Jurnal Pelopor — Harga Bitcoin kembali tergelincir dan sempat menembus ke bawah level psikologis USD 78.000 pada akhir pekan ini. Penurunan tersebut terjadi di tengah gejolak pasar global, dipicu kombinasi anjloknya harga perak serta dinamika politik-ekonomi Amerika Serikat terkait penunjukan calon Ketua Federal Reserve (The Fed). Situasi ini membuat pasar kripto kembali berada dalam tekanan setelah sempat menunjukkan tanda pemulihan di awal tahun.
Bitcoin dan Altcoin Ikut Tertekan
Tekanan tidak hanya dialami Bitcoin. Sejumlah aset kripto utama lain ikut terkoreksi tajam dalam periode yang sama. Ethereum mengalami penurunan dua digit dan bergerak di kisaran USD 2.300-an, sementara Solana juga jatuh cukup dalam hingga mendekati level USD 100. Koreksi serentak ini mencerminkan sikap pasar yang semakin berhati-hati terhadap aset berisiko di tengah ketidakpastian global.
Bagi investor ritel, kondisi tersebut terasa berat. Banyak pelaku pasar masih memulihkan diri dari volatilitas tinggi sepanjang beberapa bulan terakhir. Penurunan kali ini mempertegas bahwa kripto masih sangat sensitif terhadap sentimen makro, bukan hanya isu internal industri blockchain.
Dampak Penunjukan Calon Ketua The Fed
Salah satu faktor utama yang memicu tekanan pasar adalah langkah Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menunjuk Kevin Warsh sebagai calon Ketua The Fed. Pengumuman ini langsung memicu reaksi di pasar keuangan global. Dolar AS menguat karena pelaku pasar menilai penunjukan tersebut dapat membawa arah kebijakan moneter yang lebih ketat.
Menguatnya dolar memberi tekanan tambahan bagi Bitcoin. Selama ini, Bitcoin kerap dipandang sebagai alternatif lindung nilai terhadap pelemahan mata uang fiat. Namun ketika dolar justru menguat, daya tarik Bitcoin dalam jangka pendek ikut berkurang.
Trump sendiri menilai Warsh sebagai sosok yang mampu mengembalikan disiplin kebijakan moneter.
“Kami membutuhkan kepemimpinan yang kuat dan tegas di bank sentral,” ujar Trump dalam pernyataan sebelumnya terkait arah ekonomi AS.
Efek Domino dari Kejatuhan Harga Perak
Selain faktor kebijakan moneter, anjloknya harga perak juga menjadi pemicu penting. Harga perak mencatat penurunan harian terdalam dalam beberapa dekade terakhir. Aksi jual besar-besaran di pasar logam mulia tersebut memicu gelombang kepanikan dan penyesuaian portofolio investor global.
Ketika perak, yang selama ini dianggap aset lindung nilai, mengalami kejatuhan tajam, investor cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko lain, termasuk kripto. Kondisi ini menciptakan efek domino yang memperparah tekanan jual di pasar Bitcoin dan altcoin.
Pandangan Pasar terhadap Kevin Warsh
Kevin Warsh dikenal memiliki pandangan yang relatif hawkish. Ia kerap mengkritik kebijakan moneter yang terlalu longgar dan pembesaran neraca bank sentral dalam jangka panjang. Menurutnya, kebijakan semacam itu berpotensi mendistorsi pasar dan menggerus kredibilitas bank sentral.
Pandangan ini membuat sebagian pelaku pasar memperkirakan suku bunga AS akan bertahan lebih tinggi lebih lama jika Warsh benar-benar menjabat. Ekspektasi tersebut menjadi sentimen negatif bagi aset kripto, yang selama ini diuntungkan oleh era likuiditas longgar.
Apa Artinya bagi Investor Kripto?
Koreksi Bitcoin di bawah USD 78.000 menjadi pengingat bahwa pasar kripto masih berada dalam fase yang rentan terhadap perubahan global. Meski demikian, sebagian analis menilai tekanan ini bersifat jangka pendek dan lebih dipengaruhi sentimen makro ketimbang fundamental kripto itu sendiri.
Bagi investor jangka panjang, fase volatil seperti ini kerap dianggap sebagai ujian kesabaran. Pertanyaannya kini, apakah penurunan ini hanya sekadar koreksi sementara, atau justru awal dari fase konsolidasi yang lebih panjang sebelum arah pasar kembali menemukan pijakan baru?
Baca Juga:
Wow! Negara Komunis Ini Naikkan Tunjangan Guru Sampai 70%
Tren Baru! Brave Pink Hero Green Ramai Dipakai di Medsos
Saksikan berita lainnya:







