Jurnal Pelopor — Tren warteg kekinian dengan konsep estetik kian menjamur di ibu kota. Nama-nama seperti Rumanasi, Cahaya Selatan, hingga Salira hadir membawa konsep warteg naik kelas. Namun di balik tren ini, warteg tradisional justru menghadapi tekanan berat, mulai dari lonjakan biaya hingga perubahan pola konsumsi masyarakat.
Warteg Naik Kelas, Harga Ikut Melambung
Kemunculan warteg kekinian menjadi fenomena tersendiri di media sosial. Konsep baru estetik, etalase modern, hingga sentuhan premium membuat warteg tampil berbeda dari citra lamanya. Bahkan, restoran seperti Salira disebut sebagai “warteg fancy” dengan harga yang bisa mencapai ratusan ribu rupiah sekali makan.
Tren ini menyasar kalangan menengah ke atas, terutama pekerja kantoran di kawasan elite Jakarta. Konten viral di media sosial pun mempercepat popularitasnya, menjadikan warteg bukan lagi sekadar tempat makan murah, tetapi juga bagian dari gaya hidup.
Warteg Tradisional Tertekan Biaya
Di sisi lain, warteg tradisional menghadapi realitas yang jauh berbeda. Data Koperasi Warteg Nusantara menunjukkan sekitar 25.000 warteg tutup sejak pandemi hingga 2025. Salah satu penyebab utamanya adalah kenaikan biaya operasional, terutama harga plastik kemasan.
Kenaikan harga plastik dari Rp10.000 menjadi Rp14.000 per paket menjadi pukulan telak. Bagi warteg yang mengandalkan sistem bungkus, biaya ini sangat krusial. Dilema pun muncul: menaikkan harga berisiko kehilangan pelanggan, sementara menahan harga berarti mengorbankan keuntungan yang sudah tipis.
Dampak WFH dan Turunnya Pelanggan
Selain itu, kebijakan Work From Home (WFH) bagi ASN turut memukul omzet warteg. Lokasi warteg yang berada di sekitar perkantoran sangat bergantung pada jam makan siang sebagai “prime time” penjualan.
Ketika aktivitas kantor menurun, pendapatan warteg bisa anjlok hingga 50%-70%. Kondisi ini membuat banyak pelaku usaha harus memutar otak untuk bertahan di tengah situasi yang tidak menentu.
Warteg Fancy vs Tradisional: Beda Segmen
Meski begitu, pelaku usaha menilai warteg fancy dan tradisional tidak sepenuhnya saling mengancam. Keduanya memiliki segmen pasar berbeda. Warteg fancy menyasar kelas menengah atas, sementara warteg tradisional tetap menjadi andalan pekerja harian seperti sopir, ojek online, dan pedagang kecil.
Para peneliti juga menilai warteg tradisional memiliki kekuatan pada loyalitas pelanggan dan harga yang terjangkau. Dalam kondisi ekonomi sulit, warteg justru menjadi penopang utama kebutuhan makan masyarakat.
Ke depan, pertanyaan besarnya bukan sekadar siapa yang lebih modern, tetapi siapa yang mampu bertahan. Apakah warteg fancy akan menjadi tren jangka panjang, atau justru warteg tradisional yang kembali membuktikan daya tahannya di tengah krisis?
Baca Juga:
Wow! Negara Komunis Ini Naikkan Tunjangan Guru Sampai 70%
Tren Baru! Brave Pink Hero Green Ramai Dipakai di Medsos
Saksikan berita lainnya:







