Jurnal Pelopor – Dalam catatan sejarah militer dunia, nama Khalid bin Walid menempati posisi istimewa sebagai jenderal yang tak pernah terkalahkan dalam lebih dari seratus pertempuran. Artikel dari CNBC Indonesia (26/02/2026) mengulas bagaimana sang “Pedang Allah” ini mengombinasikan latar belakang bangsawan, kecerdasan taktis, dan ketangguhan mental untuk mendominasi medan perang abad ke-7.
Berikut adalah intisari dari kejeniusan strategi Khalid bin Walid:
1. Latar Belakang: Didikan Elit Bani Makhzum
Khalid tidak muncul secara kebetulan. Ia lahir dari Bani Makhzum, klan Quraisy yang bertanggung jawab atas urusan militer di Makkah.
-
Fasilitas Lengkap: Sejak kecil, ia dilatih secara intensif dalam berkuda, memanah, dan bela diri.
-
Transformasi Spiritual: Meski sempat menjadi otak kekalahan pasukan Muslim di Perang Uhud, hidayah membawanya memeluk Islam pada 629 M, mengubahnya dari musuh paling berbahaya menjadi pembela paling tangguh.
2. Master Strategi: Adaptif dan Psikologis
Kunci kemenangan Khalid bukan hanya pada kekuatan fisik, melainkan pada kemampuannya “menghancurkan” mental musuh sebelum pedang terayun.
A. Taktik Kamuflase dan Bantuan Palsu
Dalam Perang Mu’tah, Khalid melakukan manuver legendaris untuk menyelamatkan pasukan Muslim yang kalah jumlah:
-
Ia mengubah posisi sayap kanan ke kiri dan sebaliknya untuk menciptakan kesan adanya pasukan baru.
-
Ia memerintahkan pasukan di belakang untuk menerjang debu agar musuh mengira bantuan besar sedang datang. Taktik ini membuat pasukan Bizantium ragu untuk mengejar.
B. Fleksibilitas Medan
Khalid dikenal sebagai komandan yang mampu memanfaatkan celah terkecil. Di Pertempuran Yarmuk (636 M), ia membagi pasukannya menjadi kontingen-kontingen kecil yang lincah untuk mematahkan formasi kaku pasukan Bizantium yang jauh lebih besar.
C. Penggunaan Cadangan Strategis
Ia jarang menghabiskan seluruh pasukannya di awal laga. Khalid selalu menyimpan pasukan cadangan yang segar untuk menyerang di titik paling kritis saat lawan mulai kelelahan.
3. Keteladanan: Prajurit Sejati Tanpa Jabatan
Salah satu momen paling mengharukan dalam kariernya adalah saat Khalifah Umar bin Khattab mencopotnya dari posisi Panglima Tertinggi.
-
Tanpa Dendam: Khalid menerima keputusan itu dengan lapang dada dan terus bertempur sebagai prajurit biasa di bawah komando Abu Ubaidah bin Jarrah.
-
Prinsip: Baginya, ia berperan bukan untuk Umar, melainkan untuk keyakinannya. Sikap tawadhu’ ini mengukuhkan posisinya sebagai pemimpin yang benar-benar dicintai anak buahnya.
Analisis Taktik Khalid bin Walid
| Taktik | Implementasi | Tujuan |
| Reposisi Sayap | Menukar posisi pasukan kanan-kiri. | Menciptakan kebingungan psikologis pada lawan. |
| Eksploitasi Celah | Menunggu kelengahan lawan (seperti di Uhud). | Menghancurkan formasi lawan dengan satu serangan tajam. |
| Mobilitas Tinggi | Penggunaan pasukan berkuda yang lincah. | Melakukan pengepungan kilat di medan terbuka. |
| Manajemen Mental | Memunculkan kesan pasukan bantuan yang besar. | Meruntuhkan nyali musuh sebelum kontak fisik. |
Khalid bin Walid adalah prototipe panglima modern yang mengerti bahwa perang dimenangkan oleh pikiran sebelum diselesaikan oleh senjata. Julukan Saifullah al-Maslul (Pedang Allah yang Terhunus) bukan sekadar gelar kehormatan, melainkan pengakuan atas ketajaman strateginya yang membuka jalan bagi peradaban Islam di Syam dan Irak.
Baca Juga:
Wow! Negara Komunis Ini Naikkan Tunjangan Guru Sampai 70%
Tren Baru! Brave Pink Hero Green Ramai Dipakai di Medsos
Saksikan berita lainnya:






