Jurnal Pelopor – Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat tajam. Iran secara terbuka mengancam akan menutup Selat Hormuz, jalur laut strategis yang menjadi nadi bagi lebih dari 20% pengiriman minyak dunia. Jika ancaman ini benar-benar dilaksanakan, harga minyak global diperkirakan bisa melonjak hingga menembus 130 dolar AS per barel.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Esmail Kowsari, anggota Komite Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran. Menurutnya, langkah ekstrem ini dipertimbangkan sebagai respons terhadap serangan udara besar-besaran Israel terhadap situs nuklir dan militer Iran pekan lalu, termasuk ke wilayah Teheran yang menewaskan sejumlah petinggi militer dan ilmuwan nuklir Iran.
“Kami siap menghukum musuh. Respons militer hanyalah sebagian dari keseluruhan balasan kami,” ujar Kowsari, yang juga dikenal sebagai mantan komandan IRGC.
Selat Hormuz bukan sekadar jalur pelayaran biasa. Selat ini menghubungkan Teluk Persia dan Laut Arab melalui Teluk Oman, dan menjadi jalur vital bagi ekspor minyak dari Iran, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab, termasuk untuk LNG (gas alam cair). Penutupan Selat Hormuz akan menjadi mimpi buruk bagi ekonomi global, terutama negara-negara pengimpor energi seperti Jepang, China, India, dan Eropa.
Strategi Iran: Dari Serangan Rudal hingga Cyberwar
Iran disebut memiliki kemampuan rudal jarak pendek dan menengah yang dapat menargetkan infrastruktur energi dan kapal tanker di Selat Hormuz. Selain itu, Iran juga memiliki drone kamikaze model Shahed, pesawat tempur, bahkan kekuatan siber yang pernah dipakai menyerang industri minyak Arab Saudi pada 2012.
Jika eskalasi ini berlanjut, bukan hanya jalur energi yang terganggu. Iran bahkan bisa menyerang pelabuhan dan jaringan navigasi utama di kawasan Teluk.
Konflik Israel–Iran: Perang Berlarut atau Perang Kilat?
Sejauh ini, laporan menyebut bahwa konflik terbuka antara Iran dan Israel telah memasuki babak saling serang secara langsung. Setelah Israel meluncurkan Operasi Rising Lion dan menyerang situs militer Iran, Teheran langsung membalas lewat Operasi True Promise III, menargetkan titik-titik militer strategis di Israel.
Analis memprediksi, jika konflik ini berlangsung lebih dari dua minggu, dampaknya bisa menghancurkan stabilitas ekonomi regional dan global. Namun jika berhenti dalam 14 hari sebagaimana sejumlah skenario militer yang dikembangkan, efeknya mungkin masih bisa diredam.
Kesimpulan
Ancaman Iran untuk menutup Selat Hormuz bukan gertakan kosong. Dunia kini menahan napas, karena satu langkah salah dari salah satu pihak bisa memicu krisis energi global. Dalam bayang-bayang perang rudal dan drone, satu titik sempit di peta Selat Hormuz bisa menjadi pemantik badai ekonomi internasional.
Perang bisa dihentikan dengan diplomasi, tapi harga minyak tak bisa menunggu. Dunia kini menatap Teluk Persia, menanti siapa yang berkedip lebih dulu.
Sumber: Tempo.com
Baca Juga:
Singonoyo Cup Meledak! Legenda Persibo Turun Gunung
Takut Ekonomi Ambruk? Ini Aset Aman Selain Emas
Saksikan berita lainnya:







