Jurnal Pelopor — Kemenangan dramatis Chelsea atas West Ham United dengan skor 3-2 di Stamford Bridge seharusnya menjadi cerita utama akhir pekan Premier League. Namun, di balik euforia comeback tersebut, sorotan tajam justru mengarah pada satu nama: Alejandro Garnacho. Winger muda asal Argentina itu menjadi sasaran kritik keras, bahkan disebut hanya layak menjadi pemain cadangan di skuad The Blues.
Penampilan Tumpul di Babak Pertama
Chelsea sempat tertinggal dua gol sebelum akhirnya bangkit dan membalikkan keadaan. Akan tetapi, kontribusi Garnacho pada babak pertama dinilai nyaris tak terlihat. Ia kesulitan menembus pertahanan West Ham, minim duel sukses, dan kurang membantu fase bertahan.
Situasi tersebut membuat pelatih Chelsea, Liam Rosenior, mengambil keputusan tegas. Garnacho ditarik keluar saat turun minum dan digantikan Joao Pedro. Pergantian ini terbukti menjadi titik balik laga, karena Chelsea tampil jauh lebih agresif dan efektif setelahnya.
Joao Pedro Jadi Pembeda
Masuknya Joao Pedro langsung mengubah dinamika permainan Chelsea. Penyerang asal Brasil itu tak hanya mencetak satu gol, tetapi juga menyumbang satu assist yang krusial. Aliran bola menjadi lebih rapi, transisi serangan lebih cepat, dan tekanan ke lini belakang West Ham meningkat drastis.
Perbandingan ini secara tak langsung mempertegas kontras penampilan Garnacho. Saat ia berada di lapangan, Chelsea terlihat tumpul. Setelah ia keluar, The Blues justru menemukan ritme terbaiknya.
Steve Nicol: Kritik Bukan Sekadar Teknis
Mantan bek Liverpool, Steve Nicol, menjadi salah satu pundit yang paling keras mengkritik Garnacho. Menurutnya, masalah pemain muda tersebut bukan hanya soal teknik, tetapi juga menyangkut sikap dan pengambilan keputusan.
Nicol menilai Garnacho terlalu sering salah memilih opsi saat berada di situasi krusial. Kecepatannya memang memberi keuntungan, namun kerap disia-siakan oleh umpan akhir yang buruk atau keputusan individual yang keliru. Ia juga menyoroti gestur dan bahasa tubuh Garnacho yang dinilai berpotensi merugikan tim.
Bahkan, Nicol menyebut gaya bermain Garnacho akan sulit bertahan jika ia bermain di era sepak bola yang lebih keras. Menurutnya, cara bermain sang winger justru memancing emosi lawan dan bisa menjadi bumerang bagi tim sendiri.
Dinilai Cocok Jadi Supersub
Kritik serupa datang dari pandangan lain yang menilai Garnacho lebih efektif jika dimainkan sebagai pemain pengganti. Ia dianggap ideal masuk di menit-menit akhir, ketika lawan mulai kelelahan dan ruang bermain lebih terbuka.
Dalam skenario tersebut, kecepatan dan keberaniannya bisa menjadi senjata mematikan. Namun, sebagai starter reguler di klub sebesar Chelsea, konsistensinya masih dipertanyakan. Laga melawan West Ham dianggap menjadi contoh paling nyata.
Statistik dan Tekanan Harga Mahal
Secara angka, kontribusi Garnacho musim ini sebenarnya tidak buruk. Ia telah mencetak enam gol dan tiga assist dari 26 penampilan di semua kompetisi. Namun, statusnya sebagai pemain dengan nilai transfer tinggi membuat ekspektasi publik melonjak.
Chelsea saat ini berada di papan atas klasemen dan tengah bersaing di berbagai ajang. Dalam situasi tersebut, setiap pemain dituntut memberi dampak instan. Penampilan yang setengah-setengah akan langsung mendapat sorotan.
Tantangan Mental Garnacho
Di usia muda, Garnacho masih memiliki waktu untuk berkembang. Kritik tajam dari para legenda bisa menjadi cambuk atau justru beban mental. Kini, tantangannya adalah bagaimana ia merespons tekanan tersebut.
Apakah Garnacho mampu membuktikan diri sebagai starter sejati Chelsea, atau justru harus menerima peran sebagai senjata dari bangku cadangan? Jawabannya akan terlihat dalam laga-laga besar berikutnya, saat Chelsea membutuhkan pemain yang benar-benar siap di bawah sorotan lampu terang sepak bola Inggris.
Baca Juga:
Wow! Negara Komunis Ini Naikkan Tunjangan Guru Sampai 70%
Tren Baru! Brave Pink Hero Green Ramai Dipakai di Medsos
Saksikan berita lainnya:







