korban sipil terus berjatuhan.
“Setiap saat kita berbicara, darah tertumpah. Kita harus menghentikannya sekarang,” ujarnya dalam pernyataan terpisah.
Sumber: CNN Indonesia
Baca Juga:
Wow! Negara Komunis Ini Naikkan Tunjangan Guru Sampai 70%
Tren Baru! Brave Pink Hero Green Ramai Dipakai di Medsos
Saksikan berita lainnya:







