Jurnal Pelopor – Musim kemarau seharusnya menjadi waktu emas bagi para petani tembakau di wilayah timur Kabupaten Bojonegoro. Namun tahun ini, langit seperti lupa jadwal. Hujan deras masih turun nyaris tiap hari, membuat sawah-sawah yang mestinya kering kini malah tergenang. Rencana tanam tembakau pun berubah jadi ketidakpastian.
Dari Kecamatan Baureno hingga Kedungadem, keluhan petani terdengar makin lantang. Bukan hanya gagal tanam, banyak yang sudah nekat menanam pun terpaksa mengganti bibit yang rusak karena curah hujan tinggi.
Di Desa Balongcabe, Bu Sekdes menyebut para petani kini terjebak dalam sistem “tambal sulam.” Bibit yang mati karena kelebihan air diganti, lalu mati lagi, dan begitu seterusnya.
“Modal mereka habis sebelum hasilnya bisa dilihat. Ini sudah bikin banyak petani stres,” ujarnya.
Di Desa Sembong, Pak Jani berdiri di tengah sawah yang berubah seperti kolam.
“Sudah waktunya tanam tembakau, tapi air belum surut. Saya bingung harus bagaimana sekarang,” katanya dengan wajah muram.
Sementara di Desa Simorejo, Kang Rokhim memilih menunda tanam. Ia tak ingin ambil risiko.
“Tembakau ini peluang besar, tapi juga bisa jadi bencana kalau cuaca terus begini,” ujarnya, menatap awan kelabu di langit sore.
Tembakau memang bukan komoditas sembarangan. Selain bernilai ekonomi tinggi, ia juga butuh kondisi cuaca yang tepat: tanah kering, sinar matahari cukup, dan tidak banyak hujan. Maka tak heran, hujan yang tak kunjung reda di musim kemarau ini menjadi malapetaka tersendiri.
Fenomena ini bukan cuma soal gagal tanam. Ia mencerminkan perubahan iklim yang semakin tidak bisa ditebak, sebuah tantangan nyata bagi dunia pertanian. Di tengah dorongan untuk meningkatkan produksi dan swasembada, para petani justru berhadapan dengan cuaca yang makin sulit diprediksi dan minimnya solusi dari hulu.
Wilayah timur Bojonegoro kini menjadi potret rapuhnya ketahanan pangan tanpa ketahanan iklim. Mereka butuh lebih dari sekadar ramalan cuaca. Mereka butuh dukungan nyata, mulai dari sistem irigasi, proteksi gagal panen, hingga kebijakan yang peka terhadap kondisi di lapangan.
Karena bagi mereka, musim bukan sekadar waktu. Ia adalah hidup itu sendiri.
Baca Juga:
Tanpa Target Juara, Sukorejo FC Bikin Kejutan di Bali 7’s 2025!
Hari Bumi 2025: BKPRMI Galang Aksi Tanam 1 Juta Pohon
Saksikan berita lainnya:
Demo Besar Tolak Revisi UU TNI: Apa Dampaknya bagi Demokrasi Indonesia?







