• About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact
Jurnal Pelopor | Pelopor Berita Terdepan dan Terpercaya
Advertisement
  • Beranda
  • Nasional
  • Lokal Daerah
  • Redaksi
  • Olahraga
  • Opini
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Nasional
  • Lokal Daerah
  • Redaksi
  • Olahraga
  • Opini
No Result
View All Result
Jurnal Pelopor | Pelopor Berita Terdepan dan Terpercaya
No Result
View All Result
Home Nasional

Dedi Mulyadi Buka Masalah Utang BUMN Rp3,7 T ke Bank BJB

Gubernur Jabar Dedi Mulyadi soroti utang BUMN ke Bank BJB capai Rp 3,7 triliun, dinilai bebani keuangan daerah

musa by musa
23/01/2026
in Jurnal
0
bumn
0
SHARES
0
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Bandung – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyoroti besarnya utang sejumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) kepada Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten (Bank BJB) yang hingga kini belum sepenuhnya dilunasi. Total kewajiban tersebut mencapai sekitar Rp 3,7 triliun dan dinilai menjadi beban serius bagi Pemerintah Provinsi Jawa Barat, mengingat Bank BJB merupakan bank daerah dengan mayoritas saham dimiliki pemprov.

Pernyataan itu disampaikan Dedi saat menghadiri diskusi Danantara yang digelar Nagara Institute di Hotel Holiday Inn, Kota Bandung, Kamis (22/1/2026). Dalam forum tersebut, Dedi secara terbuka mengungkapkan kegelisahannya terhadap kondisi keuangan Bank BJB yang terdampak langsung oleh piutang BUMN.

Dampak Langsung ke Bank Pembangunan Daerah

Menurut Dedi, utang BUMN yang menumpuk membuat ruang gerak Bank BJB menjadi terbatas. Sebagai bank pembangunan daerah, BJB seharusnya berperan aktif dalam mendukung pembiayaan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi Jawa Barat. Namun, beban kredit bermasalah justru menghambat fungsi strategis tersebut.

“Jadi beban bagi Jawa Barat itu BUMN yang sudah pinjam duit belum bayar,” ujar Dedi.

Ia menilai kondisi ini ironis, mengingat BUMN merupakan perusahaan milik negara yang semestinya memberi kontribusi positif, bukan malah membebani keuangan daerah.

Dedi juga menekankan bahwa masalah ini bukan sekadar urusan perbankan, tetapi menyangkut kepentingan masyarakat Jawa Barat secara luas. Ketika Bank BJB tertekan oleh piutang macet, kemampuan bank untuk menyalurkan kredit produktif ke sektor-sektor penting ikut terganggu.

Daftar BUMN dengan Tunggakan Utang

Dalam pemaparannya, Dedi mengungkapkan sejumlah BUMN yang masih memiliki kewajiban besar kepada Bank BJB. Di antaranya PT Kimia Farma dengan utang sekitar Rp 950 miliar. PT Wijaya Karya tercatat memiliki dua kewajiban terpisah, masing-masing sebesar Rp 278 miliar dan Rp 511 miliar.

Selain itu, ada PT Rajawali Nusindo dengan utang lebih dari Rp 403 miliar, PT PP Semarang–Demak sekitar Rp 239 miliar, PT Papros lebih dari Rp 98 miliar, PT Perikanan Indonesia lebih dari Rp 96 miliar, PT Waskita Karya sekitar Rp 91 miliar, serta PT Barata Indonesia lebih dari Rp 89 miliar.

Akumulasi dari seluruh kewajiban tersebut, kata Dedi, menjelaskan mengapa beban yang ditanggung Bank BJB begitu besar dan tidak bisa dianggap sepele.

Kritik dan Harapan kepada Pemerintah Pusat

Dedi menyayangkan sikap BUMN yang dinilainya kurang bertanggung jawab dalam menyelesaikan kewajiban finansialnya. Ia menegaskan bahwa daerah seharusnya mendapatkan dukungan dari pemerintah pusat, bukan justru menghadapi masalah akibat utang yang tidak kunjung dibayar.

“Orang daerah itu harusnya dibantu, bukan dipinjam. Pinjam tidak bayar lagi. Sekarang mereka tinggal bayar bunganya saja, minta restrukturisasi. Jadi kalau ngomong beban, ini beban,” kata Dedi dengan nada tegas.

Sebagai langkah konkret, Pemerintah Provinsi Jawa Barat telah mengirimkan surat resmi kepada CEO Danantara, Rosan Roeslani. Surat tersebut berisi permintaan agar Danantara ikut mendorong penyelesaian kewajiban BUMN kepada Bank BJB.

Dedi mengaku telah menerima respons positif atas surat tersebut. Ia berharap tindak lanjutnya tidak berhenti pada komunikasi semata, tetapi benar-benar diwujudkan dalam pembayaran atau penyelesaian utang yang nyata. “Mudah-mudahan segera bisa ada realisasi,” ujarnya.

Persoalan ini kini menjadi perhatian publik, karena menyentuh relasi antara pemerintah pusat, BUMN, dan daerah. Bagi Jawa Barat, penyelesaian utang tersebut bukan hanya soal angka triliunan rupiah, tetapi juga tentang keadilan fiskal dan keberlanjutan pembangunan daerah.

Baca Juga:

Wow! Negara Komunis Ini Naikkan Tunjangan Guru Sampai 70%

Tren Baru! Brave Pink Hero Green Ramai Dipakai di Medsos

Tren Baru! Brave Pink Hero Green Ramai Dipakai di Medsos

 

Saksikan berita lainnya:

Reformasi atau Langkah Mundur? Pengesahan RUU TNI 2025

5 Skandal Hakim Terbesar di Indonesia! Bisakah Prabowo Bersihkan Peradilan?

Tags: #DediMulyadi #JawaBarat #BUMN #BankBJB #UtangBUMN #KeuanganDaerah #BeritaEkonomi
Previous Post

Isu Iuran 1 Miliar Dolar Board of Peace, Kemlu Beri Penegasan

Next Post

Ancaman Trump Tak Menggetarkan Denmark, Kenapa?

musa

musa

Related Posts

andrie yunus
Nasional

Kasus Andrie Yunus Picu Desakan Revisi UU Peradilan Militer

19/03/2026
bmkg
Nasional

Cuaca Jakarta Terasa Makin Panas, Ini Penjelasan BMKG

19/03/2026
ezra
Olahraga

Ezra Walian Siap Isi Peran Thom Haye di Timnas Indonesia

19/03/2026
newcastle
Olahraga

Barcelona Menggila, Newcastle Dihajar 7-2 di Liga Champions

19/03/2026
liverpool
Olahraga

Liverpool Cetak Sejarah Baru, Amankan Tiket Perempatfinal

19/03/2026
Gholamreza Soleimani Tewas dalam Serangan di Ibu Kota Iran
World

Gholamreza Soleimani Tewas dalam Serangan di Ibu Kota Iran

18/03/2026
Next Post
trump

Ancaman Trump Tak Menggetarkan Denmark, Kenapa?

Jurnal Pelopor | Pelopor Berita Terdepan dan Terpercaya

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

Navigate Site

  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact

Follow Us

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Nasional
  • Lokal Daerah
  • Redaksi
  • Olahraga
  • Opini

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.