Jurnal Pelopor – Dunia internasional terguncang menyusul serangan udara besar-besaran yang diluncurkan oleh Amerika Serikat dan Israel ke wilayah Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026. Serangan yang menargetkan jantung pemerintahan di Teheran ini dilaporkan telah menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, beserta sejumlah petinggi militer dan anggota keluarganya.
Merespons eskalasi yang sangat berbahaya ini, China dan Rusia segera mengeluarkan pernyataan resmi yang mengecam tindakan sekutu tersebut.
1. Sikap China: Desak Gencatan Senjata Segera
Kementerian Luar Negeri China menyatakan keprihatinan yang sangat mendalam atas serangan tersebut. Melalui rilis resmi yang dikutip Xinhua, Beijing menekankan tiga poin utama:
-
Hormati Kedaulatan: China menegaskan bahwa kedaulatan, keamanan, dan integritas teritorial Iran wajib dihormati oleh negara mana pun.
-
Gencatan Senjata: Beijing menyerukan agar semua pihak segera menghentikan baku tembak untuk mencegah kehancuran lebih lanjut di Timur Tengah.
-
Solusi Diplomatik: China secara konsisten menolak penggunaan kekuatan militer dalam menyelesaikan konflik antarnegara.
2. Rusia: “Serangan Tanpa Provokasi”
Rusia, sebagai sekutu dekat Iran, mengeluarkan kecaman yang lebih keras melalui Menteri Luar Negeri Sergey Lavrov.
-
Kecaman Keras: Lavrov menyebut tindakan AS-Israel sebagai “serangan bersenjata tanpa provokasi” yang melanggar hukum internasional.
-
Kritik Dmitry Medvedev: Mantan Presiden Rusia ini menyindir Donald Trump dengan menyebut bahwa sang Presiden AS kini telah “menunjukkan jati diri yang sebenarnya” di balik topeng pembawa perdamaian yang selama ini ia dengungkan.
3. Dampak Serangan: Teheran Berdarah
Laporan sementara menyebutkan serangan gabungan ini telah memakan banyak korban jiwa dan melumpuhkan struktur kepemimpinan Iran:
-
Korban Tewas: Sedikitnya 201 orang tewas dan lebih dari 700 lainnya luka-luka.
-
Daftar Tokoh yang Gugur:
-
Ayatollah Ali Khamenei (Pemimpin Tertinggi Iran).
-
Anak perempuan, menantu, dan cucu Khamenei.
-
Amir Hatami (Menteri Pertahanan Iran).
-
Mohammed Pakpour (Komandan Angkatan Bersenjata Korps Garda Revolusi/IRGC).
-
4. Ambisi AS-Israel: Operasi Pergantian Rezim
Meskipun korban sipil dan militer terus berjatuhan, pemerintahan Donald Trump dan Benjamin Netanyahu menyatakan tidak akan berhenti.
-
Target 30 Pemimpin: Intelijen menyebut AS-Israel menargetkan 30 petinggi Iran, termasuk Presiden dan kepala militer lainnya.
-
Tujuan Akhir: Operasi militer ini secara terbuka bertujuan untuk melakukan pergantian rezim di Iran agar tidak lagi menjadi ancaman bagi kepentingan AS dan Israel di kawasan tersebut.
Ringkasan Konflik Iran vs AS-Israel (Maret 2026)
| Aspek | Informasi Terkini |
| Waktu Serangan | Sabtu, 28 Februari 2026 |
| Korban Utama | Ayatollah Ali Khamenei (Tewas) |
| Total Korban | 201 Tewas, 700+ Luka-luka |
| Sikap China/Rusia | Mengecam serangan dan menuntut kedaulatan Iran dihormati |
| Status Iran | Garda Revolusi (IRGC) bersumpah akan melakukan balas dendam |
Tewasnya Khamenei menciptakan kekosongan kekuasaan yang sangat kritis di Iran. Dengan sumpah balas dendam dari Garda Revolusi dan berlanjutnya serangan AS-Israel, Timur Tengah kini berada di ambang perang terbuka yang dapat melibatkan kekuatan global. China dan Rusia kini berada dalam posisi sulit untuk menjaga stabilitas kawasan tanpa terjebak dalam konfrontasi langsung dengan AS.
Baca Juga:
Wow! Negara Komunis Ini Naikkan Tunjangan Guru Sampai 70%
Tren Baru! Brave Pink Hero Green Ramai Dipakai di Medsos
Saksikan berita lainnya:







