Jurnal Pelopor — Duta Besar (Dubes) Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, merespons ancaman Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang berencana mengenakan tarif 25 persen kepada negara-negara yang masih menjalin hubungan dagang dengan Teheran. Menurut Boroujerdi, kebijakan tersebut bukanlah hal baru bagi Iran dan kecil kemungkinan akan efektif menekan negaranya.
Pernyataan itu disampaikan Boroujerdi saat ditemui di kawasan Jakarta Selatan, Senin (19/1/2026). Ia menegaskan bahwa selama puluhan tahun Iran telah hidup di bawah berbagai sanksi ekonomi, termasuk tekanan terhadap negara atau perusahaan yang bekerja sama dengan Teheran.
Sanksi Bukan Hal Baru bagi Iran
Boroujerdi mengingatkan bahwa sejak Revolusi Islam Iran 47 tahun lalu, negaranya sudah terbiasa menghadapi tekanan ekonomi dan politik dari Amerika Serikat. Menurutnya, ancaman tarif yang kembali dilontarkan Trump hanyalah pengulangan kebijakan lama dengan kemasan baru.
“Sejak awal Revolusi Islam, kami sudah menghadapi sanksi semacam ini, baik terhadap Iran maupun terhadap perusahaan-perusahaan yang bekerja sama dengan kami. Namun Presiden Trump lupa bahwa tidak semua dunia mematuhinya,” ujar Boroujerdi.
Ia menilai Washington kerap menganggap kebijakan luar negerinya sebagai perintah global. Padahal, dalam praktiknya, banyak negara memilih bersikap independen dan tidak mengikuti tekanan sepihak dari Amerika Serikat.
Tidak Semua Negara Tunduk pada AS
Boroujerdi menegaskan bahwa kebijakan sepihak AS tidak otomatis diikuti oleh seluruh komunitas internasional. Ia menyebut Uni Eropa dan sejumlah negara lain secara terbuka telah menyatakan tidak akan tunduk pada ancaman tarif atau sanksi semacam itu.
“Ini bukan perintah untuk seluruh dunia. Dia bisa memerintah Amerika Serikat, tetapi Uni Eropa sudah mengatakan mereka tidak akan mematuhi aturan seperti ini, begitu juga beberapa negara independen,” katanya.
Menurut Boroujerdi, realitas geopolitik global saat ini semakin multipolar. Banyak negara, termasuk mitra dagang Iran, memiliki kepentingan ekonomi dan politik sendiri yang tidak selalu sejalan dengan Washington.
Tekanan Ekonomi Diakui, Tujuan Politik Dinilai Gagal
Boroujerdi tidak menampik bahwa Iran menghadapi tantangan ekonomi serius, termasuk tekanan terhadap nilai tukar mata uang nasional. Namun ia menilai sanksi ekonomi yang dijatuhkan selama ini terbukti gagal mencapai tujuan politik Amerika Serikat.
“Kami memang punya masalah ekonomi dan persoalan nilai tukar mata uang. Namun upaya mereka untuk mendorong perubahan rezim, perpecahan, kerusuhan, atau kekerasan di Iran tidak akan membawa mereka ke tujuan,” tegasnya.
Ia optimistis bahwa ancaman tarif terbaru Trump akan bernasib sama dengan kebijakan-kebijakan sebelumnya yang, menurutnya, tidak berhasil melemahkan Iran secara politik.
Ancaman Tarif Trump dan Dampak Global
Sebelumnya, pada 12 Januari 2026, Trump menyatakan bahwa negara mana pun yang tetap berbisnis dengan Iran akan dikenai tarif sebesar 25 persen untuk setiap perdagangan dengan Amerika Serikat. Pernyataan tersebut disampaikan melalui media sosial Truth Social dan disebut Trump sebagai kebijakan “final dan mengikat”.
Namun hingga kini, Gedung Putih belum merilis dokumen resmi terkait dasar hukum maupun mekanisme penerapan tarif tersebut. Belum jelas pula apakah kebijakan itu akan diberlakukan secara menyeluruh terhadap seluruh mitra dagang Iran.
Ancaman ini muncul di tengah situasi internal Iran yang tengah menghadapi gelombang protes besar. Meski demikian, Boroujerdi menilai tekanan eksternal justru memperkuat ketahanan negaranya.
“Saya berharap rencana ini juga akan gagal, seperti rencana-rencana lain yang sejauh ini sudah gagal,” pungkas Boroujerdi.
Pernyataan tersebut mencerminkan sikap Teheran yang tetap menantang tekanan Washington, sembari menegaskan bahwa peta kekuatan global kini tidak lagi sepenuhnya berada di tangan satu negara saja.
Baca Juga:
Wow! Negara Komunis Ini Naikkan Tunjangan Guru Sampai 70%
Tren Baru! Brave Pink Hero Green Ramai Dipakai di Medsos
Saksikan berita lainnya:







