Jurnal Pelopor – Suasana ruang konferensi pers di Indonesia Arena, Jakarta Pusat, mendadak berubah haru pada Jumat (6/2/2026) siang. Pelatih Timnas Futsal Iran, Vahid Shamsaei, tidak mampu membendung air matanya saat memberikan keterangan pers menjelang laga puncak Piala Asia Futsal 2026 melawan Timnas Futsal Indonesia.
Momen emosional ini terjadi ketika Shamsaei merefleksikan perjalanan timnya di tengah situasi sulit yang melanda negaranya. Alih-alih hanya membahas taktik dan strategi di lapangan, legenda futsal Asia tersebut justru menggunakan kesempatan itu untuk menyampaikan pesan kemanusiaan yang mendalam.
Tekanan yang Melampaui Batas Olahraga
Awalnya, Shamsaei ditanya mengenai perasaannya kembali ke Indonesia. Ia memiliki memori manis saat membawa Iran menjuarai Piala Asia Futsal 2002 di Jakarta sebagai pemain. Namun, ia menegaskan bahwa statusnya sebagai pelatih saat ini membawa beban yang jauh berbeda, terutama dengan kondisi sosial-politik yang sedang terjadi di Iran.
Shamsaei mengungkapkan bahwa pasukannya bermain di bawah tekanan mental yang luar biasa berat. Menurut laporan, hal ini berkaitan dengan gelombang demonstrasi besar di Iran pada Januari 2026 yang menelan banyak korban jiwa.
“Dalam turnamen ini, saya ingin mengatakan bahwa tidak ada tim lain yang mendapatkan tekanan sebesar yang dialami oleh ofisial dan pemain kami. Izinkan saya mengapresiasi seluruh pemain, rekan-rekan pelatih, dan seluruh staf manajemen tim saya yang mampu bertahan dan menoleransi tekanan sebesar ini,” ujar Shamsaei dengan suara bergetar.
Belasungkawa untuk Tanah Air
Puncak dari suasana haru tersebut terjadi saat mata Shamsaei mulai berkaca-kaca. Ia secara terbuka menyampaikan duka cita kepada rakyat Iran yang kehilangan anggota keluarga mereka. Meski tidak merinci peristiwa spesifik secara gamblang, pesannya menyiratkan simpati mendalam bagi para korban konflik di negaranya.
Bagi Shamsaei, gelar juara dan trofi futsal seolah menjadi sekunder dibandingkan dengan persatuan dan kemanusiaan. Ia menekankan bahwa perjuangan timnya di lapangan adalah bentuk profesionalisme di tengah kedukaan yang menyelimuti hati mereka.
“Saya menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada seluruh rakyat saya yang kehilangan anggota keluarga mereka di Tanah Air. Mereka semua adalah keluarga kami. Pada titik tertentu, olahraga dan futsal menjadi sesuatu yang nilainya tidak sebesar hal tersebut bagi kami,” tuturnya sambil menyeka air mata.
Fokus Menghadapi Indonesia di Partai Puncak
Meski sedang dirundung duka, Iran tetaplah kekuatan besar yang harus dihadapi oleh Timnas Indonesia. Shamsaei menegaskan bahwa satu-satunya alasan Iran mampu melangkah hingga ke final adalah karena sikap profesional para pemainnya yang mampu memisahkan kesedihan pribadi dengan tanggung jawab di lapangan.
Pertemuan antara Iran dan Indonesia di final ini menjadi sejarah baru, di mana Indonesia untuk pertama kalinya berhasil menembus partai puncak. Di sisi lain, Iran mengincar gelar kesekian kalinya untuk mengukuhkan dominasi mereka di Asia.
Laga final yang akan digelar di Indonesia Arena ini diprediksi tidak hanya akan menjadi adu taktik antara Hector Souto dan Vahid Shamsaei, tetapi juga menjadi panggung pembuktian bagi Iran untuk memberikan sedikit kegembiraan bagi rakyat mereka yang sedang berduka melalui prestasi olahraga.
Sumber: Bola.com
Baca Juga:
Wow! Negara Komunis Ini Naikkan Tunjangan Guru Sampai 70%
Tren Baru! Brave Pink Hero Green Ramai Dipakai di Medsos
Saksikan berita lainnya:






