Jurnal Pelopor – Konflik Iran dan Amerika Serikat semakin memanas setelah Presiden Donald Trump memerintahkan serangan udara ke tiga situs nuklir strategis Iran: Fordow, Natanz, dan Isfahan, Sabtu (21/6) malam. Tak lama setelah serangan tersebut, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, langsung mengumumkan rencana kunjungan mendesak ke Moskow untuk bertemu Presiden Rusia, Vladimir Putin.
“Saya akan ke Moskow sore ini untuk konsultasi serius dengan Presiden Rusia,” ujar Araghchi di sela-sela Konferensi OKI di Istanbul, seperti dilansir AFP, Minggu (22/6).
Iran: AS dan Israel Telah Lewati Garis Merah
Menlu Araghchi menilai serangan udara Amerika terhadap fasilitas nuklir sebagai bukti bahwa Washington mengkhianati jalur diplomasi dan lebih memilih pendekatan militer. Ia menyebut AS telah “melewati garis merah” dan memberi “pukulan telak bagi perdamaian dunia”.
“AS dan Israel telah menginjak-injak prinsip dasar diplomasi, dan hari ini mereka menunjukkan bahwa mereka hanya mengerti bahasa kekerasan,” tegasnya. Ia menambahkan, Iran akan mempertahankan diri dengan segala cara yang diperlukan, termasuk melalui kekuatan militer jika terpaksa.
Iran Tolak Negosiasi, Minta Sidang Darurat PBB
Araghchi menolak tawaran negosiasi pasca-serangan. Ia menilai pernyataan Trump soal ‘Iran harus menyerah dan berunding’ sudah tidak relevan. Menurutnya, dunia harus sadar bahwa AS telah memperalat diplomasi untuk melegitimasi serangan terhadap negara berdaulat.
Atas insiden ini, Iran secara resmi mengajukan permintaan sidang darurat kepada Dewan Keamanan PBB. Tujuannya adalah untuk mengutuk keras agresi militer AS, dan meminta pertanggungjawaban penuh Washington atas pelanggaran hukum internasional dan Piagam PBB.
Rusia Bersiap Ambil Peran Strategis
Kunjungan Abbas Araghchi ke Rusia memperkuat sinyal bahwa Teheran mulai membentuk poros perlawanan baru bersama Moskow. Kremlin sendiri sebelumnya mengecam keras serangan AS dan menuduh Washington memprovokasi perang besar-besaran di kawasan.
Beberapa pengamat melihat pertemuan ini bukan sekadar perundingan biasa, melainkan koordinasi militer dan politik di tengah eskalasi yang mengarah ke potensi perang regional terbuka. Rusia disebut akan memperkuat aliansinya dengan Iran di tengah isolasi global terhadap AS pasca serangan sepihak.
Penutup: Dunia di Ambang Krisis Baru
Kunjungan darurat Menlu Iran ke Moskow menandai titik balik serius dalam konflik Timur Tengah. Dengan diplomasi yang runtuh dan respons militer yang semakin intensif, dunia kini berdiri di ambang krisis global yang tak bisa lagi diredam dengan retorika damai.
Pertanyaannya: Apakah pertemuan Araghchi dan Putin bisa mencegah perang besar, atau justru menjadi langkah awal membentuk kubu perlawanan anti-AS di panggung geopolitik internasional?
Sumber: CNN Indonesia
Baca Juga:
Singonoyo Cup Meledak! Legenda Persibo Turun Gunung
Takut Ekonomi Ambruk? Ini Aset Aman Selain Emas
Saksikan berita lainnya:







