Jurnal Pelopor – Ketegangan di perbatasan Suriah–Israel kembali melonjak setelah lima kendaraan militer Israel dilaporkan masuk ke sebuah desa di wilayah pedesaan Quneitra. Insiden yang terjadi pada Minggu (16/11/2025) dini hari itu menjadi salah satu pelanggaran terbaru terhadap kedaulatan Suriah, sekaligus memicu rasa takut di kalangan warga lokal yang sudah lama hidup dalam bayang-bayang konflik.
Konvoi Israel Masuk Quneitra, Lalu Mundur
Menurut laporan kantor berita resmi Suriah, SANA, konvoi militer tersebut memasuki kota Saida al-Golan di wilayah selatan Quneitra. Meski hanya berlangsung singkat sebelum pasukan Israel mundur kembali ke perbatasan, kejadian itu cukup untuk kembali memanaskan situasi yang sudah rapuh.
Tidak berhenti di situ, pasukan Israel juga disebut melakukan penggerebekan di sekitar desa Ma’riya, sebuah kawasan yang terletak di sebelah barat provinsi Daraa. Warga setempat melaporkan bahwa operasi semacam ini semakin sering terjadi dalam beberapa bulan terakhir.
SANA menambahkan bahwa serangkaian infiltrasi tersebut membuat masyarakat lokal hidup dalam kecemasan. Pasukan Israel kerap bergerak masuk ke lahan pertanian warga, merusak hutan dalam skala besar, serta dilaporkan melakukan penangkapan penduduk tanpa dasar yang jelas. Bahkan, Israel disebut mendirikan pos pemeriksaan baru di wilayah yang seharusnya berada di bawah kontrol Suriah.
Rangkaian Agresi Lintas Batas yang Terus Meningkat
Situasi di perbatasan juga tidak bisa dilepaskan dari meningkatnya aksi militer Israel terhadap Suriah sejak akhir 2024. Data pemerintah Suriah menunjukkan bahwa Israel telah melancarkan lebih dari 1.000 serangan udara dan lebih dari 400 serangan lintas batas ke provinsi-provinsi selatan Suriah dalam rentang waktu kurang dari setahun.
Kondisi politik Suriah yang tidak stabil usai kejatuhan rezim Bashar al-Assad pada akhir 2024 dinilai membuka ruang bagi Israel untuk memperluas kontrolnya. Israel disebut menduduki zona penyangga demiliterisasi di Dataran Tinggi Golan, sebuah wilayah yang seharusnya netral berdasarkan Perjanjian Pemisahan Pasukan 1974.
Langkah tersebut dikritik sebagai bentuk pelanggaran langsung terhadap kesepakatan internasional yang selama puluhan tahun menjadi fondasi stabilitas di salah satu kawasan paling sensitif di dunia.
Belum Ada Respons Internasional
Hingga saat ini, baik Israel maupun pihak internasional belum memberikan pernyataan resmi terkait infiltrasi terbaru tersebut. Namun, meningkatnya frekuensi operasi militer Israel di kawasan menunjukkan bahwa eskalasi tengah berlangsung secara nyata dan terus meningkat.
Dengan tidak adanya tekanan internasional yang signifikan serta kondisi internal Suriah yang masih kacau, banyak pihak khawatir situasi ini dapat menjadi pemicu ketegangan baru yang lebih luas di Timur Tengah.
Sumber: CNBC Indonesia
Baca Juga:
Wow! Negara Komunis Ini Naikkan Tunjangan Guru Sampai 70%
Tren Baru! Brave Pink Hero Green Ramai Dipakai di Medsos
Saksikan berita lainnya:







