• About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact
Jurnal Pelopor | Pelopor Berita Terdepan dan Terpercaya
Advertisement
  • Beranda
  • Nasional
  • Lokal Daerah
  • Redaksi
  • Olahraga
  • Opini
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Nasional
  • Lokal Daerah
  • Redaksi
  • Olahraga
  • Opini
No Result
View All Result
Jurnal Pelopor | Pelopor Berita Terdepan dan Terpercaya
No Result
View All Result
Home News World

Fenomena Aneh di Afrika: Gurun Sahara Kini Lebih Lembap

Gurun Sahara alami hujan lebat tak biasa, perubahan iklim global ubah karakter gurun paling kering menjadi lebih lembap perlahan

musa by musa
26/01/2026
in Jurnal
0
Sahara
0
SHARES
0
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Jurnal Pelopor — Gurun Sahara, kawasan yang selama ini identik dengan panas ekstrem dan kekeringan absolut, kini menunjukkan wajah yang kian berbeda. Fenomena hujan lebat yang muncul di sejumlah wilayah Afrika Utara memunculkan satu pertanyaan besar: ada apa dengan Sahara? Perubahan iklim global ternyata mulai menggeser karakter salah satu gurun terbesar di dunia ini, membuatnya perlahan menjadi lebih lembap dan basah.

Dalam beberapa tahun terakhir, hujan deras tercatat mengguyur wilayah-wilayah yang sebelumnya nyaris tak pernah mengenal air. Danau-danau musiman muncul kembali, vegetasi mulai tumbuh di area tertentu, bahkan badai petir menjadi kejadian yang tidak lagi asing. Kondisi ini menandai perubahan besar yang sedang berlangsung, bukan sekadar anomali sesaat.

Pemanasan Global dan Atmosfer yang Berubah

Peningkatan curah hujan di Gurun Sahara tidak terjadi tanpa sebab. Pemanasan global berperan besar dalam mengubah cara kerja atmosfer Bumi. Udara yang lebih hangat mampu menampung lebih banyak uap air. Akibatnya, potensi hujan meningkat, termasuk di wilayah yang sebelumnya sangat kering.

Lautan di sekitarnya, terutama Samudra Atlantik dan Samudra Hindia, kini melepaskan lebih banyak uap air ke atmosfer. Uap air ini kemudian terdorong masuk ke daratan Afrika oleh perubahan pola angin dan sirkulasi udara berskala besar. Proses inilah yang menjadi “bahan bakar” utama meningkatnya hujan di kawasan Sahara.

Pergeseran Sabuk Hujan dan Sel Hadley

Selain faktor laut, perubahan posisi sel Hadley juga memegang peranan penting. Sel Hadley adalah sistem sirkulasi atmosfer raksasa yang mengatur pergerakan udara dari wilayah tropis ke lintang yang lebih tinggi. Seiring meningkatnya suhu global, sistem ini bergeser ke arah utara.

Dampaknya, sabuk hujan tropis ikut terdorong lebih dekat ke Gurun Sahara, terutama pada musim panas di belahan Bumi utara. Pergeseran ini memicu lebih banyak badai konvektif dan hujan intens di wilayah yang sebelumnya hanya menerima hujan beberapa hari dalam setahun.

Hujan Datang, Risiko Ikut Mengintai

Meski terdengar positif, hujan di wilayah gurun bukan tanpa risiko. Tanah Sahara yang kering dan keras tidak mampu menyerap air dengan baik. Ketika hujan deras turun dalam waktu singkat, banjir bandang justru mudah terjadi.

Fenomena ini dapat merusak permukiman, jalur transportasi, serta mengancam kehidupan masyarakat lokal yang tidak terbiasa dengan curah hujan tinggi. Dengan kata lain, air yang datang tiba-tiba bisa berubah menjadi bencana jika tidak dikelola dengan baik.

Dari Gurun Menuju Zona Semi-Kering

Dalam jangka panjang, peningkatan curah hujan berpotensi mengubah lanskap Sahara. Beberapa wilayah pinggiran gurun bisa bertransisi menjadi zona semi-kering. Rumput, semak, bahkan pohon-pohon tahan iklim ekstrem berpeluang tumbuh dan menyebar.

Sejarah menunjukkan bahwa Sahara pernah mengalami fase “hijau” ribuan tahun lalu, ketika danau, lahan basah, dan sabana mendominasi kawasan ini. Artinya, Sahara bukan wilayah yang statis. Ia dapat berubah, meski kini perubahan tersebut terjadi di tengah tekanan populasi, infrastruktur padat, dan krisis pangan.

Tantangan Besar di Balik Perubahan

Berbeda dari masa lalu, perubahan Sahara saat ini berlangsung di era modern. Lebih dari satu miliar penduduk Afrika hidup dengan ketergantungan tinggi pada sistem air dan pangan yang rapuh. Hujan yang meningkat bisa menjadi peluang, tetapi juga ancaman.

Keberhasilan memanfaatkan perubahan ini sangat bergantung pada kebijakan pengelolaan air, tata guna lahan, serta kerja sama regional. Tanpa perencanaan matang, Sahara yang “makin basah” justru bisa memunculkan krisis baru di masa depan.

Baca Juga:

Wow! Negara Komunis Ini Naikkan Tunjangan Guru Sampai 70%

Tren Baru! Brave Pink Hero Green Ramai Dipakai di Medsos

Tren Baru! Brave Pink Hero Green Ramai Dipakai di Medsos

 

Saksikan berita lainnya:

Reformasi atau Langkah Mundur? Pengesahan RUU TNI 2025

5 Skandal Hakim Terbesar di Indonesia! Bisakah Prabowo Bersihkan Peradilan?

Tags: #GurunSahara #PerubahanIklim #ClimateChange #FenomenaAlam #AfrikaUtara #CuacaEkstrem #Lingkungan
Previous Post

Tarif Listrik Januari–Februari 2026 Resmi, Ini Isi Token Rp100 Ribu

Next Post

Souto Buka Suara soal Kesiapan Timnas Futsal Jelang Piala Asia

musa

musa

Related Posts

bnpb
Nasional

BNPB Keluhkan Dana Cegah BencanaTak Sampai Rp20 Miliar

04/02/2026
uea
World

UEA Disebut Ambil Kendali Kelola Gaza, Didukung Israel

04/02/2026
mui
Nasional

Berubah Pikiran! MUI Dukung Langkah RI soal Gaza

04/02/2026
board of peace
Nasional

Prabowo Kumpulkan Tokoh Islam Bahas Board of Peace

04/02/2026
syauqi
Olahraga

Luka Lama! Syauqi Saud Siap Balas Dendam ke Jepang

04/02/2026
havertz
Nasional

Gol Telat Havertz Hantarkan Arsenal ke Final Carabao Cup

04/02/2026
Next Post
souto

Souto Buka Suara soal Kesiapan Timnas Futsal Jelang Piala Asia

Jurnal Pelopor | Pelopor Berita Terdepan dan Terpercaya

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

Navigate Site

  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact

Follow Us

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Nasional
  • Lokal Daerah
  • Redaksi
  • Olahraga
  • Opini

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.