Jurnal Pelopor – Di tengah gejolak global dan perang dagang, Arthur B. Laffer, ekonom senior AS dan mantan penasihat Presiden Ronald Reagan, menyampaikan resep khusus bagi Indonesia untuk keluar dari jebakan negara berkembang.
Fondasi Supply-Side Economics
Laffer menegaskan: pertumbuhan tak bisa hanya dari pembagian kekayaan, tapi harus didorong oleh produktivitas dan insentif ekonomi. Lewat teori Laffer Curve yang ia cetuskan, ia mengingatkan bahwa tarif pajak terlalu tinggi justru bisa menurunkan penerimaan negara.
“Pajak yang salah kelola bisa jadi bumerang,” ujarnya.
Belajar dari Sukses Reagan & Gagalnya Kansas
Kebijakan Reagan yang didasarkan pada teori Laffer berhasil menciptakan 20 juta lapangan kerja baru dan menaikkan Produk Nasional Bruto sebesar 26%. Namun, ia juga mengakui kegagalan di Kansas (2012–2013) karena reformasi tanpa perhitungan matang.
Lima Pilar Reformasi untuk RI
Menurut Laffer, Indonesia harus melakukan reformasi di lima sektor utama:
- Perpajakan: buat tarif flat dan rendah, hindari sistem berlapis.
- Belanja Pemerintah: fokus ke belanja produktif.
- Kebijakan Moneter: jaga stabilitas dan suku bunga bersaing.
- Regulasi: sederhanakan aturan dan beri ruang pada swasta.
- Perdagangan: manfaatkan pembukaan pasar global.
Kritik terhadap Kebijakan Cukai Tembakau
Ia menyoroti bahwa kenaikan cukai rokok justru memicu peredaran rokok ilegal. Tarif yang terlalu tinggi hanya mempersempit penerimaan negara. Ia menyarankan agar pemerintah beralih ke sistem pajak spesifik dan menghindari tarif yang mencekik pasar legal.
Kepercayaan Publik Kunci Kesuksesan Pajak
Laffer menegaskan bahwa orang akan patuh bayar pajak jika percaya bahwa uangnya dikelola dengan benar. Tanpa transparansi, mereka akan merasa “dirampok”.
Dukungan atas Prabowo dan Deregulasi
Ia mendukung langkah Presiden Prabowo yang melonggarkan aturan TKDN demi menarik investasi. Ia juga mendorong privatisasi BUMN agar lebih efisien dan tak disetir kepentingan politik.
Peluang Indonesia di Tengah Perdagangan Global
Dengan meredanya tensi dagang AS-China, Laffer melihat peluang emas bagi Indonesia untuk memperluas pasar ekspor dan menjadi pusat manufaktur regional. Penurunan tarif antara dua raksasa ekonomi menjadi sinyal positif bagi negara berkembang.
Pesan Terakhir: Naikkan Semua Kapal
Menjawab kekhawatiran soal ketimpangan, Laffer mengutip prinsip klasiknya:
“Tujuan kita bukan memiskinkan yang kaya, tapi menciptakan pekerjaan produktif untuk yang miskin. Naikkan semua kapal dengan pasang naik.”
Indonesia Bisa Kaya, Asal Mau Berubah
Laffer menutup wawancaranya dengan pesan tajam:
“Indonesia bisa sekaya Amerika. Tapi jangan tiru Amerika saat sudah kaya — tirulah ketika belum punya pajak penghasilan.”
Sumber: CNBC Indonesia
Baca Juga:
Singonoyo Cup Meledak! Legenda Persibo Turun Gunung
DPP BKPRMI Dorong Pemerintah Lebih Perhatikan Kesejahteraan Guru Ngaji
DPP BKPRMI Dorong Pemerintah Lebih Perhatikan Kesejahteraan Guru Ngaji
Saksikan berita lainnya:
Demo Besar Tolak Revisi UU TNI: Apa Dampaknya bagi Demokrasi Indonesia?







